
"Berapa usia kandungan kamu Ai?" Tanya Dewi pada menantunya yang tengah beberes dapur.
"Tujuh Minggu Mah." Jawab Aisyah sopan.
"Kamu yakin kan anak itu anak Yoga?"
Sontak pertanyaan yang dilontarkan oleh mertuanya membuat Aisyah terbelalak dan menutup mulutnya. "Astaghfirullah Mah, apa maksud Mama. Bahkan untuk melirik pria lain saja Aish berusaha untuk menghindari hal tersebut." Lirih Aisyah.
"Mama hanya bertanya Ai, kenapa kamu malah seperti itu?" Masih merasa tak bersalah.
Aisyah menggeleng pelan dan menatap arah lain. Hati wanita mana yang tidak sakit, jika Ibu mertuanya sendiri meragukan kehadiran makhluk yang bersemayam di rahimnya.
Sekuat mungkin Aisyah menahan laju air matanya.
"Mama itu hanya ingin merawat seorang anak yang memang benar-benar darah daging Mama." Lanjut Dewi.
Aisyah menarik nafasnya dalam-dalam. "Maaf Mah, bukan berati Aisyah kurang ajar. Jika memang Mama tidak berkenan mengharapkan cucu Mama, masih ada aku yang akan merawat, menyayangi dan mendidiknya Mah."
Dewi memutar bola malas. "Tentu saja Mama juga akan turut andil dalam mengurusnya, karena dia tidak hanya akan bersamamu saja. Beberapa hari di rumahmu dan beberapa hari di rumah ini."
Dahi Aisyah mengernyit dibuatnya, "Maksud Mama apa? Di rumahku dan di rumah ini?"
Wanita paruh baya itu berdecih, merutuki pikiran Aisyah yang menurutnya lelet.
"Kamu itu bagaimana sih Aish, sudah jelas-jelas nantinya antara kamu dan Yoga berpisah rumah. Yah artinya, setelah kamu melahirkan kamu dan Yoga harus bercerai!"
Sesaknya beban yang menghimpit dadanya kian terasa sudah di hati Aisyah. "Astagfirullah, Mah kenapa Mama berbicara seperti itu?"
"Aisyah, jangan kamu pikir akhir-akhir ini Mama bersikap baik padamu kamu artikan bahwa Mama telah menerimamu. Semua itu, tidak lebih Mama lakukan hanya untuk menjaga kandunganmu.
Bukankah sudah Mama katakan dari awal bahwa Mama tidak pernah menerimamu dan sampai kapanpun itu. Jadi jangan pernah berharap bahwa kau akan tinggal di sini selamanya."
__ADS_1
Cintaku dengan Mas Yoga kuat, selama Mas Yoga bersamaku. Selangkah pun tak akan pernah aku mundur dari pernikahan ini.
"Mah.." cicit Aisyah.
"Tidak usah sok merasa tersakiti Aisyah, selama ini Mama sudah menanggung malu karena memiliki menantu anak haram sepertimu.
ASAL KAU TAHU AISYAH, SELAMA INI MAMA HARUS MENAHAN RASA SAKIT DAN MALU KARENA HINAAN YANG MAMA DAPATKAN DARI TEMAN-TEMAN MAMA. SUDAH CUKUP SAMPAI DI SINI, JIKA KAU MENGHORMATIKU SEBAGAI ORANG TUA SUAMIMU MAKA TURUTILAH PERMINTAANKU!"
Deg.
Jadi ternyata, selama ini Mama juga menanggung malu karena aku. Tapi bukankah pada saat acara ijab kabul dilakukan secara privat. Ya Allah, kenapa harus sesakit ini yang harus hamba rasakan.
Aisyah sudah tak dapat lagi membendung embun yang kian menganak sungai. "Mah, tapi bukankah yang menjalani ini semua adalah kita sendiri. Kita bisa hidup lebih tenang tanpa memikirkan perkataan orang lain."
"Tapi kita tidak bisa hidup tanpa orang lain Aisyah. Setiap waktu kita pasti bertemu dengan orang-orang di luaran sana. Perkataan-perkataan yang mereka ucapkan, tidak bisa Mama hindari. Tanpa permisi, lisan mereka telah menggoreskan luka di hati Mama Ai. Sebagai seorang Ibu, Mama hanya ingin yang terbaik untuk putra Mama.
