
"A-anna siapa Kak?" Getaran suara dari Jihan tak dapat ia kendalikan.
Ia dapati wajah Yoga yang menegang namun berusaha dengan cepat cepat ia sembunyikan. Yoga melempar handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya. Melihat sang istri yang tidak menyiapkan pakainya, ia memilih untuk mengambilnya sendiri di almari.
"Kak, ku mohon jawablah. Aku istrimu, apa mungkin ada wanita lain dalam hidupmu? Bahkan aku sedang mengandung anakmu." Cicit Jihan, nafasnya seolah tercekat.
Yoga memutar bole malas, ia sedikit kasar menutup pintu almari.
"Dia Anna, wanita yang bertemu denganku dari Minggu yang lalu. Dia sangat cantik dan dewasa. Aku pun begitu puas dengan pelayanannya-"
"Cukup Kak!" Kalimat Yoga terpotong kala suara Jihan seolah memenuhi ruangan ini. Yoga berjongkok menyamai tinggi badan Jihan.
"Lalu kenapa Jihan? Bukankah dari dulu juga kau sudah terbiasa tidak menjadi satu-satunya dalam hidupku. Saat aku masih bersama Aisyah aku pun masih dapat berhubungan denganmu. Kau pun menerima waktuku yang hanya sedikit untukmu.
Lalu mengapa sekarang tidak boleh? Hanya satu wanita, tidak usah menjadi sok paling tersakiti seperti itu. Bahkan dari dulu pun kau sama sekali tak merasa bersalah kala kau berhubungan denganku meski tahu aku pria beristri.
Kau juga tidak perlu khawatir aku meninggalkanmu, ingat ada bayiku yang sedang kau kandung. Kau juga tidak memiliki siapapun di dunia ini. Hanya pamanmu yang ****g*** itu." Terang Yoga tanpa merasa bersalah.
"Kak, bagaimana pun aku istrimu sekarang. Bahkan aku sedang mengandung anakmu, tidakkah kau lihat walau sehari betapa aku harus begitu sabar mengurus rumah ini dan bayiku yang masih belum lahir?
Kau tahu sendiri apa dampak dari perbuatanmu dulu, tidak bisakah kau berubah dan memulainya denganku?" Lirih Jihan.
"Kau jelek dan gendut semenjak hamil. Kau juga tidak bisa memuaskan aku, tidak seperti Aisyah dulu. Kulitnya tetap segar terawat dan cantik meski hamil. Membuatku tak bosan menatapnya." Balas Yoga santai.
"Terawat? Kau sendiri apa pernah melihatku dan memberiku uang. Hari-hari yang kulakukan hanyalah diberi uang oleh Mama untuk kebutuhan rumah ini, bahkan untuk membeli susu pun jika ada lebihan dari uang itu.
Jujur saja uangmu hanya untuk menghabiskan waktu bersama wanita itu kan? Kak! Ingat tanggung jawabmu adalah aku dan anakmu. Setidaknya ingat Ibumu yang sedang mengandungmu dulu. Apakah kau akan diam saja melihat seorang Ibu hamil seperti ini?"
Yoga terdiam termangu. Sedikit memang ia sadari kesalahannya.
"Pernahkah kau mencintaiku Kak?" Cicit Jihan, dalam hati berharap untuk tidak mendapatkan jawaban yang mengecewakan. Meski pikirannya tak sinkron karena kemungkinan besar yang ada.
Suaminya itu nampak menghela nafas panjang. "Bahkan sampai aku bertemu dengan Anna, nama Aisyah tak tergeser sedikit pun dari tempatnya."
__ADS_1
Jihan memejamkan matanya, pernyataan dari mulut Yoga sangat mengoyak hatinya.
"Terimakasih atas semua waktunya, meski tanpa cinta aku bahagia kau pernah membersamaiku dan membuatku nyaman. Merasakan kebahagiaan yang sangat aku impikan dari dulu. Kuharap kedepannya ada ruang sedikit saja untukku bersemayam di hatimu." Ucap Jihan pasrah dan berusaha untuk beranjak dengan menjangkau sesuatu untuk pegangan.
Ia meninggalkan ruangan itu kala terdengar suara Mama Dewi yang memanggil namamu.
Sedangkan Yoga ia terdiam dan hatinya kembali berdenyut sakit kala mengingat Aisyah. Meski mereka sudah berpisah lama, mengingat hubungannya dengan Anna akhir-akhir ini rasa bersalah kembali bersarang pada Aisyah. Seolah ia merasa selingkuh untuk kesekian kalinya.
