Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Perubahan Ibu Mertua


__ADS_3

Yoga menggeleng dan tersenyum tipis. Dan dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi cerah. Mereka melanjutkan untuk menyalami sang tamu undangan yang masih berdatangan.


***


"Mas ayo bangun sudah masuk waktu Subuh Mas." Bisik Aisyah lembut di telinga sang suami.


Dengan malas Yoga membuka matanya, ditatapnya penuh cinta wajah sang istri. Masih terngiang di kepalanya betapa bahagianya ia menjadi yang pertama untuk Aisyah. Kecupan singkat mendarat di kening Aisyah.


"Terimakasih ya sayang, kau sudah mengingatkanku."


"Sudah menjadi tugasku Mas."


Mereka melakukan sholat berjamaah di kamar mereka. Setelahnya Aisyah membereskan segalanya. Dari kamar, pakaian suami dan sebentar lagi ia akan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan. Untunglah dahulu ia sering membantu Bunda-nya, hingga ia tak terlalu kaget menjalankan tugas-tugas seorang istri dan menantu.


"Loh baru turun toh Ish? Kok bisa ya yang tua lebih dulu bangun dari yang muda." Celetuk Dewi melirik Aisyah yang masih berwajah bantal.


Aisyah terkejut mendapati Ibu mertuanya yang sudah ada di dapur mendahuluinya. Ia hanya bisa tertunduk malu dan merasa bersalah.


"Maaf ya Mah, tadi Aish sempat membereskan kamar dahulu. Jadi telat datang ke sininya." Lirihnya menunduk dan gugup. Baru pertama kali ia mendapati wajah tak bersahabat dari Mama Dewi


"Tapi ya tetap sajalah Aish, seharusnya kau bangun lebih awal lagi. Bagiamana jika nantinya kamu terus-terusan seperti. Yang namanya memasak itu membutuhkan waktu yang lama, jangan sampai suamimu sudah turun tapi kau belum selesai memasak.


Seorang suami itu kan harus kerja, dan setiap orang yang bekerja memiliki aturannya masing-masing. Salah satunya ya datang tepat waktu. Dan jangan sampai suami datang terlambat karena menunggu istrinya memasak." Tuturnya panjang lebar dan ketus. Ia masih belum menerima wanita di hadapannya itu menjadi istri dari anaknya.


Aisyah semakin merasa malu, ia melemparkan senyumnya. "Iya Mah, makasih ya sudah memberitahu Aish bagaimana menjadi istri yang baik. Insyaallah kedepannya akan Aish usahakan lebih baik lagi."


Dewi hanya memutar mata malas. "Ya sudah sekarang bantu Mama," titahnya.


"Baik Ma.."


Sepanjang kegiatan acara memasak, Aisyah hanya bisa sabar menahan hatinya. Ia sebenarnya merasa bingung dengan tingkah Ibu mertuanya itu. Sedari tadi, ia merasa tak melakukan kesalahan. Tetapi tetap saja, ada saja hal yang Mama Dewi salahkan.


Sikapnya benar-benar berbeda tidak seperti ia pertama kali ke rumah Yoga dan memasak bersama dengan Mama Dewi. Jika melakukan kesalahan pun pasti akan ditegur dengan sangat lembut. Namun sekarang, dari awal bertemu saja sudah sangat ketus.

__ADS_1


Ia juga melihat Ibu mertuanya yang hanya terdiam menyuruhnya ini dan itu. Aisyah berusaha menuruti perintah dari Mama Dewi, namun semakin sering Mama Dewi menyuruhnya semakin pula banyak kesalahan-kesalahan yang dilontarkan padahal aslinya biasa saja.


"Pagi Mah!" Sapa Yoga yang tengah menuruni anak tangga.


"Pagi," jawabnya.


"Wah pengantin baru bisa juga ya bangun pagi." Ujar Papa Haris terkekeh.


Wajah keduanya merona seketika. Sedang yang lain ikut tersenyum mendengarnya.


***


"Aisyah....!" Seru Dewi pada menantunya.


"Iya Mah," dengan tergesa Aisyah menghampiri Ibu mertuanya.


"Kamu itu bagaimana sih! Lihat ini semua..!" Menunjuk ke seluruh ruangan di tempatnya berdiri. Manik mata Aisyah menyapu bersih ruangan tersebut, nampak kotor karena makanan ringan dan berantakan.


