Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Aisyah Pergi


__ADS_3

"Aisyah, Yoga... Ada apa dengan kalian Nak? Kenapa ribut sekali bahkan dari bawah pun kedengaran." Ucap Haris pada pasangan suami-istri tersebut. Netranya menangkap keadaan kamar yang tidak seperti biasanya, ia pastikan antara anak dan menantunya ini sedang tak baik-baik saja.


Aisyah hanya menunduk dan terdiam begitu juga dengan Yoga.


"Nak, yang namanya pernikahan sudah tentu akan ada namanya masalah. Dan itu adalah hal yang biasa, Papa harap kalian bisa menyelesaikan permasalahan kalian dengan kepala dingin. Ingat jangan suka mengambil keputusan dalam keadaan yang masih dikuasai oleh emosi." Memang samar-samar Haris sedikit mendengar tentang apa yang sedang diperdebatkan oleh keduanya. Ditambah dengan keadaan pakaian yang berserakan. Semakin meyakinkan dirinya.


"Baik Papa, maaf sudah menggangu waktunya."


Haris mengangguk, ia kembali turun melanjutkan aktifitasnya.


"Aisyah-"


"Cukup Mas, saat ini tinggalkan aku sendiri. Apapun keputusanku nantinya, yang pasti aku tidak akan pernah menyetujuimu yang ingin memisahkan Jihan dengan anaknya." Sergah Aisyah cepat.


Yoga menghela nafas panjang dan keluar dari kamar itu. Untuk saat ini ia membiarkan Aisyah menyendiri dahulu. Ia pun melihat ponsel yang sedari tadi berdering, namun tak ia pedulikan. Biarlah hari ini ia membolos kerja. Aisyah lebih penting dari pekerjaannya.


Aisyah meluruhkan tubuhnya ke lantai. Hatinya begitu sakit namun ia juga sulit untuk menangis. Sejenak ia tarik napasnya panjang-panjang. Menatap langit-langit yang menurutnya dapat sedikit meredakan emosinya.


Kembali ia pandangi sekitar, pakaiannya masih berserakan. Perlahan ia bangkit dan bereskan kekacauan yang dibuatnya. Namun tak ia kembalikan ke tempat seperti biasanya, ia merapihkan semuanya ke dalam sebuah koper. Meski belum terlintas ia akan berpisah dengan Yoga, namun saat ini ia pun tak ingin berlama-lama di rumah ini.


Cukup lama Yoga menunggu sembari duduk bersandar pada sofa ruang tamu hingga adzan dhuhur berkumandang. Ia melirik sejenak ke arah pintu kamarnya, masih tertutup dan sunyi. Perlahan ia pun bangkit dan memasuki kamar itu.


Nampak Aisyah yang sedang mengenakan mukenanya untuk melaksanakan shalat. Yoga mendekat.


"Aisyah.."


Panggilannya menghentikan Aisyah dari aktifitasnya, istrinya itu hanya melirik sekilas.


"Kumohon tunggu aku, biar aku yang menjadi imamnya." Pintanya memelas.


Aisyah diam sejenak tak lama ia mengangguk tanpa menoleh pada Yoga. Hingga sedikit tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk mengambil air wudhu.


Dengan penuh hidmat mereka laksanakan ibadah saat ini. Terutama Aisyah, sudah cukup lama mereka tak melakukan ini bersama. Beberapa kali ia setetes air mata lolos dari matanya.


Meski enggan namun Aisyah tetap menyambut uluran tangan Yoga dan menciumnya. Pun Yoga yang membenamkan bibirnya lama pada dahi Aisyah. Mereka saling memejamkan mata mereka, mengingat semua yang terjadi akhir-akhir ini kembali membuat mereka sadar dan Aisyah sedikit menjauhkan diri.

__ADS_1


Yoga menatap nanar istrinya yang dengan cepat melepas mukenanya. Tidak ada yang namanya Aisyah mengelus kepalanya setelah shalat. Padahal ia sangat merindukan momen itu. Sungguh Aisyah benar-benar jauh serangan. Netranya menangkap koper yang sudah tertata rapi, tiba-tiba degup jantungnya kembali berdegup dengan kencang.


"Aisyah..." Lirihnya menatap sang istri yang sedang menyisir rambutnya. Terlihat masih basah, ia berniat ingin mengambil sisir tersebut namun nahas justru Aisyah dengan cepat menyimpannya.


"Selesai." Pungkasnya singkat dan datar.


"Aku sudah tidak bisa menahan ini terlalu lama Mas, secepatnya akan aku urus perceraian kita. Kuharap kau tidak mempersulit semuanya."


Yoga membulatkan matanya. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu Aisyah. Ya Allah Aisyah, sudah berapa kali aku katakan padamu kulakukan ini semua demi dirimu. Karena aku mencintaimu! Tidak bisakah kau lihat sebentar saja ke dalam mataku?"


