
Senyum terbit dari bibir Jihan. Bagaimana tidak, dalam genggamannya kini terdapat sebuah tes dua garis biru. Bahkan ia tak mampu membendung air matanya.
Terlepas dari permasalahannya dengan Yoga tadi saat bangun tidur, ia lebih antusias dengan perasaannya saat mengetahui benih lelaki terkasihnya telah hadir dalam rahimnya.
"Bahkan alam pun merestui hubungan kita Kak, lihatlah hubunganmu dengan Aisyah. Bahkan sudah hampir dua tahun lamanya kalian tetap di beri anak. Semua ini membuktikan kalau memang Tuhan lebih mempercayakan aku dan kamu menjadi orang tua. Bukan kamu dengan dia. Terimakasih sayang. Kita akan menjadi keluarga yang sangat sempurna." Cicitnya mengusap lembut perutnya.
Ia melirik ke arah pintu, masih terdengar jelas Yoga yang masih tidak putus asa membujuknya. "Lihatlah Nak, Papamu sangat manis. Ia tidak mau Mama marah padanya."
Jihan begitu gemas dengan sikap Yoga saat ini. Kakinya ia arahkan menuju ruang tv. Melakukan suatu hal yang biasanya ketika ia marah. Jam sudah menunjukkan pukul 10, membuat Yoga melupakan perkataannya sendiri pada sang istri yang akan pulang lebih awal.
"Jihan ayolah, kau kan tahu sendiri aku memang sudah terbiasa dengan istriku. Jadi yang aku ucapkan memang reflek saja." Ucap Yoga penuh kelembutan.
"Iya bahkan kau memanggilnya dengan panggilan sayang. Sedangkan padaku? Apa dengan apa yang kita lakukan selama ini sama sekali tidak ada apapun pada dirimu Kak? Tidak kah kau tahu bahwa aku sebenarnya memang sangat mencintaimu!!" Sahut Jihan dengan meninggikan nada bicaranya di akhir.
Bagaimana reaksi Yoga? Tentu saja ia sangat terkejut. Bahkan segelas susu yang tadi ia buat untuk Jihan lolos dari tangannya. Pun panasnya cipratan air susu tersebut tak ia rasakan.
Ia menggeleng lemah, "T-tidak Jihan kau tidak boleh seperti ini." Lirihnya.
Jihan melebarkan matanya, "Apa maksudmu Kak?"
Yoga meraup wajahnya kasar, "Kau tahu aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai. Sekalipun tak pernah aku izinkan nama wanita lain merayap untuk memasukki hatiku. Bahkan untuk sekedar disandingkan dengan Aisyah saja aku sendiri tak mampu."
Dada Jihan terasa sangat perih. Ia tersenyum getir, dan menatap kosong arah lain.
"Jika memang itu kenyataannya, lalu kenapa selama ini kau merespon ku yang selalu mencari perhatianmu?!
Jika memang kau mencintainya, lalu kenapa kau mau bercinta denganku?!
Jika memang dia adalah tempatmu untuk pulang, kenapa kau harus singgah bahkan menginap kemari?!
Jika memang kau mencintainya, tentu kau tidak akan melukainya dengan selalu bersamaku?!
Jika memang dia adalah seseorang yang nomor satu di hatimu, kenapa kau selalu menomorsatukan aku?!
Jika memang kau tidak mencintai aku, kenapa harus memberiku kasih sayang dan perhatianmu?!
__ADS_1
Lalu, apa arti dari semua perlakuanmu padaku selama ini Kak?! Jawab?!!"
Yoga menundukkan kepalanya lemah, ia sendiri tak tahu mengapa ia melakukan ini semua. Baginya Jihan bagaikan seorang adik kecil yang manis, namun pesona yang Jihan suguhkan padanya ia tak mampu menolaknya.
Hatinya memang hanya ada Aisyah, tapi Jihan sudah hadir dalam hidupnya sampai sejauh ini.
Pandangan Jihan semakin lama semakin kabur, tidak dapat ia rekam dengan jelas wajah Yoga. Hingga,
Brug.
...***...
Tidak seperti biasanya, Aisyah hanya melirik dan diam menanggapi Ibu mertuanya yang sudah pagi-pagi mengeluarkan segala titah dan perintah tanpa nada halus.
