Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Sulit Mengerti Hal Sepele


__ADS_3

..."Gemelut halu yang kuat kau dekap, hingga nyata sulit kau singkap. Bahkan makna tersirat pun sulit kau mengerti."...


^^^@nick_mlsft^^^


...***...


Hanum terperanjat kaget melihat Ikfi yang tiba-tiba beranjak dari duduknya secara spontan. Bahkan kursi yang tadi tegak menjadi terdorong ke belakang.


"Astaghfirullah, ada apa A? Bikin orang kaget saja." kesalnya sembari mengelus dada.


"Aisyah... Aisyah akhirnya mengirimkan pesan pada Aa." jawabnya antusias.


Hanum memutar bola malas dengan tingkah sang kakak. Namun ia tetap merasa ingin tahu isi pesan dari perempuan yang sangat Ikfi cintai itu.


"Memangnya dia mengirim pesan apa?"


"Hei, kamu nggak perlu tahu. Ini adalah urusan Aa." sahutnya ketus.


"Heh kalau tidak mau memberitahu ya kenapa harus berteriak seperti tadi, dasar aneh." kesal Hanum memilih pergi dari ruangan yang sama dengan kakaknya.


Ikfi tak terlalu mempedulikannya, hatinya begitu berseri-seri. Tubuhnya perlahan menjauh dari Hanum. Sedang sang adik ia hanya menggeleng sembari membetulkan kursi yang tadi digunakan oleh Ikfi.


Selang beberapa lama ia keluar, lagi-lagi ia melihat Ikfi yang kembali melamun menatap kosong. Tubuhnya nampak lesu dengan ponsel di tangannya.


Perlahan, ia pegang bahu sang kakak lembut. "kenapa lagi? Bagaimana jawaban Kak Aisyah sampai Aa seperti ini?"


Sang empu menoleh dan menggeleng samar.

__ADS_1


Hanum menghembuskan nafas kasar, kemudian meraih ponsel di tangan Ikfi. Tak lama ia tersenyum tipis dan duduk tepat di samping lelaki itu.


"Pencuri? Apa maksudnya? Dia sudah dipinang laki-laki lain?" tanyanya lemah.


Sontak hal itu membuat Hanum menggulir riwayat pesan Ikfi sebelumnya. Seketika ia tersenyum lega namun memandang wajah Ikfi dengan jengah.


"Apa Aa masih belum mengerti? Pesan sebelumnya kak Aisyah sempat memberitahu kalau dia berharap Aa bersedia menunggu. Dan sekarang Aa mempermasalahkan kata 'Pemilik aslinya', Aa yakin sudah mengenal kak Aisyah dengan sangat baik?


Lihatlah dia dulu, kak Aisyah bukanlah perempuan yang mudah melabuhkan hati. Saat kak Aisyah ke mari jarak perceraiannya tidaklah terlalu jauh. Dan di sini hanya Aa, laki-laki yang dekat dan berjuang untuk kak Aisyah. Di sini pun kak Aisyah mengakui bahwa dia mulai mencintai Aa. Statusnya yang kini sudah sendiri, itu artinya tanggung jawab sepenuhnya kembali diambil alih oleh ayahnya. Mengerti sekarang? Ya ampun A, begitu saja tidak tahu." tutur Hanum panjang lebar.


Seketika lengkungan kecil tercipta di bibir Ikfi, beranjak hendak berterima kasih pada adiknya. Namun sudah menghilang entah kemana. Sudahlah, toh sekarang dia sudah tahu maksud Aisyah. Pun apa yang akan ia lakukan sekarang.


***


"T-tidak Mas, jangan usir aku. Maafkan aku..." seru Anna mengejar langkah panjang kaki Yoga. Tadinya lelaki itu langsung meninggalkannya di rumah sakit.


Ceklek. Pintu terbuka dengan begitu keras. Anna berdiri memasuki apartemen itu dan kembali mengejar Yoga.


Tanpa disangka ternyata Yoga tengah merapikan semua  pakaian miliknya.


"Mas tunggu dulu, apa yang sedang kamu lakukan?"


"Lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhku!! Aku tak mau lagi menampungmu di sini!" hardiknya mendorong kasar hingga tubuh Anna terjerembab ke belakang.


"Mas bukankah kamu mencintai aku, bahkan kita akan menikah. Dimana janjimu itu Mas?"


"Lalu bagaimana dengan janjimu? Bahkan kau sampai melakukan itu dengannya di sini? Sekarang mintalah pertanggung jawaban darinya!"

__ADS_1


"Dia sendiri yang datang ke mari, aku tidak tahu bagaimana dia tahu aku tinggal di sini. Dia yang memaksaku, aku yang perempuan tidak mampu melawannya. Percayalah aku pun tidak ingin semua ini terjadi."


"Diam! Tutup mulutmu dan jangan ucapkan semua omong kosong yang membuatku mual." tinggal beberapa helai lagi pakaian Anna yang tersisa di lemari pakaiannya.


"Mas kumohon, aku ingin memperbaiki hidupku denganmu. Tidak ingin lagi kembali ke kehidupan lamaku. Jika bukan denganmu, dengan siapa lagi aku hidup Mas."


"Dalam mimpimu!! Persetan dengan hidupmu ke depannya! Aku tidak ingin sampai mendapatkan sial lagi jika kau masih di sini."


Koper dan segala barang milik Anna telah selesai ia rapikan, tak ingin membuang waktu lagi dengan paksa ia seret wanita yang tidak lagi ia anggap kekasihnya itu.


Brak!! Tubuh Anna terpelanting ke lantai yang keras berikut kopernya. Air matanya tak mampu lagi ia tahan untuk keluar. Ditatapnya lelaki yang selalu menjadi sandarannya selama ini.


"Bawa barang dan tubuh menjijikkanmu itu. Jangan sampai aku menampakkan batang hidungmu walau sekejap."


Blam!!


Tangis Anna tak dapat lagi ia bendung, kini entah kemana ia harus pergi. Ke tempat asal sebelum bertemu Yoga? Meminta pertanggung jawaban dari orang yang dimaksud Yoga? Tentu ia tidak mau, bukannya mendapatkan pertanggung jawaban yang ada ia akan kembali dijual atau menjadi wanita malam.


Tak ada harapan lagi di hidupnya sekarang, tidak punya keluarga, teman, pasangan, pekerjaan, bahkan tubuh yang seharusnya dapat sedikit membuat ia bertahan kini malah terkena penyakit yang sangat memalukan.


Setengah ia berada di depan pintu apartemen milik Yoga, seseorang melintas di lorong yang sama. Wanita itu menatapnya aneh dan bingung dengan keadaannya yang acak-acakan dan sembab. Dari arah yang berbeda ada lagi seorang perempuan yang masih muda.


Tidak ingin lagi mendapatkan tatapan sendu bahkan aneh, Anna membawa barang-barangnya dengan langkah berat. Kepalanya terus menunduk menghindari tatapan dari sekitar.


_________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kamu dengan like, komen dan share.

__ADS_1


Terimakasih ;)


__ADS_2