
Di sepertiga malamnya, seseorang menengadahkan tangannya pada sang Pencipta. Dengan kekhusyukan penuh ia berbisik lirih mengadu pada-Nya.
Allahumma shalli'ala sayyidina Muhammad, wa'ala Ali sayyidina Muhammad.
Ya Allah Ya Rab, hamba hanyalah seorang manusia lemah. Kesalahan tak pernah luput hamba lakukan, kadang kala hamba-Mu ini memilih untuk tidak lulus ujian yang telah Engkau berikan. Ya Allah, hanya kepada Engkau hamba meminta, hanya kepada Engkau hamba mengadu.
Dengan segala kuasa yang Engkau miliki, berikanlah pengampunan kepada hamba, kepada orang tua hamba, kepada seluruh saudara-saudaraku (umat muslim). Kuatkanlah hati hamba untuk menjadi benteng dari segala godaan di dunia. Teguhkanlah hati hamba, kala hamba mendapati sebuah jalan yang membuat hamba goyah. Aisyah semakin terisak di saat ia juga mengingat pelik kehidupan yang ia alami
Ya Allah, berikanlah kasih sayangmu pada hamba. Peluklah hamba Ya Allah. Limpahkanlah segala cinta yang hamba miliki untuk Engkau. Agar tiada hamba temukan apa itu kecewa. Hanya kepada Engkau hamba berharap.
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina 'adzabannar, aamiin.
Diakhiri dengan dahi yang bertemu dengan sajadah, Aisyah pun beranjak dari duduknya dan segera membantu Ibuk dan Zara menyiapkan makanan sahur.
"Wah, Aisyah sudah mulai ikut sahur toh?" Celetuk Ibuk kala melihat Aisyah yang bergabung bersama dengan mereka setelah menyiapkan sahur.
"Iya Buk, Alhamdulillah." Sahut Aisyah tersenyum senang.
Ibuk mengangguk. "Jadi nanti kita bisa ramai-ramai pergi ke Masjid, biasanya setelah shalat subuh kita semua bertadarus satu jus satu orang. Jadi setiap harinya, Insyaallah kita hatam."
Zara ikut tersenyum mendengarnya, tanpa mereka sadari seorang anak kecil dengan rambut acak-acakan datang ke arah mereka.
"U-nda..." cicitnya memanggil seseorang yang selalu ada di hadapannya kala pertama kali membuka mata.
Sontak Zara dan Aidan menoleh dan menghampiri jagoan mereka. "Eeh, Syauqi. Sudah bangun tah? Mau ikut sahur juga hm? Ada aunty, eyang uti dan eyang kakung. Lihat!"
Syauqi melihat ke arah mereka, giginya seketika nampak begitu lebar dari bibir mungilnya. Ia mengangguk menyetujui.
Setelahnya mereka kembali ke kamar masing-masing, untuk bersiap-siap pergi ke Masjid. Sementara menunggu tiba waktu imsak dan subuh, Aisyah membuka mushaf Al-Qur'an-nya.
Waktu sahur setiap umat muslim dapat diisi dengan membaca Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan pada waktu itu) lebih berksesan.” (QS. Al-Muzammil: 6).
__ADS_1
***
Lagi-lagi Jihan hanya bisa menahan nyeri dalam hatinya saat kembali melihat pemandangan kurang mengenakkan. Yoga sang suami kembali berjalan bersama wanita lain.
Dira yang turut melihatnya, pun memegang lengan Jihan. "Apa kau hanya akan seperti ini saja? Ingat Jihan, bagaimana pun kau seorang perempuan. Meski caramu salah dalam mendapatkan Yoga, bukan berarti kau harus diam menerima semua perlakuannya padamu Jihan!"
Dira yang geram dengan perbuatan Yoga, ditambah dengan Jihan yang hanya diam membisu pun mulai mengayunkan langkah ke arah Yoga. Namun sebelum itu, Jihan menahan pergelangan tangan Dira.
Jihan menggeleng, "Biar aku saja yang menyelesaikan ini semua di rumah. Setelahnya aku akan memberitahumu apa yang akan aku lakukan." Dahi Dira mengernyit mendengar penuturan Jihan.
"Maksudmu?"