Mama tahu, sebenarnya Yoga juga mengalami hal yang sama seperti Mama. Sering kali Mama melihatnya rapuh, tapi kamu tidak melihatnya. Karena Yoga yang pandai dalam menyembunyikan lukanya." Sangkal Dewi namun dengan suara lirih.
Aisyah akan berusaha sebaik mungkin menjadi seorang menantu yang baik. Mama bisa katakan apapun kesalahan Aisyah, asalkan Aisyah tetap bersama Mas Yoga Mah."
"Aisyah Mama tahu kamu wanita yang baik, tapi melihat bagaimana keadaanmu sampai sekarang Mama masih belum bisa menerima itu. Kamu wanita yang sabar Nak, tapi tidak dengan Mama.
Mama tidak sesabar itu, apalagi Mama juga sudah tua Nak. Mama hanya ingin menghabiskan hari-hari tua Mama dengan Anak serta cucu Mama dengan kebahagiaan. Kamu mencintai Yoga kan Nak? Maka dari itu, ikhlaskan dia dengan perempuan lain Nak. Jangan beri dia beban dengan perkataan orang lain di setiap harinya."
Aisyah hanya diam mematung, sembari menafsirkan segala penuturan dari Ibu mertuanya. Sedangkan Dewi ia sedikit tenang karena melepaskan unek-uneknya. Ia pun pergi meninggalkan Aisyah, ia ingin memberikan ruang untuk Aisyah memikirkan segalanya.
Jika kehadiranku di dunia ini ternyata adalah beban bagi orang-orang di sekitarku? Haruskah aku menyerah dan pergi? Keluh Aisyah dalam hatinya.
Tangan Aisyah terulur mengusap perutnya sendiri, dengan cepat ia menggeleng. "Astaghfirullah Aisyah tidak, kamu tidak boleh seperti itu. Anakmu membutuhkanmu, kau tidak boleh lemah dan menyerah. Tidak." Gumamnya.
Berkali-kali kalimat penyesalan terhadap Tuhannya, terucap dari bibir manisnya. Air matanya tak luput menemaninya dalam suasana itu.
__ADS_1
...***...
Banyak sekali drama yang dibuat oleh bumil hingga membuat Yoga kewalahan. Apalagi Yoga selaku suami juga mengalami morning sickness. Namun ia tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena ia sangat tahu bagaimana keadaan Aisyah. Apa yang ia alami, tidak ada apa-apanya dibanding dengan Aisyah.
Aisyah memang sengaja melakukan itu, karena ia ingin menikmati waktu kebersamaan dengan suaminya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa perbincangan ia dengan Mama Dewi kala itu terus menghantui pikirannya.
Sampai saat ini, ia tak pernah berubah di depan suaminya. Ia hanya memendam semuanya sendiri. Hatinya dilanda kebimbangan apa langkah yang akan ia ambil nantinya.
Haris menggelengkan kepalanya sembari menahan senyum melihat keadaan Yoga. Bagaimana tidak, pagi-pagi ini penampilan Yoga layaknya siswa cupu di masa sekolah. rambutnya lepek karena terlalu banyak minyak yang dituangkan oleh Aisyah, kacamata yang dengan percaya dirinya bertengger di hidung mancungnya, serta tubuhnya yang bau sabun cuci.
"Kau masih beruntung memiliki istri seperti Aisyah, istrimu itu tidaklah sekejam Mamamu Ga," Celetuk Haris melihat Yoga yang mendaratkan tubuhnya di sofa hadapannya.
Yah, hari ini adalah hari Minggu. Jadi Yoga bisa sepuasnya memiliki waktu bersama sang istri.
"Benarkah? Tapi tetap saja Pah. Semua keinginannya benar-benar membuatku pusing."
"Semua itu tidak akan kau rasakan jika telah melihat senyum di wajah istrimu. Karena kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh wanita yang kau cintai, kau juga akan merasakannya. Begitu pun sebaliknya, ketika dia merasa sedih."
"Wah, Papa sudah berumur seperti ini. Masih juga bisa mengucap cinta ya." Kekeh Yoga memandang Papanya.
"Kenapa tidak, semakin tambah umur justru Papa semakin bahagia. Karena perhatian Mamamu itu hanya akan dilimpahkan kepada Ayah, tidak seperti awal-awal kau ada. Saat itu Ayah rasanya ingin sekali mengutukmu, karena telah mencuri perhatian Mama."
"Ouh seperti itukah?" Ledek Yoga.
Haris hanya memutar malas dan kembali fokus pada koran yang tadi sempat ia baca.
________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
__ADS_1
Ig: @nick_mlsft