
Jihan merasa begitu sulit untuk menggerakkan tubuhnya, matanya belum sempurna membuka. Namun ia merasakan sesuatu menghimpit tubuh mungil itu.
Netranya menangkap sosok tampan dan gurat kelelahan pun tak absen. Seketika bibirnya melengkung indah dan pipinya bersemu merah mengingat kejadian semalam. Dengan lembut, ia usap rahang kokoh di hadapannya.
Sang pria yang merasakan sentuhan serta hangatnya nafas seseorang di dadanya pun mulai mengerjapkan matanya. Nampaklah wanita yang semalam telah berbagi peluh dengannya.
"Ehm, Jihan?" Tanyanya halus.
"Iya Kak." Jawab Jihan tak kalah lembut.
Yoga tak mengerti harus berkata apa lagi, ia hanya tersenyum manis. Begitupun Jihan.
"Kenapa memandangiku seperti itu Kak?"
"Tidak, hanya saja kau tetap begitu cantik meski baru bangun tidur." Disertai sinar matahari pagi yang cerah, nyatanya membuat wajah Jihan terlihat lebih cerah dan bersinar.
Jihan tersipu, dengan mengumpulkan serpihan rasa malunya ia sembunyikan itu semua ke dalam dada Yoga.
"Hei, mengapa harus malu? Kau tidak ingat, bahkan kau sangat agresif padaku?" Yoga semakin gencar saja menggoda Jihan.
"Sudahlah Kak, ini sudah pagi. Bukankah Kakak harus pergi ke kantor?"
Yoga tersenyum, "Ini hari Minggu sayang, jadi tidak perlu khawatir. Bagiamana jika kita lanjutkan saja yang tadi malam."
Jihan memejamkan matanya tatkala merasakan hangat di lehernya. Perlahan ia mulai mengeluarkan suara halusnya, hingga membuat pria yang sedang bersamanya semakin berhasrat.
...***...
"Aisyah!!!!" Teriak Dewi tak sabar pada menantunya. Bahkan saking tak sabarnya, ia gedor dengan keras pintu kamar milik Aisyah.
Sontak hal itu membuat Aisyah terkejut, dengan masih mengumpulkan kesadarannya kakinya melangkah menuju pintu.
"Ck, ck, ck..." Sembari menggeleng Dewi tatap keadaan Aisyah yang masih terlihat kacau tersebut.
"Dasar kamu ya, sudah menjadi seorang istri masih saja bangun siang? Lihat itu sudah jam berapa? Bahkan kamu tidak membantu Intan memasak! Mau jadi apa kamu ini hah? Mengandung tidak becus, tidak bisa mengurus rumah, bahkan kamu tidak punya sopan santun di rumah mertua. Dasar payah!" Cecar Dewi pedas.
__ADS_1
Aisyah hanya menunduk dengan memupuk bulir-bulir di matanya. Namun dengan sekuat tenaga ia tahan.
"Sudah! Sekarang bersihkan rumah ini, cuci piring-piring yang menumpuk, jangan lupa cuci baju yang ada di kamar Mama! Ingat ya Aisyah, rumah harus sudah beres ketika Mama sudah pulang!" Titahnya, kemudian meninggalkan Aisyah sendiri di rumah itu.
Ya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 8. Dimana semua orang sudah berpergian. Meski hari Minggu, beberapa anggota di rumah ini tetap saja pergi keluar rumah. Biasanya hanya ada Aisyah dan Yoga yang menghabiskan waktu untuk mereka berdua.
Namun sudah beberapa Minggu ini Yoga bahkan tidak memiliki waktu dengan istrinya. Aisyah menghela nafasnya lelah, tadi malam ketika masih di kamar ia masih menunggu Yoga pulang. Lantaran setelahnya, hujan sudah reda. Namun apa daya, seseorang yang ia nantikan kehadirannya sampai sekarang masih tidak menampilkan batang hidungnya.
Seperti yang telah diperintahkan oleh Ibu mertuanya, Aisyah mulai membersihkan rumah tersebut dan pekerjaan lainnya. Hingga ia tiba di pekerjaan terakhirnya, mencuci baju dirinya serta Yoga dan kedua mertuanya.
Namun sebelumnya matanya sempat menangkap benda pipih di atas nakas, perlahan ia hampiri tempat itu dan mengambilnya. Terlihat pesan-pesan yang ia kirimkan kemarin masih belum sampai ke nomor tujuan.
