
..."Karena kamu terlihat tidak lebih dari seorang pencuri yang menginginkan sesuatu tanpa meminta pada pemilik aslinya."...
^^^@nick_mlsft^^^
...***...
Alis Yoga terangkat tak mendapati Anna di ruangannya.
"Anna....!" panggilnya. Dirinya semakin heran mendengar seorang wanita seperti tengah memuntahkan sesuatu.
"Anna," serunya dengan suara lebih lantang.
Ceklek.
Kedua alisnya nampak hampir menyatu kala melihat Anna yang tengah terduduk dengan menyentuh pinggangnya.
"Anna..., ada apa denganmu?" tanyanya dengan mensejajarkan tubuhnya dengan Anna.
"Entah aku tidak tahu, tapi perut dan ********** terasa sakit sekali." lirih Anna.
Wajahnya terlihat begitu pucat, bahkan sudut bibirnya terlihat seperti sebuah luka. Tubuh Anna pun lebih kurus dari yang pernah ia lihat sebelumnya.
Segera saja Yoga menghampiri kekasihnya itu. "kita ke Dokter sekarang ya."
Mata Anna sontak membulat. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Enggak Mas, jangan. Aku nggak papa, udah biasa. Cukup istirahat aja biasanya sembuh kok." tolak halus Anna.
"Ya udah, ayo..." Yoga menggendong bridal style Anna. Hingga Anna mengalungkan tangannya di leher Yoga dengan senang hati.
Wajah Yoga nampak sangat sumringah, rindunya pada Anna tidak dapat lagi ia tahan. Perlahan tubuh Anna ia letakkan di ranjang.
"Siap-siaplah lady." ujarnya dengan tersenyum miring.
Sejenak Anna menikmati semua yang tengah Yoga lakukan padanya. Bahkan membalasnya tak kalah semangat. Namun cepat ia sadar sakit yang selama ini ia rasakan pada area bawahnya.
Tak kuasa menahan nyeri dan perih, ia dorong kuat-kuat tubuh Yoga. Membuat lelaki itu mengeram kesal.
"Kau itu kenapa?" tanyanya dengan sedikit nada tinggi.
"S-sakit." lirih Anna menyentuh perutnya.
Yoga berubah panik, baju yang berceceran segera ia pakai begitu juga milik Anna.
Meski tahu Anna tak ingin pergi ke rumah sakit, ia bersikukuh membawanya ke sana. Sama sekali tidak Yoga dengarkan keluhan dan celotehan Anna selama dalam gendongannya.
"Diamlah sayang, ini semua juga aku lakukan untukmu."
...***...
Tangan Ikfi berhenti pada sebuah halaman dalam buku diarynya pada masa kuliah dulu.
Aku sangat hafal seperti apa cara jalanmu, seperti apa tingkahmu, seperti apa postur tubuhmu meski kamu begitu jauh bahkan dalam ramainya kerumunan. Karena memang sesering itu aku memperhatikanmu.
Namun aku tidak tahu seperti apa suaramu, seperti apa tawamu, seperti apa candamu. Karena memang sejarang itu jarak mengikiskan ruang untuk kita.
Waktu yang merajai jalannya rindu selama empat tahun ini, kau kembali dengan menautkan hati bersama orang lain. Menyatat setiap harapan, mencabik-cabik setiap keinginan, menggores setiap impian.
Kini bersusah payah kucari makna ikhlas, dunia lain yang juga aku tempati menggulirkan ingatanku padamu barang sejenak. Namun tidak mampu membekukan serpihan luka yang secara paksa mendekap erat tubuhku.
__ADS_1
Hati yang tidak mampu berkhianat, merongrong akal untuk terus terpacu pada anganmu. Kenyatan selalu yang kembali menampar saat kau sedang bersama dengannya. Tak mampu aku hentikan rasa yang terlanjur terikat oleh pesonamu, bahkan aku pun tak mampu menahan lidahku yang selalu menyebut namamu kala aku menghadap Tuhan.
