Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Belanja Bersama


__ADS_3

"Oh ya mulai nanti malam kita tarawih, Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga pada Ramadhan tahun ini. Bismillahirrahmanirrahim mempertebal iman dan perbanyak amal." Celetuk Zara menghampiri Aisyah yang tengah fokus di depan laptopnya.


Aisyah pun mendongakkan wajahnya dan tersenyum kala melihat Zara yang membawakannya secangkir kopi untuknya. "Repot-repot, tapi terimakasih ya Mbak."


Zara mengangguk, ia sedikit melongokkan kepalanya ke arah laptop. "Kau sedang apa?"


"Ah tidak, hanya sedang mencari-cari informasi tentang beasiswa kuliah. Kemarin aku sudah berbicara dengan Hanum, dan ternyata ia mau. Jadilah, aku mencarikannya terlebih dahulu, aku menginginkan universitas yang tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal kita Mbak." Terang Aisyah menerangkan.


Zara mengangguk, mereka menikmati pagi itu dengan berbincang santai dan kopi.


"Nduk, boleh minta tolong?" Tanya Ibuk yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Iya Buk, monggo." Jawab Zara dan Aisyah hampir berbarengan. Membuat keduanya terkekeh, begitu pun Ibuk.


"Jadi begini Nduk, kalian tahu besok sudah mulai siyam (puasa). Memang ada banyak bahan yang akan kita butuhkan nantinya dan harus menyetok. Jadi, kalian mau kan pergi ke pasar atau ke mana pokoknya belanja? Nanti Ibuk kasih catatan untuk belanjanya."


"Enggih Buk, Zara dan Aisyah akan pergi sekarang."


Ibuk mengangguk dan kembali masuk untuk mengambil list yang akan dibelanjakan oleh Zara dan Aisyah. Zara pun pergi sekejap untuk mengambil kontak motornya.


Namun nahas, ketika ia hendak menghampiri Aisyah Syauqi tiba-tiba menangis. Hingga membuat Aisyah beranjak dari duduknya mendekat ke arah sumber suara.


"Mbak Zara? Ada apa dengan Syauqi?" Tanya Aisyah cemas.


"Tadi Syauqi sempat terjatuh dari ranjang. Makanya menangis, maaf ya Aisyah. Mbak tidak bisa menemani kamu." Ucap Zara menyesal.


"Tidak apa-apa Mbak, ya sudah biar Aisyah sendiri saja."


"Tapi kamu tidak tahu betul tempat ini Aisyah, tunggu sebentar. Biasanya Ikfi lewat depan rumah, kita bisa minta dia untuk menemani kamu."


"A-apa? Ikfi, t-tapi bukannya dia harus bekerja?"


"Untuk hari ini pasti tidak, karena sebagian petani diliburkan."

__ADS_1


"Em ya sudah Mbak, tapi Mbak yang bilang ya." Jawab Aisyah sedikit malu. Zara mengangguk dengan menggendong Syauqi mereka pun menunggu Ikfi di depan rumah itu.


"Nah itu dia. Ikfi!!" Seru Zara pada Ikfi, sebentar ia serahkan Syauqi pada Aisyah. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, Aisyah hanya bisa melihatnya dari teras rumah.


"Ikfi mau menemanimu belanja Aish, jadi bagaimana kamu mau pergi sekarang atau...?"


"Pergi sekarang saja Mbak, ya sudah aku pamit ya Mbak. Assalamu'alaikum."


"Iya Aisyah, wa'alaikumussalam." Zara mengambil alih kembali Syauqi. "Hati-hati!" Teriaknya sembari melambaikan tangan pada Ikfi dan Aisyah.


Aisyah sedikit menjaga jarak dengan Ikfi, ia sengaja meletakkan tasnya di depan tubuhnya.


"Kau sudah tahu kita akan pergi ke mana?" Tanya Aisyah kala motor telah berjalan.


"Sudah, tadi Zara sudah memberitahuku apa yang harus dibelanjakan." Jawab Ikfi sedikit keras, karena ia sendiri ketika mendengar suara Aisyah begitu kecil.


"Baguslah." Sambung Aisyah.


...***...


"Kopi!" Titah Yoga tanpa menatap istrinya yang tengah menyusun pakaian. Jihan menatap punggung Yoga yang benar-benar berubah. Dengan menghela nafas panjang ia pun mengangguk dan menjalankan perintah Yoga.


"Auu." Jerit Jihan tertahan kala kakinya terinjak oleh seseorang.