Wajahnya terangkat untuk melihat jam di dinding. "Sebenarnya kamu ada dimana Mas?" Gumamnya. Empuk Aisyah rasakan ketika ia mendudukkan dirinya di atas ranjang. Pikirannya melayang ke beberapa waktu lalu. Waktu dimana Yoga menjanjikan untuk menghabiskan waktu bersamanya.
"Apa kamu melupakan janjimu sendiri Mas? Bahkan teleponmu juga tidak aktif." Keluhnya. Namun dengan segera ia menggeleng dan melaksanakan tugas yang telah diperintahkan oleh Ibu mertuanya.
......***......
Deg.
Tiba-tiba saja hatinya mencelos mengingat apa yang baru saja ia lakukan dengan Jihan. Bukan ia berniat untuk mengkhianati Aisyah, namun dorongan hasrat yang ada dalam dirinyalah yang menuntunnya untuk melakukan yang semestinya hanya ia lakukan dengan Aisyah.
Jauh dalam lubuk hatinya, tentunya ia sangat mencintai Aisyah. Aisyah lah belahan jiwanya, tentu rasa sakit yang dirasakan Aisyah akan merambat juga ke dalam dirinya. Namun sekarang, bahkan ia sendiri yang akan menyebabkan jatuhnya air mata berharga milik istrinya.
"Aisyah.." Lirihnya, perlahan bulir-bulir bening menelusuri pipinya. Hatinya terasa sangat sesak terbelenggu oleh rasa cinta yang teramat dan rasa bersalah.
Drt.., drt...,
Dering ponsel kembali berdering, semakin berdenyut hebat dadanya. Dengan jari gemetar ia geser tombol warna hijau.
"Hallo Assalamu'alaikum Mas, Alhamdulillah akhirnya kamu angkat teleponnya juga."
"Wa'alaikumussalam Aisyah." Jawab. Yoga lembut.
"Mas bagaimana kabarmu? Kau dimana sekarang? Baik-baik saja kan." Terdengar jelas khawatir dari cara bicara Aisyah.
__ADS_1
"Alhamdulillah aku baik-baik saja sayang, maaf ya Mas tidak mengabarimu dari kemarin."
"Iya Mas tidak apa-apa. Yang penting Mas tidak kenapa-kenapa. Tapi ngomong-ngomong, dimana Mas semalam?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Aisyah sontak membuat Yoga menelan salivanya susah payah. Namun berusaha sebisa mungkin ia atasi rasa gugupnya itu.
"Itu Aisyah, Mas ada di rumah teman Mas. Kemarin malam, ban mobil Mas bocor. Mencari bengkel pun susah karena hujan, jadi Mas pikir untuk menginap di rumah teman Mas dulu."
"Oh syukurlah kalau begitu, aku sangat mengkhawatirkanmu dari kemarin Mas."
"Iya sayang, setelah ini Mas akan pulang. Kamu jangan khawatir. Tunggulah Mas ya,"
"Iya Mas, sudah dulu ya aku masih harus mencuci.
"Iya Aisyah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Tuut. Panggilan berakhir, rasa bersalah meliputi diri Yoga saat ini. Inilah kali pertama ia berbohong pada Aisyah. Dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya yang tak mampu menahan hawa nafsunya.
Tanpa berpikir panjang, ia gegas berlalu dari rumah Jihan. Bahkan ia tidak menyempatkan diri untuk berpamit.
Untunglah tadi pagi ia sudah menelpon seseorang untuk memperbaiki mobilnya, serta memesan pakaian lewat online tadi.
Aisyah yang mendengar suara derum mobil milik suaminya dengan segera pergi keluar rumah. Seolah sudah berbulan-bulan tak bertemu dengan Yoga, dengan cepat ia rengkuh tubuh milik Yoga.
Jika saja Yoga tak kuat, sudah tentu tubuh keduanya akan terjatuh ke belakang.
"Sayang hati-hati."
Aisyah solah tak mendengar, yang ia lakukan hanyalah mengencangkan pelukannya. Ia hirup habis-habis tubuh yang dirindukannya itu.
"Mas sebentar dulu, aku sangat merindukanmu." Ucap Aisyah yang merasa Yoga yang meregangkan pelukan mereka.
"Mas juga sangat merindukanmu sayang, cuma jangan di sini ya. Ayo kita masuk saja." Ajak Yoga lembut.
__ADS_1
Aisyah dengan kasar melepas pelukan mereka dan memberengut. Yoga hanya menggeleng sembari merasa sangat gemas dengan istri kecilnya itu. Tanpa ba-bi-bu ia gendong tubuh Aisyah, membawanya hingga ke dalam rumah.