^^^17 Agustus 20XX^^^
Hanum menggeleng kala melihat sang Kakak yang justru tengah melamun bukannya melaksanakan pekerjaan yang diperintah oleh Ibunya tadi.
"Aa Ikfi," panggilnya pelan.
Ikfi masih bergeming, tak menatapnya barang sejenak. Tangan Hanum perlahan mendarat di bahu Ikfi. Membuat Ikfi sedikit terkejut.
"Hei, ada apa?" tanyanya linglung.
"Aa yang kenapa, kenapa diam saja bukannya benerin genteng di atas." jawabnya duduk di samping Ikfi.
Ikfi diam, hanya menggeleng sembari menghela nafasnya.
"Pasti lagi mikirin Kak Aisyah ya,"
"Apa sih kamu, sok tahu." kilah Ikfi tidak ingin mengaku.
"Perempuan memang suka kalau ada lelaki yang mengatakan perasaannya, tapi lebih suka lagi kalau memberitahunya ke Ayahnya." celetuk Hanum setelah beberapa waktu hening merajai keadaan.
Salah satu alis Yoga terangkat, menatap aneh ke arah adiknya.
"Kamu itu ngomong apa?"
"Aa bisa cerita ke Hanum kalau ada apa-apa. Daripada dipendem sendiri."
"Aa masih tidak mengerti kenapa Aisyah sampai sekarang tidak menjawab pesan Aa. Bahkan tidak memberi jawaban dari pernyataan Aa waktu itu."
Hanum mengarahkan pandangannya ke atas seolah berpikir, "mungkin kak Aisyah ingin Aa berjuang dulu."
"Apa mungkin Aisyah memang tidak pernah mencintai Aa ya Num? Lihat saja, Aa berasal dari desa yang kecil. Pekerjaan Aa pun hanya di sawah dan tidak punya apa-apa."
Lagi satu hal Kakak tahu, dulu pun Yoga hanyalah seorang pemabuk dan sangat nakal saat mudanya. Tapi karena memang rasa cintanya pada kak Aisyah dan mau berjuang merubah itu semua akhirnya kak Aisyah luluh.
Begitu pun dengan Aa, pekerjaan Aa kak Aisyah tidak peduli dengan itu. Kak Zara sendiri yang pernah bilang pada Hanum. Selama Aa bertanggung jawab dan berniat semuanya karena Allah, pasti Allah akan memudahkan semuanya. Begitu pun dengan rezeki, semuanya pasti akan dipermudah.
Karena ratu tidak melihat rajanya hanya dari tahta dan singgasananya. Tapi juga melihat bagaimana dari raja memainkan pedangnya. Hanum harap Aa paham dengan apa yang dimaksud sama Hanum. Ya sudah, Hanum pergi dulu. Aa jangan lupa perbaiki gentengnya di atas."
...***...
"Ayah di mana Bun?" tanya Aisyah pada sang Bunda yang terlihat tengah menyiapkan menu buka puasa hari ini.
"Beliau sedang di luar Aisyah, kamu tahu sendiri kan kalau Ayah jarang di rumah kalau sore-sore menjelang buka." jawab Melati sembari menoleh sejenak pada Aisyah, kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Eh iya ya Bun," dengan canggung Aisyah duduk tepat di hadapan Melati.
"Kenapa sayang? Ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?"
Aisyah menggeleng dan tersenyum kecil.
"Jujur sama Bunda, kemarin Abang Aidan sempat beritahu Bunda. Di kampung Zara ada lelaki yang suka sama kamu. Bahkan mau melamar kamu?"
Sejenak Aisyah begitu merasa gugup, tapi apa yang dikatakan Bundanya memanglah benar. Dan cepat atau lambat pasti akan mengetahuinya.
"I-iya Bunda,"
"Sebenarnya Bunda masih belum ingin melihat kamu berdekatan dengan lelaki. Apalagi lelaki seperti Yoga saat pertama kali Bunda kenal, Bunda jadi berpikir kalau mau seperti apapun lelaki berubah jika bukan karena Allah pada akhirnya akan kembali ke asalnya. Jujur Aisyah, Bunda sedikit membenci pada Yoga."
