
"Dadi piye rasane dadi wong kota Az?" (Jadi, bagaimana rasanya menjadi orang kota Az) Tegur Ikfi pada Aziz yang sedang duduk santai di depan teras.
"Ora pimen-pimen si, biasa wae."
Mulut Ikfi membentuk lengkungan ke bawah. "Yakin?"
"Iyolah."
"Ish, hp an bae. Ana aku loh nang jejermu." (Ish, hp an terus. Ada aku di sampingmu loh) Kesal Ikfi menimpuk lengan Aziz. Ia sendiri yang memintanya untuk datang, namun malah dihiraukan seperti ini kala bertemu.
"Em iya-iya." Sahut Aziz sedikit cemberut. "Eh, aku koh madan lali karo basaku ngene. Ngomong indo iso ra?" (Eh, aku kok sedikit lupa dengan bahasa sini. Ngomong bahasa Indonesia bisa tidak?(
"Ck, emang sih. Cara ngomongmu gek tesih kegok kek ngono." (Ck, memang sih. Dari caramu berbicara seperti tidak lancar)
"Ngomong-ngomong, itu siapa yang ada di wallpaper ponselmu?" Tanya Ikfi sedikit melongokkan kepalanya pada layar ponsel Aziz.
"Owh, Mbak pacar." Jawab Aziz sedikit meringis.
"Kukira seleramu perempuan yang memakai hijab, tapi ternyata tidak. Bukannya dulu kau sempat menyukai gadis sini, sampai sekarang di belum ada yang mengkhitbah tahu." Balas Ikfi.
"Benarkah? Jika bisa diperjuangkan, aku ingin melakukannya."
Dahi Ikfi mengernyit. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu?"
Manik mata Aziz mengalihkan pandangannya pada ponsel di tangan. "Sebenarnya aku tidak menyukainya, tapi karena dia yang mau denganku. Yah boleh-boleh saja kan kalau dia jadikan aku pacar. Bisalah untuk main-main sampai aku siap melamar Ganis. Senakal-nakalnya aku sebagai lelaki, tetap wanita baik-baik yang aku pilih untuk dijadikan istri."
Ikfi menanggapinya dengan terkekeh. "Sepintar-pintarnya lelaki memasak, dia pasti memiliki keinginan untuk disiapkan masakan dari perempuannya. Karena sejatinya lelaki itu dilayani bukan melayani. Begitu juga perempuan, sepintar-pintarnya dia dalam urusan agama dia memiliki keinginan untuk diberitahu ini itu oleh lelaki. Karena sejatinya perempuan itu diarahkan bukan mengarahkan.
Dan dengan percaya dirinya kau berkata "Senakal-nakalnya lelaki dia akan memilih perempuan baik-baik untuk dijadikan istri." Kau pikir perempuan baik-baik tidak memilih seperti apa masa depannya. Mereka juga memiliki jodoh impiannya masing-masing."
__ADS_1
Aziz hanya diam termangu, pikirannya mulai mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ikfi.
"Pernahkan mendengar jodoh cerminan dari diri sendiri. Lelaki baik untuk wanita baik. Dan sebaliknya."
--
"Aisyah, kau di mana? Sebentar lagi Iqamah." Seru Zara pada Aisyah yang masih belum keluar dari kamarnya.
Dengan buru-buru Aisyah pun keluar, namun penampilannya membuat Zara mengangkat satu alisnya.
"Kenapa kau masih bersantai seperti ini? Tidak dengar sudah adzan sedari tadi?"
"Em maaf Mbak, ternyata hari ini Aish kedatangan tamu bulanan. Jadi tidak bisa ikut tarawih." Jawab Aisyah, tersirat penyesalan dalam kalimatnya.
"Oalah begitu toh, ya sudah Mbak sama yang lainnya duluan ya. Kamu tidak apa-apa di sini sendirian?" Tanya Zara.
"Tidak apa-apa Mbak, lagian kalau Aish di sini Aish bisa tahu kalau Syauqi nanti-nanti bangun dari tidurnya."
"Iya Mbak,"
Aisyah pun mengunci pintu dan kembali ke kamarnya. Ia mendaratkan tubuhnya pada sandaran ranjang tidurnya. Tak sengaja manik mata beningnya mengarah pada sebuah baju koko pada gantungan baju.