"Tapi kau telah berzina dengannya. Kau pikir aku tidak tahu itu semua. Jika kau mengutarakan semuanya dari awal mungkin aku akan sedikit menerimanya. Tapi apa? Kau menyembunyikan ini semua, kau sama sekali tak menghargai aku sebagai istrimu dengan menikahinya diam-diam. Sudah aku tidak ingin berdebat lebih lama denganmu. Keputusanku sudah bulat, aku yang akan mundur sekarang. Ku ucapkan selamat atas pernikahanmu itu." Dengan cepat Aisyah menyeret kopernya. Yoga tak kalap, ia pun berusaha menghentikan Aisyah.


"Lepas Mas, hubungan kita sudah sangat kacau seperti ini. Hatiku yang sudah kau hancurkan berkeping-keping tak akan membuatku kembali seperti dulu meski kau pertahankan aku di sisimu..." Aisyah terus meronta berusaha meloloskan diri dari Yoga.


"Tidak sayang, ku mohon. Jangan pergi dari sini, jangan buat aku gila dengan perpisahan ini Aisyah!"


"Lepas Mas!"


"Tidak, selangkah kau pergi dari sini pun tak akan pernah ku biarkan itu terjadi."


"Aku tidak bisa bertahan di sini lagi Pah. Aku sudah tidak mampu lagi untuk bertahan dengan putramu ini. Ku mohon biarkan aku pergi." Ujar Aisyah dengan deraian air matanya.


"Tapi kenapa Nak?"


"Mas Yoga Pah, dia sudah berselingkuh, berzina bahkan selingkuhannya sedang hamil. Papa ingat beberapa terakhir Mas Yoga tidak pulang, itu karena dia sedang bersamanya bahkan menikah dengannya Pah."


"Benar itu Yoga?" Haris menatap Yoga dengan penuh amarah.


"Tidak Pah, m-memang aku menikahinya tapi aku pun punya alasan dari itu semua-"


Plak. Tamparan keras melayang di pipinya. Aisyah pun terlonjak kaget melihat itu semua.


"Dasar anak tidak tahu diri, sudah sangat beruntung kau menjadi suami Aisyah. Kau tidak ingat dulu betapa berat perjuanganmu untuk mendapatkannya, tapi sekarang? Dengan bodohnya kau membuatnya berpaling." Ujarnya sinis.


Yoga menunduk, memang bagaimana pun ia menjelaskan semua. Perbuatannya sama sekali tak dibenarkan.

__ADS_1


"Sekarang biarkan Aisyah memutuskan pilihannya." Beralih menatap Aisyah nanar.


Aisyah yang masih menunduk perlahan mengangkat wajahnya. "Maaf Pah, aku memilih mundur dari pernikahan ini. Mas Yoga dengan dia sudah ada anak sebagai penguat hubungan di antara mereka. Namun tidak denganku, aku terlalu rapuh untuk menjalani semuanya. Toh aku bukanlah istri yang baik untuknya,"


"Jangan berbicara seperti itu Aisyah."


"Tapi buktinya Mas Yoga berpaling pada wanita lain Pah. Lihatlah dia yang begitu sempurna hingga sedang mengandung benihnya. Aku begitu payah.."


"Sudah cukup Nak, jangan pernah kau rendahkan dirimu sendiri di hadapan pria yang bahkan jauh lebih rendah darimu. Kau sempurna dengan segala apa yang melekat padamu, namun Yoga saja yang tak pandai bersyukur." Melirik Yoga tajam.


"Iya Pah maafkan aku, tapi bagaimana pun aku akan tetap pergi dari rumah ini. Secepatnya aku urus perceraian kita Mas." Tutur Aisyah dengan bergetar.


Yoga langsung menghampiri Aisyah, namun Haris menahannya. "Tidak, bahkan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu Aisyah."


"Sudah cukup Yoga, untuk apa kau mempertahankan semuanya. Kau hanya memberinya luka." Sergah Haris pada anaknya. "Pergilah Nak, tidak usah kau hiraukan Yoga. Insyaallah kebahagiaan menantimu di luar rumah ini." Aisyah mengangguk dan menyalami Ayah mertuanya itu. Bagaimana pun Haris adalah sosok yang sangat menghargainya sebagai menantu. Dirinya sudah layaknya seorang Ayah baginya.


Di ambang pintu, Aisyah kembali menoleh mendengar pekikan Yoga.


"Aisyah ingat, seorang istri yang meninggalkan rumah satu langkah saja tanpa izin suami maka laknat--"


Plak. Haris kembali melayangkan tamparan di pipinya. "Kau juga jangan lupa, satu tetes air mata yang dikeluarkan oleh wanita. 1000 dosa untuk lelaki yang menyakitinya!!"


Aisyah kembali menunduk melihat pertengkaran Ayah dan anak itu. "Maafkan aku membuat kalian seperti ini." Gumamnya tanpa terdengar oleh siapapun selain orang yang berdiri di belakangnya.


"Intan." Aisyah menoleh ke arah Haris dan berkerut dahi. Mendengar nama Intan, ia cari sosok tersebut ternyata sudah ada di belakangnya.


"Bawalah Aisyah pergi dari sini." Titah Haris pada keponakannya.


Intan mengangguk dan merangkul bahu Aisyah. Sebenarnya ia terkejut dengan semua yang di hadapannya namun perintah Pamannya lebih penting.


_____________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih ;)

__ADS_1


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2