Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Kampung Halaman Zara 2


__ADS_3

"Aisyah." Kepala Aisyah terangkat dan mengendarai pandangannya melihat sekitar.


"Kita dimana Kak?" Masih mengumpulkan nyawanya, sembari meregangkan ototnya yang terasa sedikit pegal karena terus duduk dalam mobil.


Aidan dan istrinya tersenyum. "Kita sudah sampai Aish." Jawab Zara lembut.


"Benarkah?" Tanya Aisyah terlonjak keget, matanya seketika membulat sempurna. Tak sabaran, ia buka pintu mobilnya dan turun.


"Hemmm." Perasannya begitu sejuk dan damai. Ia hirup udara sebanyak-banyaknya. Apalagi sekarang matahari sudah mulai memunculkan pesonanya dengan perlahan.


Kicauan burung, belalang dan entahlah masih banyak lagi seolah dengan senang menyambut mereka. Meski masih pagi, ternyata sudah lumayan banyak orang berlalu lalang. Bahkan mereka dengan ramah menyapa Aisyah, Aidan dan tentunya Zaha yang sudah sangat mereka kenal.


Sejenak, rombongan petani yang dengan semangat yang menggebu ingin pergi ke tempat mereka mengais rezeki menegur salah seorang yang mereka kenal.


"Ini Zarakah? MasyaAllah ayune." Puji salah satu Ibu dan dengan gemas menyentuh dagu Zara.


Zara yang disebut namanya tersenyum malu. "Eh si Ibu bisa aja. Bagaimana kabarnya Bu?" Tanya Zara ramah bahkan mencium punggung tangan yang lebih tua darinya. Sedangkan Aidan ia membungkukkan tubuhnya sedikit. Melihat tingkah Zara, Aisyah pun ikut tersenyum dan mengikuti setiap yang dilakukan Zara.


"Alhamdulillah baik, kamu dari kota ojo ngasi ilang jowone (jangan sampai hilang jawanya) loh Nduk." Sahut Ibu, disusul kekehan yang lain.


"Alhamdulillah, nggih mboten to Bu." (Ya tidaklah Bu)


"Syukurlah, iki Kang Masmu toh?" Tanya si Ibu yang lain menunjuk ke arah Aidan.


"Nggih Bu, namine (namanya) Mas Aidan. Nah sing niki (yang ini)", menunjukkan Aisyah dengan kelima jarinya "Namine (namanya) Aisyah, rayine (adiknya) Mas Aidan."


Aisyah yang merasa namanya disebut menundukkan kepalanya dan tersenyum. "Assalamu'alaikum Bu." Begitupun dengan Aidan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka serempak.


"Oalah, kok bagus mbi ayu-ayu tenan Yo Nduk."


Zara semakin melengkungkan senyumnya. "Nggih niki Bu,"


"Yo wes, Ibu disitan yo. Wes awan" (Ya sudah, Ibu duluan ya. Sudah siang).


"Nggih Bu, monggo." (Iya Bu, silahkan).


"Orang sini ramah-ramah banget ya Kak." Celetuk Aisyah memperhatikan rombongan tadi yang sudah lumayan jauh dari mereka.


"Iya Ai, makanya Insyaallah kamu bakalan senang di sini." Sahut Zara. Zara dan Aidan pun menunjukkan kediaman orang tua Zara. Terlihat sederhana namun klasik khas rumah Jawa dan sedikit luas.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


"Assalamu'alaikum." Ucap Zara.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab seseorang terdengar mendekat ke arah mereka.


Ceklek.


"Oalah toh Nduk, kamu toh." Ujar girang Ibu Zara.


"Hehe iya Bu, Zara niki." Sahut Zara tersenyum dan mencium punggung tangan sang Ibu.


"Kados pundi pawartosipun Bu?" (Bagaimana kabarnya Bu). Tanya Zara.


"Alhamdulillah sae-sae." (Alhamdulillah, baik-baik)


Sedangkan Aidan apalagi Aisyah hanya terdiam sembari meringis. Maklum mereka tidak mengerti bahasa yang digunakan Zara dengan orang-orang di sini.


Manik mata Maryanti, Ibunda Zara akhirnya mendapati kehadiran Aidan dan Aisyah. Aidan yang menyadari segera tersenyum dan meraih punggung tangan Ibu mertuanya. Diikuti oleh Aisyah.


"Nak Aidan?"


"Iya Bu, ini Aidan. Bagaimana kabar Ibu?" Tanya Aidan ramah.


