
Sebelum pergi ke restoran, entah kenapa Aisyah ingin sekali pergi ke rumah dimana suami serta madunya berada. Hatinya berdegup kencang tatkala mobil yang sedang ia kemudikan semakin dekat jaraknya dengan rumah itu.
Hatinya bak diremas seketika melihat pemandangan harmonis pasangan pengantin baru di hadapannya. Tak sanggup lagi ia bendung air mata yang telah mengenang bahkan sedari ia pergi kemari.
Di sana, nampak sang suami dengan lembut mendaratkan kecupannya di dahi Jihan. Perlahan Yoga menurunkan tubuhnya, mensejajarkan dirinya dengan perut istri keduanya.
"Sayang baik-baik ya di sana. Ingat jangan merepotkan apalagi menyusahkan Mama." Ucapnya sembari tersenyum.
"Iya Papa," jawab Jihan menirukan suara anak kecil. Membuat Yoga semakin melengkungkan senyumnya dan mengacak gemas rambut Jihan.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam." Jihan memandang mobil Yoga yang semakin menjauh. Sesekali ia lambaikan tangannya.
Aisyah yang melihatnya segera menghapus air matanya dan membetulkan make up-nya. Bagaimana pun ia harus menghampiri Jihan dan terlihat baik-baik saja.
Jihan yang merasa membutuhkan sesuatu pergi menuju sebuah warung terdekat. Sepanjang perjalanan tiada henti ia meleburkan senyumannya. Orang-orang yang melewatinya pun tersenyum menyapa.
Namun senyum itu hilang ketika netranya mendapati seseorang yang sedang berdiri di depan rumahnya. Ia menatap dirinya santai dan terlihat angkuh.
Memang bukan kali pertama Jihan melihat istri dari suaminya, wanita yang ingin ia miliki suaminya secara utuh, namun untuk bertemu secara langsung seperti ini adalah yang pertama buatnya. Sungguh nyali dalam dirinya seketika menciut. Bahkan ia belum menyiapkan apa-apa jika bertemu seperti ini.
Penampilan Aisyah yang begitu cantik dan anggun dengan pakaian syar'i yang melekat pada tubuhnya semakin membuatnya kerdil. Keringat dengan bebas meluruh ke hampir seluruh tubuhnya. Ia mencengkeram tangan yang tiba-tiba dingin kuat.
"Assalamu'alaikum." Ujar Aisyah menampilkan senyum terindahnya.
"Wa'alaikumussalam.". Jawab Jihan menunduk, namun berusaha ia angkat dan membalas senyum yang dilemparkan Aisyah padanya.
__ADS_1
Aisyah melihat wajah yang memandangnya dengan senyuman itu seketika menaikkan salah satu sudut bibirnya memandang remeh Jihan. Membuat Jihan kembali mendudukkan pandangannya. Ia yakini bahwa Aisyah telah mengetahui semuanya dan ingin berbuat sesuatu.
"Boleh aku bertamu ke rumahmu Jihan?" Penuh penekanan di setiap kata yang terucap.
"T-tentu, ayo kita langsung masuk saja." Aisyah mengikuti kemana langkah Jihan berjalan. Dilihat dari postur tubuhnya memang Jihan terlihat masih sangat muda dan mulus.
Pantas kau sangat mencintainya Mas, dia sangat cantik dan muda. Pasti kau menemukan sensasi lain saat menjamahnya. Cih, tapi masih belum bisa aku percaya bahwa kau bisa mengkhianati aku. Setelah lima tahun kita mengenal dan dua tahun kita hidup bersama kau bisa melupakan perasaanku dengan begitu mudahnya? Bahkan beberapa hari terakhir kau mengacuhkan aku. Diam-diam tersenyum miris.
Jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya tatkala melihat wajah bahagia dari kedua orang yang sangat ia benci. Menunjukkan jemari yang saling terikat oleh cincin pernikahan. Jihan menoleh sejenak memperhatikan raut wajah Aisyah yang sedang memusatkan pandangannya pada foto yang terpajang di dinding ruang tamu itu.
Memang terlihat biasa saja, namun Jihan tahu bahwa keadaan Aisyah tentu sangat tidak baik-baik saja. Seketika perasaan bersalah mencuat ke permukaan. Rasa cintanya mungkin memang tidak salah, namun segala tindakan dan keegoisan yang ada dalam dirinyalah yang tidak tepat sesuai keadaan.
