Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

"Itu tidak akan terjadi Yah, karena dengan segenap jiwa ragaku aku akan menjaga putri Ayah selamanya. Dan dengan hatiku pula aku akan memberikan cinta dan kasih sayang yang melimpah." Ungkap Yoga dengan penuh keyakinan.


Senyum tercetak di wajah Fahmi, ia menepuk bangga bahu sang menantu. "Baiklah Nak, Ayah percayakan semua padamu."


"Nak patuhilah perintah suamimu selama itu yang terbaik. Utamakan suamimu bahkan kedua orang tua suamimu dari orang tuamu sendiri Nak." Tutur Melati lembut pada anaknya.


"Iya Bun, aku pasti akan mengingat itu selalu. Dan kumohon agar selalu memberikan aku restu Bu, untuk menjalani ibadah seumur hidup ini." Jawab Aisyah dengan mencium tangan yang membelai kepalanya.


Melati mengangguk dan tersenyum. Sekali lagi ia memeluk dan mencium pucuk kepala putrinya.


Beralihlah pengantin tersebut pada orang tua Yoga. Dengan senang hati Haris menyambut anak serta menantunya. Sedangkan Dewi hanya tersenyum tipis itupun karena dipaksakan.


Sampai saat ini Aisyah masih tak menyangka telah menyandang gelas istri, sungguh semuanya terasa mimpi. Ia pandangi semua orang terdekatnya, senyum tak pernah luntur dari mereka.


Ia juga memandang ke seluruh keluarga besarnya, dalam hatinya bertanya apakah ia sanggup jika tak lagi melihat wajah mereka.


Namun ia sudah harus siap dengan apapun itu, karena ia sendiri yang memutus semuanya. Suasana haru menyelimuti mereka semua.


Begitu pula Melati yang sedari tadi memandang putrinya tiada henti, dalam hatinya ia sungguh-sungguh bersyukur. Akhirnya putrinya dapat menemukan pria yang dapat menerimanya apa adanya.


Selama ini ia selalu khawatir dan cemas akan keadaan putrinya. Apalagi dahulu waktu Aisyah masih kecil, acap kali orang-orang menyebutnya dengan anak haram. Hingga membuatnya tak kuat dengan lingkungannya.


Semoga kau bahagia Nak, maafkan segala kehilafan kedua orang tuamu dulu. Harapnya dalam hati. Dan ikut membaur dengan yang lainnya.


***


"Dek, apa kau lelah?" Tanya Yoga dengan membungkukkan tubuhnya. Ia melingkarkan wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Aisyah menyentuh wajah suaminya yang tengah bersender di bahunya. Ia menatap dengan penuh cinta suaminya dari cermin.


"Untuk semua proses yang telah kita lalui memang cukup lelah Mas, tapi akhirnya aku bahagia karena lelahku itu kini kau menjadi halal bagiku." Ungkapnya tersenyum.


Yoga membalikkan tubuh sang istri, dengan cepat Aisyah menutup matanya. Merasakan dan menikmati sentuhan penuh kasih di dahinya. Ia ingin merekam setiap detik, suasana berkabut kebahagiaan itu.


"Sayang bismillah ya, semoga perjalanan kita dalam membina rumah tangga ini menuju surga-Nya." Tutur Aisyah dengan penuh harap.

__ADS_1


Suaminya itu terlihat kaget, tatkala Aisyah mengatakan kata 'sayang' hatinya berdesir hebat. Dengan segera ia menyatukan kening mereka.


"Iya sayang, insyaallah bersama-sama kita menjalani ini semua."


Ia menjauhkan kepala keduanya. Mata Yoga menyorot ke arah wajah istrinya. Diperiksanya setiap inci wajah cantik nan menawan itu. Baik pikiran dan hatinya mendorong ia untuk melakukan sesuatu.


Kembali Aisyah menutup matanya, manis yang Yoga rasakan. Ia tahu bahwa ini adalah yang pertama untuk istrinya dan ada kebanggaan tersendiri untuknya.


Diusapnya dagu Aisyah yang basah karena ulahnya, wajah istrinya itu terlihat merona. Dengan sigap ia mengusap punggung istrinya yang tengah menyembunyikan wajahnya di dadanya. Pancaran wajahnya semakin cerah saja.


