Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Menantu Anak Haram


__ADS_3

Setelah dua hari berbulan madu, seperti yang telah direncanakan mereka pulang pada sore hari. Senyum terus terpancar dari wajah keduanya.


Kedua orang tua Yoga menyambut kepulangan mereka, senyum pun mereka di wajah Haris.


"Assalamu'alaikum Pa, Mah" Ucap Yoga dan istrinya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua mertua Aisyah.


Yoga dan istrinya mencium punggung tangan Haris dan Dewi bergantian. Kemudian mereka pun duduk di ruang tengah.


"Bagaimana liburan kalian Nak? Pasti sangat menyenangkan bukan?" Tanya Haris pada anak dan menantunya.


"Alhamdulillah sangat menyenangkan Pah," sahut Yoga tersenyum sumringah. Aisyah pun demikian, ia juga langsung mengeluarkan oleh-oleh yang sempat ia beli.


"Maaf ya Pah, Mah hanya itu saja yang dapat kami beli. Bingung juga ingin membeli apa, karena banyak diantaranya yang sudah kalian punya." Ujar Aisyah canggung.


"Tidak apa-apa Nak, justru banyak gini kok." Jawab Haris tersenyum dan menerima dengan senang hati pemberian sang menantu.


Tak lupa Aisyah juga menghidangkan oleh-oleh berupa makanan. Sementara ia memberesi barang-barangnya, Yoga masih sibuk berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya.


Aisyah menghirup udara di kamarnya sebanyak-banyaknya. Memikirkan hari esok, yang pasti akan membuatnya kelelahan lagi. Jujur jika boleh, ia masih sangat ingin berlama-lama berbulan madu.


Selama itu, ia benar-benar merilekskan tubuhnya. Namun bagaimana pun ia harus tetap mengerti keadaan suami. Ia merebahkan sejenak tubuhnya di atas ranjang. Perjalanan yang cukup jauh membuatnya penat duduk terlalu lama.


Tak lama, datang seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan segera ia merapihkan terlebih dahulu pakaian dan hijabnya, lalu keluar untuk membuka pintu.


"Sudah cukup yah, kamu enak-enakan dua hari. Di sini tuh bukan waktunya untuk bermalas-malasan. Sudah ayo sekarang bantu Mama masak buat makan malam." Seru Mama Dewi pada menantunya.


"Em iya Mah," jawab Aisyah dan mengikuti langkah Mama Dewi menuju dapur. Ia menghela nafasnya berkali-kali sepanjang perjalanan.


"Oh iya, nanti sebelum tidur tolong setrika dulu yah baju Mama. Besok pagi-pagi sekali, Mama mau pergi."


"Pergi? Pergi kemana Mah?"


"Pergi ke rumah orang tua Mama, Mbahnya Yoga. Katanya kemarin sakit dan tidak ada yang menjaga. Dan Mama juga akan menginap di sana." Jawab Dewi.


"Ouh kalau begitu sampaikan salam Aish untuk Mbah ya Mah, kalau perlu Aish akan menyusul Mama. Biar Mama tidak kecapaian." Celetuk Aish antusias


"Tidak usah, orang-orang di sana itu cerewet-cerewet dan suka ghibah. Apa jadinya kalau Mama ternyata membawa menantu anak haram, bisa-bisa malu Mama. Lagipula ada juga saudara jauh yang mau dateng kok." Sergah Dewi cepat.


Deg.


Aisyah begitu sakit mendengar penuturan Ibu mertuanya, menantu anak haram? Ia begitu sesak mendengar tiga kata itu. Tidak pernah ada anak yang mau seperti itu bukan, dan juga tidak ada orang yang dapat memilih dari keluarga mana ia berasal.


Semua orang bukannya pernah melakukan kekhilafan, ia sendiri juga tidak mungkin menuntut orang tuanya. Dengan kuat, Aisyah berusaha menyembunyikan kesedihannya dan tersenyum. Apalagi melihat Mama Dewi yang sama sekali tidak merasa bersalah dan tetap santai memasak. "Iya Mah."

__ADS_1


"Sebenarnya kamu tadi berangkat jam berapa sih Aish? Kok lama banget." Ketus Dewi sembari memotong bumbu-bumbu.


"Em jam tiga Mah." Sahut Aisyah lembut.


"Pasti kamu kan yang minta Yoga lama-lama di sana. Kamu itu harusnya ingat, di rumah ada orang tua suami kamu. Masak orang tua kok dibiarkan mengerjakan tugas rumah. Kamu yang anak muda, harusnya punya inisiatif.


Orang tua seperti Mama itu badannya sudah mulai melemah. Tidak sekuat dulu waktu muda, yah seperti kamu ini. Bahkan dulu Mama lebih susah dari kamu. Kalo masak harus tiup-tiup, batuk-batuk bikin api. Apalagi masak air, harus jauh-jauh ngambilnya tau?" Cerocos Dewi pada menantunya.