Para sanak saudara keluarga Tuan Haris sebelumnya memang menginap namun sudah kembali lagi ke rumah masing-masing. Dan tentu saja, mereka mengajak anak-anaknya. Yang namanya anak-anak pastilah sangat suka bermain. Dan juga terkadang membiarkan mainan atau makanan berceceran tak beraturan.


"M-maaf Mah. Tadi Aish sempat ke kamar dulu untuk bersiap-siap menuju restoran. Mama kan tahu saya seorang chef di restoran sana." Jawab Aisyah menunduk.


Ia begitu gemeteran dan gugup mendengar bentakan dari Mama Dewi. Seumur-umur tak pernah orang tuanya berbicara padanya dengan nada tinggi.


"Ya kalau seperti itu, lain kali bangunnya harus lebih awal lah!. Mama tidak mau tahu, pokoknya sebelum pergi kamu harus membersihkan rumah ini. Sebentar lagi, teman-teman Mama akan berkunjung untuk arisan!" Titahnya tak mau dibantah.


"Tapi Mah, bagaimana dengan pelanggan di restoran nanti Mah?" Tanya Aisyah mengiba, meski ini hari pertama setelah menikah. Pekerjaannya masih ada yang harus ia urus.


"Halah, wong restoran itu juga milik orang tuamu kok repot. Sudah lakukan saja perintah Mama, ingat keluarga suami itu lebih berhak atas kamu dari orang tua kamu!"


"Iya Mah, akan Aish lakukan sekarang." Putusnya pasrah.


"Memang harus sekaranglah. Kapan lagi?!"

__ADS_1


Aisyah hanya mampu mengelus dada dan beristighfar dalam hati. Tadi saja sebelum Ayah mertua dan suaminya masih berada di sekitar mereka baik perlakuan maupun perkataan dari Ibu Mertuanya begitu manis.


Namun sekarang, jangankan berbicara lembut. Menatapnya dengan halus pun tidak. Bisanya hanya menyuruh dan memerintah dengan ketus. Entahlah yang pasti ia tak ingin berpikiran buruk di pikirannya. Mungkin saja, Mama Dewi terlalu kelelahan mengurus pernikahan ini sebelum ia datang ke rumah ini.


"Baiklah Mah, akan aku lakukan segera." Pasrahnya.


Dewi tersenyum sinis melihatnya, dengan berjalan keluar rumah layaknya Kyle Janner yang tengah catwalk. Dari pada membantu menantu, ia lebih memilih untuk berbincang-bincang dengan para tetangga.


Memang itulah pekerjaannya setiap hari tatkala ia ditinggal suaminya bekerja, membicarakan kehidupan orang lain atau lainnya. Jika ikut bergabung, sama sekali tak ada yang bermanfaat.


Aisyah menghela nafasnya sejenak, ia merogoh sakunya guna mengirimkan pesan kepada Bunda-nya.


Assalamu'alaikum Bun, maaf yah hari ini Aish datang terlambat. Karena masih ada urusan di rumah. ~ Aisyah.


Tak lama Aisyah merasakan getaran dari sakunya. Dengan cepat ia membuka gawainya.


Iya sayang tidak apa-apa. Toh ini hari pertamamu, bahkan tidak masalah kalau kau tidak berangkat. Sekarang kau seorang istri dan menanti sayang. Jadi prioritas kanlah mereka Nak. ~ Bunda💞.


Terimakasih ya Bundaku tersayang 🥰 . ~ Aisyah.


Iya sayang. ~ Bunda💞.


Bersyukurlah Aisyah memiliki Bunda yang pengertian. Hingga ia tak perlu khawatir.


Aisyah mengambil alat-alat untuk bersih-bersih. Jujur saja, dengan melihat betapa berantakannya ruangan tersebut saja membuatnya pening. Apalagi membersihkannya.


Namun apa daya, di sini ia hanya seorang menantu. Dan biar bagaimanapun perkataan orang tua tetaplah harus ia hormati dan taati. Asalkan bukanlah sesuatu yang menyimpang.


Suaminya juga sedari tadi belum terlihat. Mungkin sedang berada di rumah tetangga bersama Ayah mertuanya.


______________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih ;)


Ig; @nick_mlsft


__ADS_2