Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Rencana Kepindahan?


__ADS_3

Intan menatap iba ke arah Aisyah, dapat ia rasakan getaran halus saat ia merengkuh tubuh yang rapuh hatinya.


"Aku tidak tahu aku harus apa sekarang In, salahkah aku memiliki orang tua yang memiliki kehilafan dulu? Salahkan aku yang keguguran. Aku sendiri juga sakit hati dan lelah karena kehilangannya.


Kenapa mereka harus menyalahkan aku, jika mereka tidak dapat bisa mendapat gelar Kakek, Nenek dan Ayah. Aku juga tidak bisa mendapat gelar Ibu. Tak pernah ada yang mau menanyakan bagaimana perasaanku, bahkan sakitnya tubuhnya pasca keguguran juga tak pernah ada yang tahu.


"Haruskah aku mundur dari pernikahan ini In?" Tanya Aisyah lemah. Ia sudah pasrah, mulai jengah dan putus asa dengan nasibnya.


"Apa cintamu hanya sebatas itu pada Yoga Ai? Ingat bagaimana perjuangan Yoga dalam mengejar cintamu dulu? Bahkan sampai sekarang pun, dia mengajakmu untuk berjuang bersama. Aku yakin, lambat laun Tante akan merubah pikirannya tentangmu. Hanya saja sekarang, kau perlu bersabar lebih ekstra lagi.


Bahkan Yoga juga selalu ada di sampingmu, ada aku juga di sini. Jangan pernah berpikiran untuk mundur Ai. Dengan adanya rintangan ini, keadaan akan membuat cinta di antara kalian akan semakin kuat. Percayalah padaku." Ungkap Intan sungguh-sungguh.


Aisyah menghela nafasnya sejenak, ia sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Ku benar, baiklah aku akan tetap bertahan dan selalu berada di sisi Mas Yoga." Sahut Aisyah yakin.


Intan tersenyum, "Bagus."


......***......


"Aish," ucap Yoga dengan halus.


"Iya Mas." Jawab Aisyah tersenyum.


Yoga membuang nafas kasar, ia sapu keningnya dengan jari-jari yang terasa dingin. Tak tahu ia harus memulai ucapan yang bagaimana. Siang tadi, memang ia lihat bagaimana sikap sang Ibu pada istrinya.


"Maaf." Ujarnya dengan penuh rasa bersalah.


Dahi Aisyah mengernyit, "Untuk?"


Yoga menggeleng lemah, sejurus kemudian ditatapnya wajah teduh nan menenangkan istrinya.


"Maaf atas semua perkataan Mama padamu sayang." Tutur Yoga lembut, rasa dingin menjalar di telapak tangan Aisyah. Seketika, ia rasakan juga sentuhan hangat dan cinta yang penuh di jemarinya.

__ADS_1


Senyum terukir manis di bibir Aisyah. "Tak perlu seperti ini Mas, aku yakin Mama hanya membutuhkan waktu untuk menerimaku."


"Tapi sampai kapan Aisyah, bahkan sudah satu tahun kita bersama, namun Mama sama sekali tak menampakkan bahwa beliau telah menerimamu. Bahkan semakin hari, banyak saja tingkah lakunya.


Aku juga sangat minta maaf padamu, karena aku yang notabenenya suamimu. Namun tetap membiarkanmu diperlakukan seperti itu. Aku juga tahu hatimu yang selalu rapuh, kala orang-orang yang menanyakan anak ke kita." Yoga menerima kehadiran Aisyah ke dalam rengkuhannya. Tak lupa, sentuhan halus ia berikan di rambut surai milik istrinya.


"Anak itu rezeki Mas, jika memang kita belum dikasih. Ya mungkin karena kitanya yang belum diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua."


"Kemarin aku sempat mencari-cari rumah untuk kita sayang."


Aisyah mendongakkan wajahnya, "Rumah untuk kita?" Sedetik kemudian, ia rasakan bibir suaminya yang mendarat di keningnya.


"Iya sayang, jujur saja sudah beberapa kali aku berbicara dengan Mama untuk merubah perilakunya. Namun tetap saja tak ada perubahan, aku juga tidak ingin sampai kehilangan kendaliku saat beliau memarahimu.


Bagaimana pun Mama tetaplah sangat penting untukku, aku tidak mau melihat dua wanita yang aku cintai saling tersakiti seperti ini. Aku tahu Mama selalu diolok-olok oleh temannya lantaran tidak memiliki cucu. Dan aku tahu kamu selalu sakit hati karena ucapan Mama.