Aisyah semakin menunduk, "Iya Mah, maaf. Setelah ini, Aish akan semakin rajin lagi."


"Memang harus! Jangan hanya taunya hp doang yang dipantengin." Ketus Dewi.


"Em, tapi maaf Mah. Kan Aish bermain hp karena memeriksa orderan Mah."


"Periksa si periksa. Orang kadang Mama melihat kamu yang suka puter-puter musik kok. Apalagi apalah itu, yang Mama tidak tahu artinya apa." Sanggah Dewi.


"Itu sholawat juga Mah, tapi liriknya juga campur bahasa Inggris. Karena penyanyinya memang berasal dari luar."


"Halah wes mboh karepmu Nduk."sahut Mama Dewi acuh.


Hari ini Aisyah sedikit tenang dalam memasak. Lantaran Mama Dewi tak se cerewet biasanya. Tidak marah-marah tanpa alasan, namun ketika berbicara masih saja ketus.


Entahlah mungkin karena sudah terlalu capek, karena sudah dua hari ia mengerjakan tugas-tugasnya sebagai istri sendirian. Meski baru beberapa hari, Aisyah menjadi menantu. Namun ia sudah terbiasa bermalas-malasan. Hingga jika sudah menyentuh sapu dan panci membuat tubuhnya cepat letih.


"Baik Mah." Aisyah mencuci tangannya dan berlalu menuju ruang keluarga.


"Pah, Mas makanannya sudah siap." Ujar Aisyah memberi tahu.


"Iya Aish, nanti kami segera ke sana." Jawab Yoga.


Aisyah mengangguk dan kembali ke ruang makan.


***


"Sayang kamu mau kan pijat tubuh Mas sebentar?" Tanya Yoga yang tiba-tiba datang ke kamar Aisyah. Aisyah sendiri sedang membereskan barang-barang yang tadi belum selesai ia rapihkan.


"Boleh dong Mas, sekarang kamu langsung rebahan saja dulu. Tunggu sebentar yah, nanggung ini soalnya." Jawab Aisyah menoleh sekilas dan masih melakukan aktivitasnya.


Yoga mengangguk sembari tengkurap dan memainkan ponselnya.


"Sayang maaf yah, Mas kembali membuatmu lelah." Ucap Yoga merasa bersalah.


"Tidak sama sekali Mas." Jawab Aisyah santai, namun tak dapat dipungkiri memang tubuh Aisyah sudah sangat letih.


Lima belas menit kemudian, Aisyah langsung naik ke atas ranjang. Dan mulai melihat tubuh Mas Yoga.

__ADS_1


"Lebih kuat lagi Aish." Titah Yoga.


"Iya Mas." Jawab Aisyah.


Perlahan mata Yoga kian menutup menikmati pijitan istrinya. Dan kesadarannya pun membawanya menuju alam mimpi. Aisyah yang merasakan nafas teratur suaminya menundukkan wajahnya. Dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan sang suami.


"Alhamdulillah," gumamnya dan langsung turun dari ranjang. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Mas Yoga.


Sejenak ia pandangi wajah hitam manis suaminya, selama ini ia tak pernah memperhatikan intens wajah Mas Yoga. Ternyata memang benar-benar sangat tampan, ia kecup lama kening Mas Yoga.


Drt.


Ponsel milik Aisyah yang berada di atas nakas berbunyi. Dengan cepat Aisyah menyambar teleponnya. Tertera nama Bundanya yang terpampang di layar ponselnya.


"Hallo Assalamu'alaikum." Aisyah mendekatkan ponselnya di telinganya.


"Wa'alaikumsalam. Bagaimana kabarmu Aish?" Tanya Bundanya.


"Alhamdulillah baik Bun, Bunda sendiri bagaimana?" Jawab Aisyah juga melontarkan pertanyaan.


"Syukurlah, baik juga Aish."


"Ayah?"


"Ayahmu sedang sakit Nak. Karena itu Bunda menelpon, Ayahmu benar-benar merindukanmu Nak." Jawab Melati lemas.


"Innalilah, coba dimana Ayah Bun?"


Tak lama, terdengar suara lemah dari Fahmi Ayahnya.


"Assalamu'alaikum Nak." Ucap Fahmi.


"Wa'alaikumsalam Ayah, Ayah benar sedang sakit? Sudah berapa lama?" Tanya Aisyah cemas.


"Iya Nak, tapi ya sekarang sudah mendingan. Oh ya, bagaimana kabarmu dan suamimu serta mertuamu Nak? Dan bagaimana bulan madu kalian Nak?"


"Semuanya baik-baik saja dan lancar Yah." Jawab Aisyah menahan diri agar tidak bergetar.


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih ;)


Ig; @nick_mlsft

__ADS_1


__ADS_2