"Maaf Aisyah." Gumamnya dan pergi menuju dapur untuk menyiapkan jamuan untuk Aisyah. Semua telah terjadi, menyesal pun sudah tidak ada gunanya.
Aisyah terduduk lemas di sofa ruangan itu, sungguh semua yang ada di hadapannya kini benar-benar membuatnya sulit untuk bernafas. Jihan dengan pelan meletakkan nampan di atas meja, memperhatikan wajah Aisyah yang terlihat sangat datar.
"Kenapa?" Tanya Aisyah memotong pembicaraan Jihan dan tanpa melihatnya.
Jihan menunduk menutup mulutnya rapat. Aisyah menatap tajam Jihan seolah akan menghunus jantung Jihan.
"Kau bangga mempersembahkan hidupmu pada seorang pria beristri? Kau bangga benih dari seorang pria beristri menempati rahimmu? Kau bangga dengan tubuhmu membuat seorang pria beristri mengacuhkan istrinya?"
Tubuh Jihan membeku, cengkeraman di tangannya semakin erat. Perbuatannya memang sungguh tak dapat dibenarkan.
"Maaf saya tahu saya salah telah membuat suami anda menikahi saya. Tapi saya pun tidak ada pilihan karena-"
"Perbuatan jahanam kalian mengakibatkan adanya janin di rahimmu? Begitu? Lalu bagaimana jika dia tidak ada, tentu kalian juga akan tetap melanjutkan hubungan haram ini bukan?" Tanpa sadar mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Mulut Jihan semakin terasa berat walau hanya untuk membuka. Entah kemana nyali yang selama ini ia siapkan untuk menghadapi Aisyah bila bertemu.
"Bukankah kau masih sangat muda? Masih banyak mimpi yang dapat kau bangun? Masih banyak pula pria yang lebih baik dari suamiku bila kau mau? Tapi mengapa kau menjatuhkan pilihan untuk menjadi istri kedua dan menjadi Ibu di usiamu yang masih sangat muda Jihan?" Teriak Aisyah di depan Jihan.
"Karena aku mencintainya? Sebelum kau menyalahkan aku, tanyakan terlebih dahulu pada suamimu? Mengapa ia harus memberikan perhatiannya padaku? Mengapa ia mau melindungiku? Mengapa ia mau menyentuhku? Mengapa benih yang ia tanam ternyata tumbuh dalam rahimku? Jika saja dari awal ia tidak melakukan itu semua tentu aku tidak akan menyimpan perasaan padanya! Perbuatannyalah yang membuatku tak mampu menahan lajunya perasaan yang ia pupuk setiap harinya." Balas Jihan tak kalah berteriak. Sejenak ia tersenyum sinis meremehkan penampilan Aisyah.
"Coba kau lihat dari dirimu sendiri! Coba tanyakan pada suamimu mengapa ia bisa sampai berpaling? Kau hanyalah benalu yang hadir dalam hidup Yoga. Yang ia dapatkan ketika bersamamu hanyalah tekanan dari orang-orang yang mengira dia mandul.
Tubuhmu yang tidak lagi menarik, tiada guna suamimu menyalurkan hasratnya padamu karena percuma sampai kapanpun kau tidak akan bisa memberinya keturunan.
Tekanan dari orang tuanya sendiri karena ulahmu? Tidak pernah ia rasakan ketenangan saat bersamamu? Tapi lihat saat ia bersamaku, hanya ada canda dan tawa mengiringi kebersamaan kami. Bahkan benih cinta kami pun sebentar lagi akan hadir. Sekarang, apa pentingnya hidupmu dalam hidup Yoga Aisyah? Kau hanyalah benalu, bahkan Ibu mertuamu sendiri membencimu-"
Plak.
Sudah cukup Aisyah menahan emosi dalam dirinya. Bahkan rasanya hanya menghadiahkan Jihan dengan tamparan pun tidak cukup.
Jihan mengusap pipinya yang memerah, air matanya tak dapat lagi ia bendung. Entah apa yang sedang dirasakan ia pun tidak mengerti. Ia sadari telah berbuat jahat dengan menggoda suami orang, bahkan sekarang dengan tega ia lontarkan perkataan keji pada wanita yang ia rebut belahan jiwanya.
Ceklek.
"Jihan tolong-"
__________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote
Terimakasih ;)
__ADS_1
Ig: @nick_mlsft