Maka dari itu, lebih baik kita keluar dari rumah ini. Namun bukan berarti kita benar-benar meninggalkan orang tua kita. Kita akan sering-sering pergi ke rumah ini. Bagaimana menurutmu sayang?"


"Apapun keputusan yang ingin kamu ambil, tentu aku akan mengikutinya Mas. Tapi, bagaimana dengan perasaan Mama. Apa dia tidak sedih jika kamu berada jauh dari ya. Sedari kecil kamu berada di sini."


"Kau akan mengikuti apapun keputusanmu Mas." Jawab Aisyah.


...***...


"Aisyah!!!!, Dimana kamu?!!" Seru Dewi di pagi-pagi sekali. Sedangkan Aisyah yang masih bergelut dengan selimutnya terkejut dan langsung membuka matanya.


Retinanya tak menangkap kehadiran sosok lelaki yang sejak malam menemaninya.


"Iya Mah." Jawab Aisyah terburu-buru menyambar hijabnya.


Ceklek.


"Ada apa Mah?" Tanya Aisyah dengan wajah bantalnya.

__ADS_1


Tanpa diminta untuk masuk, Dewi menyelonong begitu saja. Bahu Aisyah terguncang agak keras, terlonjak kaget karena sang mertua yang menutup pintu dengan kencang. Sorot mata kejamnya ia layangkan pada Aisyah.


Aisyah begitu gugup saat ini, beberapa kali ia perbaiki hijabnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Apa kau benar-benar tidak memiliki malu Aisyah?" Tanya Dewi dengan pelan namun penuh penekanan.


Mulut Aisyah bergetar, efek dari hatinya yang seakan sedang diporak-porandakan oleh perkataan yang keluar dari mulut mertuanya. Ia ingin menjawab, namun entah beban apa yang tengah menghimpit hingga mengangkat salah satu bibitnya saja tidak bisa.


"M-maksud Mama apa?" Tanya Aisyah bergetar.


"Maksud Mama apa?" Cibir Dewi mengejek. "Dengar Aisyah, kamu itu sudah wanita pembawa sial, tidak bisa memberi anak, bisanya hanya mengusahakan. Dan sekarang, kamu mau menculik putraku satu-satunya? Dimana pikiranmu Aisyah?


Aku sudah bisa menerima sikap Yoga yang semakin hari semakin tak menuruti perkataanku, juga yang semakin menjauh dariku. Tapi sekarang? Dengan teganya kau ingin menjauhkannya dariku. Dimana otakmu Aisyah?!" Seru Dewi.


"M-maaf Mah, aku sama sekali tak bermaksud untuk melakukan itu semua."


"Aku tahu kau pasti ingin membalaskan dendam mu kan?" Aisyah menggeleng. "Jangan mentang-mentang sekarang kau adalah wanita yang sangat dicintai oleh Yoga sekarang, hingga kau mencuci otaknya untuk meninggalkan rumah ini.


Baru kemarin malam, pikiranku berubah tentangmu Aisyah. Suamiku memintaku untuk sedikit saja, memikirkan tentang perasaanmu. Tapi ternyata salah, kau hanyalah gadis picik yang dibalut hijab. Kau benar-benar membuatku kecewa Aisyah." Lirih Dewi.


"Mah, aku sama sekali tidak pernah meminta Mas Yoga untuk pergi dari rumah ini."


"Tidak ada alasan Yoga untuk pergi selain dirimu Aisyah. Bahkan dari awal, Yoga benar-benar asing untuk Mamanya sendiri. Sosok yang selalu patuh dan menurut pada Mamanya kini hilang, setelah hadirmu yang selalu meracuni pikirannya.


Kuperingatkan sekali lagi Aisyah, jangan sampai kau membuatku marah dengan kepergian Yoga dari rumah ini. Atau aku yang secepatnya akan membuat pernikahan kalian bubar." Tegas Dewi, ia buka dengan kasar pintu kamar anak dan menantunya.


Aisyah tersenyum miris, tubuhnya runtuh tak mampu lagi ia tahan beban yang kian berat setiap harinya.


Ya Allah, kenapa harus ujian seperti ini yang harus aku jalani. Tidak cukupkah sikap mertuaku dan cibiran orang di setiap harinya. Kini bahkan mertuaku sendiri, telah mulai mencoba untuk merusak pernikahanku. Tidak bisakah, Kau bolakkan hatinya untuk menerimaku. Ucapnya dalam hati, bulir-bulir air matanya kini meluruh membasahi pipinya.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih yang sudah mau mampir ;)

__ADS_1


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2