"Sekarang kita pulang saja, kau bantu aku untuk membereskan semua pakaianku. Mengenai penawaranmu saat itu, aku telah memikirkannya matang-matang. Aku menerima tawaranmu untuk sementara pergi dari rumah Yoga."
Binar nampak dari mata Dira, ia tersenyum senang mendengar penuturan Jihan.
"Benarkah, baiklah kalau begitu. Kita pergi sekarang." Ajak Dira, merasa Dira terlalu tergesa membawanya. Jihan menahan kuat lengan Dira, wajahnya meringis menahan sedikit nyeri pada bagian perutnya.
Dira sedikit terkekeh, "Baiklah pelan-pelan saja." Jihan mengangguk.
--
"Sayang, mau sampai kapan kita akan terus berhubungan seperti ini. Kau tidak ingin memberiku kepastian?" Tanya Anna bergelayut manja di bahu Yoga.
Terdengar helaan nafas panjang dari Yoga, ia sendiri juga bingung dengan kejelasan hubungannya dengan Anna. Diusapnya lembut bahu Anna yang sedikit terbuka.
"Kau juga masih berhubungan bukan dengan Bagas? Biarlah semuanya ini terjadi tanpa mengharap apapun Anna. Hubungan di antara kita hanyalah simbiosis mutualisme. Hanya untuk memperoleh keuntungan saja, bukankah seperti ini saja sudah membuat kita bahagia.
Aku selalu ada untukmu di saat Bagas tak ada di sampingmu. Kau juga selalu menemaniku. Lagipula Jihan sedang hamil sekarang, mana mungkin aku harus melepaskannya. Bahkan Papa meminta untuk mengesahkan pernikahan kami ketika anakku lahir."
Anna mendengus mendengarnya, ia menjauh dari Yoga menunjukkan aksi protesnya.
__ADS_1
"Untuk masalah Bagas aku bisa dengan mudah mengurusnya. Mas, apa kau sama sekali tak ada rasa padaku? Kebersamaan kita selama ini, apa kau sama sekali tak menganggapnya apapun. Aku tahu kita sama-sama memiliki pasangan, tapi apakah tidak mungkin jika kita juga menjadi pasangan seperti pada umumnya?!
Bagaimana pun aku seorang wanita Mas, aku juga memiliki keinginan. Dan sekarang keinginanku hanya satu, yaitu dirimu Mas." Pekik Anna bahkan hampir memenuhi seluruh ruangan.
Yoga segera meraih Anna dalam pelukannya, sempat memberontak. Namun kemarahan Anna berangsur mereda kala Yoga menghujaninya dengan sentuhan lembut di wajahnya. Perlahan, Anna menerima tangan Yoga yang seolah mencari jejak pada lekuk tubuhnya.
Tanpa mereka sadari sebuah kamera menangkap aktivitas panas yang sedang mereka lakukan.
--
Darah Bagas seolah mendidih menatap benda pipih yang berada di hadapannya. Cengkeraman pada ponselnya begitu erat seolah ingin meremukkan benda tersebut.
Puk.
"Dari awal gue dah bilang Amanda bukan cewe baik-baik seperti yang lo lihat. Sekarang, ck. Tau dah," ujar seorang pengirim pesan berupa gambar-gambar yang membuat Bagas naik pitam.
"Bener-bener, jadi ini alasan kenapa Amanda jarang ada waktu buat gue. Padahal gue dah berusaha buat ngeluangin waktu buat dia. Gue pikir dia cewe polos dan masih gadis. Tapi ini?
Parahnya, selingkuhannya sahabat gue sendiri. Gue pikir Yoga bakalan tobat dan bakal serius bareng Jihan setelah Aisyah pergi ninggalin dia. Jihan lagi hamil anaknya loh, kok bisa-bisanya?!" Bagas menghalau rambutnya gusar, ia tarik nafas dalam-dalam. Seolah bersiap untuk melakukan pertandingan.
Ia sambar kunci yang berada di atas meja, bersama sahabatnya yang lain. Bagas pergi mengendarai mobilnya menuju apartemen dimana kedua manusia tidak tahu diri dan malu itu berada.
Brak.
Tatapan sinis serta jijik seolah mengguliti kedua pasang tubuh yang tengah menyatu. Sontak, hal itu membuat keduanya menoleh dan terkejut. Berlomba-lomba mereka menutupi tubuhnya.
__________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
__ADS_1
Ig; @nick_mlsft