Tok tok tok.


Buyarlah sudah, lamunan Yoga tentang istrinya. Aisyah terkekeh melihat wajah kusut suaminya. Ia menggelengkan kepalanya dan segera membuka pintu.


"Eh Kak Sinta (Sepupu Yoga).." ujarnya sembari tersenyum.


Sinta mendapati wajah kesal adik sepupunya, senyum penuh jahil akhirnya tercipta juga di wajahnya. "Itu Aish semua orang telah menunggumu. Ingat kau harus menyerap nutrisi lebih untuk acara malam nanti. Kau tak tahu kan betapa banyak tamu undangan yang akan datang."


"Iya nanti kami akan menyusul Kak, kalian duluan saja." Sela Yoga tak membiarkan istrinya menjawab.


Sedangkan Yoga semakin mendengus kesal. Melihat istrinya yang ditarik langsung oleh Kak Sinta. Mau tak mau ia pun mengikuti keduanya.


***


"Dek kenapa tamu undangan terus berdatangan. Perasaan baik temanmu atau temanku tak sebanyak mereka." Tunjuk Yoga pada beberapa tamu undangan yang menghampiri mereka.


"Entahlah Mas, mereka juga kan di undang oleh kedua orang tua kita."


Gabriel menghembuskan nafas kasar, secepatnya ia rubah mimik wajah yang penuh keramahan dan kebahagiaan.


Pegangan tangannya dengan sang istri semakin erat, tatkala ia melihat lelaki yang pernah menjadi saingannya itu. Membuat Aisyah menatanpnya dengan penuh keheranan.


Lelaki itu mendekat ke arah mereka, ia juga memandang sendu wanita yang ada di hatinya kini menjadi milik orang lain. Yoga menyeringai penuh kemenangan padanya.


"Hai Kak Ikfi," sapa ramah Aisyah. Ia sendiri tak mengetahui dan tak peka dengan perasaan Kak Ikfi padanya.

__ADS_1


Ikfi memaksakan senyumnya, "Hai pengantin baru, bahagia selalu yah." Harapnya pasrah.


"Tentu saja, aku akan selalu membuatnya bahagia." Ungkap Yoga percaya diri, tatapan ejek ia layangkan pada wajah rapuh itu.


"Jaga dia bro," jawabnya menepuk bahu Yoga dan sedikit mendekatkan tubuh mereka. "Atau aku akan mengambil kesempatan itu." Lirihnya yang tak dapat didengar selain oleh keduanya.


Sontak Yoga mengeraskan gerahamnya dan mengepalkan kedua tangannya.


Sudah cukup, ia tak ingin berada di tempat yang sangat menyesakkan ini. "Aku pamit yah, ada urusan."


"Kenapa cepat sekali Kak?,"


"Ada urusan yang harus aku selesaikan Aish." Lebih tepatnya aku tidak mampu melihatmu yang selalu tersenyum karena telah menjadi milik pria lain. Lanjutnya dalam hati.


Yoga meradang mendengar kata 'Aish' yang keluar dari badebah itu.


"Ya sudah, yang terpenting kau datang. Terimakasih sudah mau menyempatkan waktunya Kak." Ucap Aisyah tulus.


Ikfi mengangguk, dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu. Air matanya tak dapat ia bendung.


Pupus sudah harapanku untuk bersamamu Aish, yang hanya bisa kulakan hanyalah berdo'a untuk kehidupan barumu itu. Semoga kau selalu bahagia Aish dengannya. Dan semoga aku pun dapat mengubur dalam-dalam perawatan selama ini padamu. Jeritnya dalam hati. Dan dengan cepat ia mengusap air mata yang sempat terjatuh ke pipinya.


Kening Aisyah berkerut menatap wajah suaminya yang murung. Dengan lembut ia mengusap tangannya dan tersenyum sangat manis.


"Ada apa Mas? Kenapa kau murung seperti itu?"


Yoga menggeleng dan tersenyum tipis. Dan dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi cerah. Mereka melanjutkan untuk menyalami sang tamu undangan yang masih berdatangan.


______________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih ;)


Ig; @nick_mlsft

__ADS_1


__ADS_2