Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Tamparan untuk pertama kalinya


__ADS_3

"Jihan tolong-"


Deg.


Yoga termangu, sendi-sendi yang ada pada tubuhnya seolah lepas dari tempatnya. Sungguh semua yang ada di hadapannya kini adalah diluar perkiraannya.


Di depannya kini sedang duduk perempuan yang sangat ia cintai dan perempuan yang menjadi ibu dari anaknya.


"A-aisyah..." Lirihnya. Aisyah tersenyum, beranjak dari duduk dan menyalami tangan Yoga. Namun ia tak menciumnya pun ketika Yoga ingin mendaratkan kecupan di keningnya ia menghindar.


"Assalamu'alaikum Mas, apa kabar?" Sangat tenang, tapi Yoga dapat melihat adanya luka dan kekecewaan yang dalam dari tatapan Aisyah.


"Wa'alaikumussalam Aisyah." Jawab Yoga terbata, tiba-tiba kerongkongannya kering bukan main. Jihan hanya memperhatikan keduanya, Yoga pun sama sekali tak menatap kearahnya.


"Kau tidak ingin duduk santai dengan istrimu? Kau tidak rindu denganku?"


"T-tentu saja aku sangat merindukanmu sayang." Saat Yoga ingin menghambur ke pelukan Aisyah, wanita itu langsung duduk dengan melipat kakinya.


"Duduklah." Ucapnya dingin.


Yoga masih berada di gelombang was-was bahkan semakin terombang-ambing di dalamnya mendapati setiap gerak-gerik istri pertamanya.


Ia duduk di samping Aisyah dan terus menatap Aisyah. Jihan merasakan sakit karena melihat betapa besar cinta Yoga pada Aisyah, namun ia tidak ingin melakukan apapun. Toh, ini juga salahnya.


"Jadi bagaimana?" Datar tanpa menoleh kedua manusia di sekitarnya. Namun pertanyaannya tentu ia tujukan untuk sang suami.


Keringat seketika dengan bebas meluncur ke setiap kulit Yoga, tubuhnya menegang, kerongkongannya tak terlalu mampu untuk mengeluarkan suara.


Sudah sekitar setengah jam keheningan masih mendominasi pada situasi saat ini. Aisyah mengangkat satu alisnya, masih bersikap tenang menatap Yoga bergantian dengan Jihan.


"Ku tidak ingin menjelaskan sesuatu?" Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Memang seharusnya aku tidak ada di sini, maaf aku telah mengganggu kalian. Oh ya, aku lupa selamat atas pernikahan kalian. Semoga kebahagiaan terus mendampingi kalian."

__ADS_1


Deg. Memang sudah Yoga duga bahwa Aisyah telah mengetahui semuanya. Namun, entah mengapa hatinya semakin berdenyut sakit mendengar penuturan dari bibir Aisyah.


"Aisyah aku tidak pernah ber-"


"Cukup!" Aisyah mengangkat satu tangannya mengehentikan Yoga yang sudah berusaha untuk menjelaskan semuanya.


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk berbicara tadi, tapi apa? Kau hanya diam dan menunduk. Sekarang biarkan aku berbicara." Sambung Aisyah tegas.


"Kau tahu dengan apa perubahan hidupku saat aku memutuskan untuk menjadi istrimu? Aku abdikan hidupku hanya padamu, ku serahkan semua kepercayaanku padamu, seluruh hidupku hanya aku tujukan untukmu Mas.


Bahkan meski Ibumu..." Aisyah tak mampu menjelaskan, selain karena sakit saat mengingatnya ia pun tidak ingin menerangkan perlakuan buruk Ibu mertuanya. Sesaat ia pejamkan matanya dan tarik nafasnya dalam-dalam.


"Kau sendiri tahu bagaimana perlakuan Ibumu padaku Mas. Bahkan tetangga kita pun tak luput membuatku terpuruk dengan lidah mereka. Tapi aku tetap memilih bertahan, tidak ada yang lebih utama dari belahan jiwaku." Yoga menatap nanar wajah istri tercinta.


"Ya Mas, kau adalah belahan jiwaku. Seseorang yang selalu menemaniku kala terpuruk, seseorang yang bersedia menampung kepalaku untuk bersandar di pundaknya, seseorang yang dengan jemarinya menghapus setiap lelehan yang mengalir dari mataku.


