Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Keguguran


__ADS_3

"Aaaaahhhh,"


"Aisyah!!!!"


"Mas Yoga." Lirih Aisyah dengan memegang perutnya. Sebisa mungkin ia bertumpu dengan tangannya agar tak melukai janin di kandungannya.


Sontak, semua orang yang melihat Aisyah segera menghampirinya. Air mengucur deras di dahi Yoga, mendapati darah yang mengalir di bagian bawah istrinya.


"Astaghfirullah, Aisyah darah!" Pekiknya.


"Intan cepat siapkan mobil!" Titah Haris dengan suara lantang saking paniknya.


"Baik Om."


Segera saja Yoga membawa istrinya duduk di belakang bersama dengannya dan Dewi sedangkan di depan ada Intan yang menyetir dan Haris di sampingnya.


"Sakit Mas." Cicit Aisyah menahan nyeri di perutnya.


"Tenang sayang, sebentar lagi kita sampai yah." Ucap Yoga menenangkan.


...***...


"Yoga diamlah Nak sebentar saja." Ujar Haris yang pusing melihat Yoga mondar-mandir di hadapannya.


"Bagiamana aku bisa diam Pah, di sana istriku sedang kesakitan. Begitu juga dengan anakku, bagaimana keadaannya?"


Yoga menghentikan langkahnya frustasi.


"Apapun yang kau lakukan saat ini tidak akan merubah keadaan istrimu selain doa. Setidaknya kita telah berharap dan meminta pertolongan-Nya. Sudahlah Nak, sekarang sudah masuk waktu sholat. Kita minta saja sekarang pada-Nya Nak."


Yoga menghela nafasnya.


"Benar Yoga, ada aku di sini. Kalian pergilah." Sahut Intan setuju dengan perkataan Omnya.


"Baiklah," pasrah Yoga.


Intan memperhatikan wajah Dewi yang nampak biasa saja, raut wajah khawatirnya acap kali diperlihatkan saat suaminya melihatnya. Ia pun tahu itu hanyalah kepura-puraan.


Sebenarnya apa yang kau pikirkan Tante? Kuharap kau bukanlah dalang di balik ini semua. Gumamnya dalam hati.


Tak lama kedua orang tua Melati berserta Kakaknya datang menjenguk. Semua khawatir dan cemas akan keadaan putrinya.


"Assalamu'alaikum Tante, Om." Ucap Intan sopan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Melati dan suaminya.

__ADS_1


"Nak dimana putriku? Dimana dia? Kenapa dia bisa seperti itu?" Tanya Melati beruntun dan dengan nada cemas. Fahmi yang berada di sampingnya segera memegang kedua bahu sang istri.


"Sayang satu-satu pertanyaannya dan tenanglah."


"Aisyah sedang ditangani oleh Dokter Tante, untuk kenapa bisa terjadi aku sendiri tidak tahu." Jawab Intan.


Melati menghembuskan nafasnya kasar.


"Bun, tenanglah. Kita berdoa saja dulu yah, semoga Dokter bisa menangani Aisyah." Celetuk Farah. Melati mengangguk dan duduk di samping Fahmi.


Cukup lama mereka menunggu kedatangan sang Dokter, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun keluar.


"Dokter bagaimana dengan keadaan putriku?" Tanya Melati tak sabaran.


Dokter itu nampak menghembuskan nafasnya, "Keadaan Ibunya sekarang sudah stabil dan baik-baik saja. Tapi kami mohon maaf yang sebanyak-banyaknya, janin yang berada di rahimnya tidak dapat diselamatkan."


Sontak pernyataan tersebut membuat semuanya tercengang terutama Yoga. Anak yang selama ini ia nantikan kehadirannya, telah pergi sebelum ia melihatnya. Haris yang melihatnya dengan segera menenangkan sang putra.


"A-apa?" Lirih Melati.


Dokter itu semakin menunduk, "Maaf kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi semuanya terjadi atas kehendak Tuhan, meski hal itu sulit untuk diterima."


"Apa menantuku masih bisa hamil Dok?" Tanya Dewi yang membuat Haris mendelik kan kepalanya. Bagiamana bisa istrinya bertanya demikian di saat-saat seperti ini.


Dokter itu tersenyum tipis, namun juga terlihat kesedihan di dalamnya. "Menantu anda masih bisa hamil, namun kecil kemungkinannya. Dikarenakan infeksi karena kegugurannya."


Yoga menggelengkan kepalanya, beberapa saat kemudian ia mendongakkan wajahnya. "Apa aku boleh bertemu dengan istriku Dok?"