__ADS_1
Aisyah menghela nafasnya panjang, matanya mengarah ke yang lain. Ia bingung ingin menjawab apa.
Melati yang melihatnya kembali berbicara. "tapi kalau memang kamu mencintai Bunda tidak akan melarang. Tapi setidaknya lihat dulu bagaimana laki-lakinya Aisyah. Bagaimana ilmunya, apa pekerjaannya, seberapa serius dia dengan kamu, bagaimana sifatnya, dan masih banyak lagi. Bunda yakin kamu pasti tahu lelaki seperti apa yang harus mendampingi kamu kedepannya. Belajar dari masa lalu kamu."
Senyum terbit di wajah Aisyah seketika. "benarkah Bunda?"
"Iya Sayang."
"Tapi Bunda, jujur Aisyah masih memiliki trauma akan lelaki. Bunda tahu sendiri, dahulu pun Yoga begitu memperjuangan Aisyah. Tapi pada akhirnya ia tetap berpaling dan tergoda oleh wanita lain."
"Jadi kamu berpikir semua laki-laki itu sama saja?"
"Bukan begitu Bunda."
"Kita masih memiliki Tuhan untuk meminta dia agar menjadi lelaki yang kita impikan. Intinya lakukan apapun dan minta apapun dalam hidup kita libatkan Allah di dalamnya sayang."
"Baik Bunda, sekarang aku semakin yakin dengan keputusan aku."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap Fahmi memasuki ruangan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab kedua perempuan yang sedang berbincang. Mereka mencium punggung tangan Fahmi secara bergantian.
"Ada apa ini? Kenapa terlihat senang sekali kamu Aisyah?" tanya Fahmi menatap sang anak.
"Em, tidak Ayah." sahut Aisyah sedikit malu-malu.
Melati membisikkan sesuatu pada telinga suaminya, membuat Fahmi membulatkan mulutnya sembari mengangguk.
"Jadi apa yang dikatakan Aidan itu benar?"
Aisyah mengernyit, "Abang Aidan lagi?" tanyanya balik.
Fahmi terkekeh mendengarnya. "iya seperti tidak tahu saja Abangmu itu mulutnya sedikit ember."
Wajah Aisyah nampak cemberut.
"Ayah sudah dengar semua dan bagaimana sikap anaknya bahkan fotonya. Terlihat baik dan sedikit Ayah menyukainya. Tapi bukan berarti Ayah akan menerimanya begitu saja."
"Iya Ayah."
"Oh ya, coba kamu minta dia untuk melamar kamu di hari Jum'at tepat jam dua belas. Ayah tunggu kedatangannya."
--
Aisyah memikirkan jawaban yang akan ia kirimkan untuk Ikfi. Hatinya telah menetapkan untuk menerima lelaki itu.
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Kak.
Setelah mengetahui semuanya tentang aku, begitu senang ketika ternyata masih ada lelaki yang mau memintaku sebagai istrinya. Bahkan menyukaiku dari lama. Perhatian dan perbuatan kamu selama ini, jujur membuat pikiranku selalu tertuju padamu dan perlahan aku mulai mencintaimu.
Tapi bolehkah satu hal aku beritahu tentang kamu. Dari semua yang telah kamu ungkapkan dan permintaan kamu saat itu. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, menjalani setiap ujian yang akan melintas dalam kehidupan rumah tangga kita nantinya serta menjadi Ibu dari anak-anakmu meski kita tahu kecil kemungkiannya. Namun kita memiliki Tuhan bukan, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
Namun, aku pun masih memiliki keraguan akan dirimu. Karena kamu terlihat tidak lebih dari seorang pencuri yang menginginkan sesuatu tanpa meminta pada pemilik aslinya. ~Aisyah.
________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
__ADS_1
Tandai typoš¤
Ig : @nick_mlsft