Seseorang yang dengan sikap lemah lembutnya mampu membuatku luluh, seseorang yang menggenggam dan menarik erat tanganku kala aku terjatuh, seseorang suara halusnya menggetarkan jiwaku. Seseorang yang aku harapkan dapat menempuh getah maupun madu yang telah suguhkan oleh dunia.


Namun tidak pernahkah kau ingat bagaimana dengan lidahmu kau yakinkan aku untuk mendampingimu?"


Yoga memejamkan matanya.


Sebagaimana kau menerima pria yang tidak sempurna ini untuk menjadi pendamping hidupmu. Maka aku pun akan menerimamu apa adanya Aish. Hidup bukanlah tentang sempurna, namun bagaimana cara kita menjalaninya selama ikatan itu berlangsung.


Insyaallah dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki masing-masing, kisah yang akan kita buat ini menjadi sangat indah. Tangan ini tak akan aku biarkan renggang sedikit pun bilamana ada kerikil menyapa, belati mengoyak, bahkan badai panah bertamu. Sampai bumi menerima jasad kita dan mengabadikan kisah luar biasa ini. Selama napas masih mengiringi hidupku, maka hanya ada Aisyah di hidup Yoga.


"Aisyah perasaanku padamu sama sekali tidak pernah berubah bahkan berkurang Aisyah. Kumohon beri aku-"


Aisyah tersenyum miris, "Lihatlah siapa dia? Bahkan sudah ada janin di antara kalian. Lalu, bagaimana dengan kisah Yoga dan Aisyah? Yang ada hanyalah bagiamana Jihan memandikan dan mempersiapkan kebutuhan anak Yoga serta Yoga yang meminta untuk dipasangkan dasinya.


Hanya itu Mas!" Teriak Aisyah frustasi. Buih-buih yang telah memupuk kini mengalir dengan derasnya. Yoga segera meraih tubuh Aisyah, namun dengan cepat Aisyah menghindar dan berdiri.

__ADS_1


"Dengar, jangan bangga telah berhasil merebut milik orang lain. Ingat banyak wanita diluaran sana yang memiliki skil mencuri lebih baik darimu. Nikmati barang curianmu ini sepuas kau mau, tapi ingat di atas j***ng masih ada ja**ng!!!" Tuding Aisyah dengan telunjuknya ke arah wajah Jihan.


Deg.


Satu tetes air mata Jihan akhirnya luruh. Ia menggeleng pelan namun tubuhnya seolah lemas.


Tidak, Yoga ku tidak akan pernah berpaling. Dia rela meninggalkan istrinya demi aku, akulah yang pertama Yoga kunjungi ketika ia lelah. Tidak mungkin, tapi...


Mengapa dengan hatiku? Mengapa begitu sakit, sebelumnya aku memang pernah dikatakan seperti itu oleh istri pria tua itu. Tapi, mengapa ini sakit sekali. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Yoga hanya milikku.


Lihat meski Yoga sangat mencintai Aisyah, namun ia rela berpaling padaku. Akulah pemilik hati Yoga tertinggi, t-tidak mungkun Yogaku berpaling. Ia, tidak ada ****** dari belahan dunia manapun yang dapat merebutnya dariku.


Yoga tidak mempedulikan Jihan yang termangu oleh ucapan Aisyah, dengan langkah tergesa ia kejar sang istri pertama yang telah pergi dengan membawa luka yang telah ia berikan.


Brakk. Pintu terbuka dengan kasar.


Brak. Lagi-lagi sebuah pintu dibuka dengan kasar yang ternyata adalah lemari. Aisyah mengambil dan melemparkan pakaiannya acak, tidak peduli sudah seberapa kacau kamar yang ia tempati dengan Yoga selama ini.


Hap. Yoga tahan tangan Aisyah yang tak berhenti mengambil pakaiannya. "Aisyah kumohon tenanglah, kita bisa bicarakan ini baik-baik."


Aisyah tak menggubris, ia hempaskan kuat-kuat tangan Yoga dan kembali melanjutkan utusannya. Yoga tak mau kalah, ia dekap erat-erat yang sedang terguncang batinnya itu.


Tentu saja Aisyah memberontak.


Plak. Untuk pertama kalinya Aisyah melayangkan sebuah tamparan untuk suaminya.


________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote


Terimakasih ;)

__ADS_1


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2