...***...
"Mbak Zara mau ke mana?" Tanya Aisyah ketika melihat Zara yang tengah bersiap-siap.
"Pergi ke Masjid Ai, nanti malam kan sudah mulai tarawih. Biasanya semua warga sekitar sini akan melakukan kerja bakti di area Masjid. Seperti bersih-bersih dan memperbaiki kerusakan Masjid untuk para lelaki dan mencuci sajadah, mukena dan lain-lain dilakukan oleh para wanita. Yah meskipun belum ada pengumuman dari Menteri Agama, tidak ada salah toh kalau siap-siap." Terang Zara menjelaskan.
"Oalah Aisyah ikut ya Mbak." Dengan antusias Aisyah berharap.
Zara tersenyum, "Tentu saja, kita tunggu dulu abangmu itu ya."
--
"Wah, ramai sekali Mbak." Celetuk Aisyah memperhatikan rombongan orang yang begitu antusias menyambut ramadhan.
"Iya Dek, Alhamdulillah warga sekitar sini sangat gembira menyambut bulan penuh berkah ini. Ibaratnya ramadhan adalah tamu agung yang sangat mereka nanti-nantikan. Bahkan para ulama dan orang-orang shaleh terdahulu berdoa selama enam bulan agar mereka menjumpai bulan ramadhan.
Nikmatnya ibadah serta bermunajat sangat disayangkan sekali bagi orang-orang yang merasa biasa-biasa saja bahkan menyepelekan bulan suci ini. Dengan adanya kerja bakti inilah, diharapkan sang Khalik tahu bagaimana cara kita menghampiri bulan ramadhan tahun ini." Ujar Zara panjang lebar. Lagi-lagi Aisyah mengangguk.
"Ya sudah ayo kita masuk."
Satir pemisah antara perempuan dan lelaki telah dibuka dan akan segera diambil untuk dicuci. Tak sengaja netra Ikfi mendapati Aisyah yang memasuki Masjid. Sejenak ia terpana, namun secepatnya ia gelengkan kepalanya.
"Ma fi qalbi ghairullah" (Tidak ada di dalam hatiku selain Allah).
*Ya Allah, hamba mohon ampun kala dunia membuat hamba berpaling bahkan hal yang seharusnya hamba persembahkan untukmu malah hamba arahkan untuk urusan dunia dan urusan hamba sendiri.
__ADS_1
Engkaulah Maha pembolak-balik hati manusia, karena itu teguhkanlah hati hamba untuk selalu berada dalam jalan ridho-Mu. Dan buatlah hamba menjadi diantara orang-orang yang mendapat ridho-Mu*. Ucap Ikfi dalam hatinya dan memalingkan wajahnya dari Aisyah.
"Mbak ini mau dibawa kemana ya sajadah karpetnya?" Tanya Aisyah pada Zara. Ia tidak menyadari bahwa tadi ada seorang lelaki yang sempat memperhatikan dirinya.
"Di luar saja dulu, nanti sama para laki-laki di sini akan di bawa ke sungai. Biasanya juga sudah ada beberapa orang di sana. Setelah ini nanti kita ke lantai atas saja, sepertinya sudah disapu tinggal dipel." Jawab Zara.
"Ouh baik Mbak." Balas Aisyah kemudian membantu perempuan lain yang sedang bekerja.
Untunglah setelahnya Aisyah telah keluar dengan yang lainnya. Ikfi pun menghela nafas lega.
"Ikfi!" Seru salah seorang lelaki tatkala melihat Ikfi yang di punggungnya terdapat karpet sajadah.
"Eh iya, Aziz ada apa?" Tanya Ikfi dengan sedikit meregangkan otot-ototnya.
"Piye kabarmu Le?" (Bagaimana kabarmu?)
"Alhamdulillah sae-sae. Koe dewek?" (Alhamdulillah baik-baik, kau sendiri?)
"Podo ro koe, Alhamdulillah." (Sama sepertimu, Alhamdulillah)
"Tesih sibuk toh? Ngko jo lali mampir yo." (Masih sibukkah? Nanti jangan lupa mampir ya) Lanjut Aziz.
"Iyo-iyo, Insyallah." Jawab Ikfi.
Aziz pun mengangguk dan melanjutkan perjalanannya menuju kekediamannya. Sedangkan Ikfi pun melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
_____________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih :)
Follow ig: @nick_mlsft
__ADS_1