Perlahan ia hampiri tempat tersebut, diraihnya lalu ia arahkan pada indra penciumannya. Harumnya masih sama, padahal sudah cukup lama tak ia cuci. Matanya terpejam sembari melayangkan angan pada suatu masa.
"Kau benar-benar keterlaluan Aisyah, aku suamimu sudah ada di hadapanku. Kau memintaku cepat-cepat pulang tak boleh mampir ke tempat lain hanya untuk menjepit Koko yang telah aku pakai? Tega sekali." Dengus Yoga pada Aisya, wajahnya yang nampak cemberut membuat Aisyah gemas hingga melayangkan ciuman di wajahnya bertubi-tubi.
"Benarkah? Memang bisa suamiku ini cemburu hanya pada kain putih itu? Hatiku tetap milik pria tampan ini." Goda Aisyah mencubit kecil dagu Yoga.
"Tapi dari aku pulang, yang kau sentuh hanya baju Koko itu." Masih menunjukkan kekesalannya.
__ADS_1
Aisyah tersenyum kecil, dengan lembut ia kerahkan tangan Yoga pada perutnya yang telah hadir buah hati di antara mereka. "Nak, lihatlah. Ayahmu sedang merajuk karena Bunda menuruti keinginanmu."
Membuat Yoga tersenyum hangat. Ia pun berbalik dan menempatkan wajahnya tepat di hadapan perut Aisyah. "Hai sayang, Ayahmu ini lebih bagus rupanya dan harum wanginya dari pada baju Ayah. Lantas, mengapa tidak dulu kau hampiri Ayahmu ini hm?"
Sentuhan halus ia rasakan di puncak rambutnya serta bibir manis sang istri yang selalu menjadi candu. Dalamnya tatapan yang saling mereka selami, semakin memancarkan indahnya dur yang mereka rawat selama ini.
Buih kian menetes membasahi wajah cantik paripurna itu. Aisyah bukan menyesali semua yang telah terjadi, hanya saja rindu yang ada dalam hatinya tidak dapat ia kendalikan.
Tidaklah sebentar rasa yang selama ini ia jaga untuk Yoga, suatu hal yang asing bila hatinya kosong tanpa Yoga. Begitu banyak kenangan indah yang ia lalui bersama pria itu, namun ia harus dipaksa oleh keadaan untuk benar-benar membuang nama itu dalam hatinya.
***
Seperti biasa, keadaan rumah Haris selalu hening meski ada banyak nyawa di sana. Bising hanya berasal dari dentingan sendok dan garpu. Sejenak mereka mengalihkan pandangan mereka kala mendengar sebuah pengumunan tentang diadakannya tarawih yang akan dimulai pada malam ini.
Yoga sedikit terkejut akan hal itu, ia merutuki dirinya yang selama ini entah mengurusi hal apa. Sampai-sampai ia tak menyambut kedatangan bulan suci ini dari jauh-jauh hari.
Pikirannya kembali berkeliaran pada saat-saat dahulu bersama Aisyah. Di rumah inilah Aisyah yang paling bersemangat dan selalu mengingatkan ia tentang puasa. Segala hal menyangkut agama, tak pernah lalai Aisyah ingatkan. Akhir-akhir ini, ia sadari ia telah menjauh dari Tuhan.
Sekilas ia pandangi wajah Jihan, bersamaan ia juga memikirkan Ana. Dua wanita yang saat ini berada di hidupnya benar-benar membuatnya hampa. Tak ada ketenangan batin dan jiwa saat ia membersamai keduanya.
Sangat berbeda jauh kala ia bersama Aisyah, walau sedetik dan hanya satu wanita. Setiap waktu hatinya penuh rasa bahagia dan manis. Andai ia diberi waktu walau dua menit untuk merasakan indahnya kisah ia dulu, ia akan sangat bersyukur.
Ternyata kepergian Aisyah juga sembari membawa kebahagiaan terbesar dalam hidupnya pergi. Kini, seolah ia merasakan hambar untuk melakukan apapun, menyantap apapun, bahkan menyalurkan hasratnya ia tak pernah puas.
Aisyah kau sedang apa? Aku sangat merindukanmu.
_______________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Terimakasih ;)
Ig: @nick_mlsft