Jika biasanya ia akan mengucapkan maaf, baik Ma atau perkataan-perkataan lain yang diharapkan mampu meredam sedikit saja emosi dalam Ibu mertua. Saat ini, ia hanya mengangguk, melirik sekilas dan mengerjakan tugasnya.
Intan yang merasakan suatu perbedaan dalam diri Aisyah tentu dapat menyadarinya. Sangat jarang Aisyah bersikap cuek seperti ini.
"Aisyah." Panggilnya menyentuh bahu Aisyah.
"Kau? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya balik.
Aisyah menghela nafasnya panjang, "Tidak ada In, hanya lelah saja."
Intan sadari Aisyah yang berbohong, "Biar aku saja yang kerajakan ini yah. Kau bisa mengerjakan yang lain saja." Aisyah mengangguk tanpa protes.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Aisyah duduk di taman kecil di samping rumah mertua serta suaminya itu. Sekali lagi ia lirik jam yang ada di ponselnya. Sudah jam 1 siang, namun belum ada tanda-tanda Yoga kembali.
Bahkan mengirimkan pesan pun tidak, tentu saja ia tidak ingin menelpon atau mengirimkan pesan terlebih dahulu.
Ting.
Tiba-tiba saja ada sebuah pesan dari nomor pria yang kemarin sempat ia tanyakan tentang suaminya.
Maaf tapi kemarin kau menanyakan tentang Yoga, jadi kupikir dengan mengirimkan ini kau yang lebih tahu bagaimana dia sekarang. Disertai beberapa foto.
__ADS_1
Aisyah yang penasaran, ia tekan foto tersebut dan mengunduhnya.
Tiba-tiba saja matanya melebar dan mulutnya ia kunci dengan mulutnya. Hatinya yang memang sudah dari kemarin mulai rapuh kini semakin koyak dengan kenyataan ini.
Foto 1. Yoga yang membopong seorang wanita dengan wajah yang sangat panik.
Foto 2. Yoga yang menggenggam erat tangan seorang wanita ketika wanita itu terbaring lemah di brangkar.
Foto 3. Yoga yang meminta suster untuk menemani wanita itu dengan paksa.
Foto 4. Yoga yang terlihat begitu kacau dan lemah menyandarkan tubuhnya di dinding serta adanya sebuah tespek di hadapannya.
Sudah tak terhitung berapa jumlah tetes air yang keluar dari mata Aisyah. Dadanya dirundung pilu, merapatkan perih yang sudah dari kemarin singgah, sembilu yang ia pikir hanya berkunjung nyatanya akan tinggal. Semakin menekan duri-duri yang telah tertancap dalam sanubarinya.
Mustahil rasanya untuk sekedar bangkit, bahkan tidak ada yang bersedia untuk sekedar melirik keadaannya. Pikirannya berkecamuk, terlintas bayang-bayang perubahan demi perubahan Yoga selama ini.
Aisyah, namamu sudah terukir sangat indah bahkan dari awal aku melihatmu. Dengan kelembutan, kecantikan hati, dan perilakumu membuatku tidak dapat menahan rasa yang kian tumbuh.
Aisyah, memang masih banyak sekali lelaki yang lebih baik dari aku. Tapi dengan segala yang kumiliki akan ku buat semuanya begitu indah. Dengan caraku, cara kita.
Aisyah, terimalah pria dengan segala kekurangan yang ada ini. Jadilah belahan jiwaku sampai akhir dunia ini, sampai hari dimana kita akan berada pada kebahagiaan tiada akhir.
"Nyatanya ketika semua telah kau dapatkan, kau hancurkan sendiri ini semua Mas," Aisyah tersenyum getir dengan air mata yang telah bercucuran.
"Dengan lidahmu kau buat aku percaya, dengan perbuatanmu kau buat aku yakin, dan kini dengan pengkhianatan yang kau lakukan kau buat aku hancur, dengan ganasnya kau robek kepercayaan yang telah kau bangun dengan kokoh, mendorongku kedalam tebing begitu dalam dan curam."
Aisyah menggeleng keras dan menekan dadanya kuat-kuat. Berharap beban yang menghimpit itu menghilang, namun tidak ada satu pun yang lolos untuk turut memberinya luka.
___________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote
Terimakasih
Ig: @nick_mlsft
__ADS_1