"Ups, sakit yah?" Tanya Intan menutup mulutnya, memang bukan sengaja ia melakukan itu. Namun untuk meminta maaf ia enggan.


Jihan menatapnya sekilas dan berusaha melupakan rasa sakitnya. Intan menatap intens tubuh Jihan yang membelakanginya. Terbesit rasa kasihan melihatnya seperti itu, kehadiran yang tidak diharapkan mertua, suami yang tidak pernah mendukungnya, dicibir setiap orang yang melihat kelakuannya, bahkan sekarang ia sedang hamil pun seolah semua orang membutakan mata mereka.


Namun mengingat bahwa semua adalah ulah Jihan sendiri membuatnya kembali geram. Ia menjadi teringat luruhnya ribuan tetes air mata seorang wanita karena perbuatannya. Dengan mendengus ia berlalu dari ruangan tersebut.


Jihan sedikit mengernyit melihat Yoga yang terlihat kesal menatap layar ponselnya. Dengan hati-hati ia hampiri lelaki tersebut.


"Aawwsshhh....." Teriak Jihan kala kopi yang ingin ia suguhkan untuk Yoga tumpah ke tubuhnya.

__ADS_1


Merasa ada sesuatu yang panas mengenai lengan kokohnya, sontak membuat Yoga terbangun dari duduknya dan menatap nyalang ke arah Jihan.


Plak. Lagi-lagi Jihan harus menahan perih dan panas yang menjalar di pipinya. Bukan suatu hal asing Yoga ringan tangan.


"Dasar istri tidak becus, lihat. Tanganku panas *****!" Umpat Yoga pada sang istri. Sedang Jihan hanya terdiam sembari menunduk ketakutan.


Kilatan amarah di wajah Yoga benar-benar membuat tubuhnya bergetar.


Slreeettt!!!! Tangan Jihan ditarik dengan paksa oleh Yoga, tubuh Jihan terpelanting ke atas ranjang. Dengan sigap ia tahan tubuhnya agar tidak mengenai meja di sampingnya untuk melindungi sang makhluk yang tengah tumbuh di rahim.


Dengan erat Jihan tutup matanya tanpa mau melihat Yoga yang tengah menguasai dirinya. Sungguh batin dan fisiknya benar-benar lelah di setiap detiknya, setiap sudut rumah ini telah menjadi saksi di mana ia begitu tertekan akan perkataan, perlakuan dan perbuatan dari sang penghuni.


Brak!!! Pintu kamar mandi ditutup keras oleh Yoga setelah ia menuntaskan syahwatnya.


Dengan tertatih ia punguti pakaian yang bercecer berantakan di lantai. Ingin sekali ia mengeluarkan suara dan buih untuk sedikit melepas bebannya selama ini. Namun apa daya tak ada satu pun yang memihak padanya.


Di mana Yogaku yang dulu begitu perhatian padaku? Lemah dan lembut di setiap sentuhan yang dulu mampu menemukan letak hatiku hingga ia berhasil mencurinya. Di manakah sikapmu yang itu Kak?. Isak batinnya meringis pilu.


Jika boleh memilih ia pun tak pernah mau berada di posisi ini. Hati dan cintanya yang begitu besarlah yang selama ini menahan kakinya untuk tidak melangkah jauh dari kehidupan Yoga. Apalagi sudah ada darah daging yang tengah bersemayam di perutnya. Ia sama sekali tidak bersalah, cukup ia yang dari kecil tak mendapatkan kasih sayang dari orang tua.


Tidak boleh anaknya, ia yakin segala perubahan sikap dalam diri Yoga adalah bentuk pelampiasan dari kerapuhannya yang telah ditinggalkan wanita tercintanya. Sakit memang mengingat hati suaminya yang tak dapat menjadi miliknya.


Mendengar kamar mandi yang sunyi, ia pun beranjak dengan selimut yang membungkus tubuhnya lantaran ia yang tidak sempat mengenakan pakaiannya.


Diambilnya pakaian santai milik Yoga di lemari dan memberikan handuk pada Yoga. Tanpa berkata sepatah kata Yoga mengambilnya. Kemudian berlalu dari kamar itu.


Jihan menatap ruangan yang begitu kacau, seharian ini sebenarnya ia sudah sangat lelah namun pekerjaan ada saja dan tak kunjung usai.


________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)

__ADS_1


Follow ig: @nick_mlsft


__ADS_2