"Iya Bu."


"Ayune, ayo sini lenggah (duduk) dulu."


Untuk Aidan dan Aisyah mereka langsung dipersilahkan duduk terlebih dahulu. Sedangkan Zara ia langsung masuk menyiapkan makanan untuk suami dan adik ipar.


"Pae! Niki putrimu lan mantumu pun dugi." (Ini anak dan menantumu sudah tiba). Seru Maryanti pada suaminya.


"Tenan Bu?" (Beneran Bu?)


"Enggih to Mas. Cobi diperiksani teng jawi." (Iya Mas, coba lihat di depan)


Banyu langsung mencuci tangannya yang sebelumnya sedang membersihkan tutut . Belum lama memang ia baru pulang dari sawah dengan menenteng seember tutut.


Tap, tap, tap.


Mata Aidan yang langsung mendapati Banyu menghampirinya pun langsung berdiri dan menggapai tangan sang mertua.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Pae,"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Banyu dengan senyumannya.


...***...


"Kenapa kamu kemari?! Masih punya muka kamu pergi ke sini?" Tanya Haris sinis menatap anaknya Yoga.


Yoga perlahan mengangkat wajahnya. "Maaf Pah, Yoga tahu Yoga telah mengecewakan Papa. Tapi apa iya Papa tidak mau memaafkan kesalahan Yoga?"


Haris terdiam, wajar bila ia marah dengan anaknya itu. Namun berlarut-larut pun tidak baik. Ia menghembuskan nafas kasar dan memikirkan lama ucapan Yoga. "Baik, Papa maafkan kamu sekarang. Tapi ingat jangan sekali-kali kamu ulangi perbuatan kamu itu."


Perkataan yang dilontarkan oleh Haris membuat Yoga tersenyum lebar. Dengan senang ia cium punggung tangan Ayahnya dan merengkuh tubuh itu.


"Terimakasih Pah, kalian adalah orang tua terbaik Yoga." Ujar Yoga dengan menitikkan air mata. Sudah lama sekali ia merasa gelisah lantaran memikirkan kesalahan yang ja perbuat untuk mereka. Pun hubungan mereka yang masih renggang.


"Iya Nak, setelah ini bertaubatlah. Perbaiki dirimu dan hidupmu karena sebentar lagi anakmu hadir dalam dunia ini. Kalian akan menjadi madrasah pertama untuknya."


"Baik Pah terimakasih."


Kemudian Yoga beralih memeluk Dewi Ibunya, wanita yang amat ia cintai sekarang. Dan yang kedua tetap Aisyah, sampai sekarang ia masih tidak mampu menggeser nama itu di hatinya.


Sejenak Yoga terdiam sembari menunduk, ia tampak ragu ingin mengutarakan sesuatu. Dewi yang melihatnya pun menegur.


"Ada apa Nak? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja." Haris turut menatap Yoga intens.


"Jadi begini Mah, sebenarnya Yoga kemari juga membawa Jihan istri Yoga. Dia sekarang ada di mobil." Lirihnya.


"Apa?!" Seru Haris dan Dewi secara bersamaan. Keterkejutan mereka benar-benar tak dapat disembunyikan.


"Jadi, kamu kemari hanya karena ingin membawa dia ke rumah ini? Begitu? Ya Allah Yoga, Papa pikir kamu sudah benar-benar ingin berubah dan tulus meminta maaf pada kami." Dengan gusar Haris mengusap wajahnya.


"B-bukan begitu Pah. Yoga memang tulus meminta maaf pada kalian, Yoga ingin kembali ke rumah ini ingin lebih berbakti pada kalian. Tapi Yoga juga tidak bisa meninggalkan Jihan sendiri di rumah. Karena dia sedang hamil, ku mohon Pah terima kami layaknya kalian menerima aku dan Aisyah dulu. Bagaimana pun Jihan juga sedang mengandung anakku, yang berarti anakku juga berarti cucu kalian. Darah kalian mengalir dalam tubuhnya."


Haris dan Dewi saling memandang, gurat kecewa dari wajah mereka jelas terlihat. "Terserah kau saja jika ingin tinggal di sini, yang pasti kami masih butuh waktu untuk menerima Jihan." Jawab Haris pasrah.


Yoga sedikit lega dan tersenyum. "Terimakasih Pah, aku berjanji aku tidak akan mengubah diriku menjadi lebih baik lagi."


Mereka berdua hanya mengangguk.


________________________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)


__ADS_2