"Tentu saja, tapi kejadian ini tentu akan membuatnya syok dan tertekan. Lebih baik jangan ungkit dahulu masalah ini, untuk sementara waktu biarkan dia beristirahat dahulu."


"Baik Dok."


Yoga terlebih dahulu memasuki ruangan tersebut disusul yang lainnya. Ia pandangi wajah lemah dan pucat istrinya, tak menunggu lama ia genggam erat tangan sang istri.


"Aish, maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Seharusnya Mas tidak terbawa emosi tadi." Lirihnya merasa bersalah dan menahan sesak di dadanya.


Flashback on


Brak!


Aisyah terlonjak kaget mendapati Mas Yoga yang membuka pintu dengan kasar. Melihat wajah suaminya saja, sudah ia ketahui pasti ada apa-apa. Namun ia tetap menyambut dengan senyum hangat seperti biasa.


"Kau sudah pulang Mas." Tuturnya lembut.


Yoga semakin geram dibuatnya, bagaimana tidak istrinya bertingkah seolah-olah tidak ada apa-apa di antara mereka.

__ADS_1


"Jelaskan apa maksudnya ini Aisyah?!" Tanya Yoga dengan menunjukkan ponselnya.


Aisyah terbelalak melihatnya, "M-mas itu semua tidaklah seperti yang kau pikirkan."


Salah satu bibir Yoga terangkat, "Cih tidak bisakah kau kreatif? Siapapun yang terciduk pasti berkilah seperti itu." Ketusnya.


"Mas," memegang lengan Yoga lembut.


"Bukankah seorang istri tidak boleh menerima tamu tanpa izin suaminya? Lalu kenapa bahkan mereka bermain kemari? Dan tadi, aku juga melihat kaki Mama yang terkilir. Itu ulahmu kan?"


"Tidak Mas, maaf tiba-tiba saja aku sangat menyukai anak kecil yang ada di gendongan Mas Ilham (salah satu tetangganya yang berstatus duda anak satu). Maka dari itu aku mengajaknya untuk bermain sebentar, lagipula ada Mama juga Mas di rumah. Aku hanya suntuk setiap hari berada di rumah. Mungkin anak kita yang menginginkannya Mas, salahkah aku berbuat itu?"


Amarah Yoga masih belum surut, "Lalu bagaimana kau menjelaskan ini?" Menunjukkan sebuah foto yang menangkap gambar Aisyah yang terlihat berada di pelukan Ilham.


"Itu Mas Ilham hanya membantuku agar aku tidak jatuh, aku tidak sengaja menginjak mainan milik putrinya Mas."


"Mas? Kau memanggilnya Mas? Apa kau sadar dengan perkataanmu? Itu sudah menyakiti hatiku Aisyah! Dia berniat menolongmu, tapi tidak dengan Mamaku. Bahkan saat ini, Mama sedikit susah untuk berjalan. Aku yang seumur-umur sama sekali tak pernah membuatnya kesusahan Aisyah!"


Aisyah menundukkan kepalanya, baru pertama kali ia melihat Mas Yoga seperti itu.


"Mungkin jika dia pria beristri mungkin Mas masih bisa mentolerirnya, tapi dia seorang duda Aish. Sekarang coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, bagaimana jika aku yang berdekatan dengan wanita lain?"


Sontak Aisyah mengangkat wajahnya dan memandang sendu Mas Yoga. "Mas," lirihnya dengan menggeleng pelan.


Melihat wajah istrinya, seketika membuat Yoga tersadar. Ia menarik rambutnya ke belakang. Dengan langkah pelan, ia hendak berjalan keluar dari kamar tersebut. Namun dengan cepat, Aisyah menahannya.


"Mas maafkan aku," cicit Aisyah.


Yoga memalingkan wajahnya dan melepas kasar cekalan tersebut. Bukan karena apa, ia hanya ingin menghindari pertengkaran lebih lanjut. Biarlah keadaan berangsur mereda dengan sendirinya, hingga nantinya mereka dapat menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.


Namun tidak dengan Aisyah, ia tetap kekeh untuk menjelaskan kekeliruan suaminya. Ia hanya tak ingin masalahnya berlangsung lama. Karena, ia tidak bisa melihat wajah dingin Mas Yoga.


Fokus mengejar langkah Yoga, membuat Aisyah kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri. Hingga ketika Yoga pergi menuju ruang kerjanya, Aisyah justru melangkah ke samping. Arah tangga.


"Aaaaahhhh,"


"Aisyah!"


"Mas Yoga."


Flashback off


____________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih ;)


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2