
Bug.
Tanpa persiapan apapun, tubuh Yoga terhuyung begitu saja ke lantai. Sedang Manda yang langsung meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Benar-benar menjijikan!!! Bahkan di bulan seperti ini kalian tidak malu berbuat seperti ini?!" Seru Bagas kembali menghantam tubuh Yoga tanpa ampun.
Yoga yang masih dalam keadaan lemas karena aktivitasnya hanya bisa terdiam tanpa melawan dan meringis sakit. Pukulan demi pukulan dari Bagas membuat kesadarannya seakan hilang.
Sahabatnya yang sedari tadi mengikuti berusaha melerai keduanya. Begitu pula dengan Manda, ia rengkuh tubuh Bagas dari belakang agar menghentikan aksinya.
Bagas semakin tersulut emosi kala tubuh polos Manda menyentuhnya, tanpa ampun ia hempaskan Manda.
"Berani-beraninya kau sentuh aku b****!!" Sakit Manda rasakan lantaran punggungnya yang terbentur oleh sudut meja.
Memang Bagas sendiri tidak tahu perasaan seperti apa yang ia miliki untuk Amanda, namun harga dirinya sebagai lelakilah yang tidak bisa ia terima direndahkan seperti ini. Bahkan ia yah bujangan sudah mau menerima Manda apa adanya meski ia tahu Manda sudah tidak gadis lagi.
Karena ia sendiri yang mengulurkan tangannya untuk Manda agar keluar dari lembah kegelapan. Di hadapannya kini, bagai kacang lupa kulit. Manda mengkhianatinya bahkan dengan sahabat karibnya sendiri.
Bagas tahu bahwa ia usianya lebih muda dari Manda, ia juga bukanlah lelaki yang berpengalaman dalam menjalin hubungan dengan wanita. Jiwanya yang masih muda, membuat ia bekerja lebih keras karena ia juga masih menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Hingga membuatnya tak terlalu memperhatikan Manda. Namun tidak bisakah Manda menerima dan menunggunya sebentar lagi. Ia akan berusaha memberikan apapun yang Manda mau, tapi ternyata Manda tetaplah seorang p******.
"Aaah, sakit.." rintihnya. Bahkan punggungnya terlihat langsung membiru.
Bukannya prihatin, Bagas justru tersenyum sinis. "Jadi dia yang kau maksud Anna hah?!!"
Yoga semakin lemah dengan tubuh lebam di mana-mana, ia tak mampu menjawab pertanyaan Bagas.
Sorot mata Bagas ia fokuskan kembali pada Manda yang tergeletak lemah. "Kupikir kau bekerja menjadi wanita penghibur bukankah karena keinginanmu. Tapi ternyata aku salah, kau melakukan itu dengan senang hati.
Hidup denganku membuatmu lapar ya? Hingga kau melakukannya dengan sahabatku sendiri karena aku menolaknya." Bagas tersenyum sinis namun juga miris.
--
"Jihan?"
Jihan menoleh ke arah Dira. "Ada apa?"
"Sudah sampai." Manik mata Jihan menilik ke segala arah, memang benar mereka telah sampai di depan rumah milik mertuanya.
Pikiran yang terus tertuju pada Yoga membuat ia tak memperhatikan perjalanan mereka.
"Oh ya, ya sudah ayo langsung turun saja."
"Tunggu." Memegang tangan Jihan. "Bukankah ada mertuamu?"
Jihan tersenyum menggeleng. "Tidak, biasanya mereka masih tadarus setelah Isya'."
__ADS_1
Dira mengangguk, "Oh Baiklah. Ayo kita masuk."
Mereka mulai mengepak pakaian milik Jihan, sebenarnya jauh dalam diri Jihan ia begitu berat untuk meninggalkan Yoga. Namun, ia sudah tak dapat menahan ini semua lebih lama lagi, biar bagaimanapun dia tetaplah seorang perempuan yang memiliki keinginan.
Hanya ketenanganlah yang ia inginkan sekarang, ia juga memikirkan kandungannya. Bukankah kesehatan mental dan fisiknya juga berpengaruh pada sang janin.
Sebelum Jihan meninggalkan semuanya, ia selipkan satu surat di lemari tepat bawah pakaian milik Yoga.
Maafkan aku Kak, bukan maksudku untuk meninggalkanmu. Namun ini semua demi kebaikan anak kita. Aku juga ingin memberimu waktu sejenak untuk merenungkan segalanya. Memulihkan hatimu yang masih terluka karena kehilangan wanita yang amat kau cintai itu.
--
"Menyesal aku mengajakmu waktu itu, harusnya aku sadar. Seberapapun indah dan nikmat makanan yang aku hidangkan untukmu. Tetaplah barang kotor yang menjijikan yang akan dipilih oleh lalat. Kau hanyalah seorang wanita yang haus akan sentuhan.
Terimakasih telah menunjukkan dirimu yang sebenarnya, Andi mari kita rayakan hari ini. Aku telah berhasil membuang lintah dalam hidupku. Aku sudah tidak perlu khawatir dia mengangguku karena seseorang telah memungutnya."
Bugh. Wajah Yoga kembali terpelanting ke samping karena tendangan kaki dari Bagas yang tepat mengenai rahang tegasnya.
Brakkk!
Pintu tertutup dengan keras! Beberapa pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka menghampiri kamar Manda dan Yoga berada.
"Benarkan Bu dugaan saya!"
"Mereka bukan suami istri."
"Ya, itu pasti yang istri sahnya."
"Duh, lagi hamil kok malah ditinggal."
"Bulan puasa begini kok masih ada saja yang tidak bisa menjaga nafsu. Na'udzibillah ya Bu,"
Telinga Manda sudah begitu panas mendengarnya. Air matanya kembali mengalir, lagi-lagi ia mendapatkan hinaan dan cercaan dari orang-orang. Padahal akhir-akhir ini, ia sudah begitu tenang karena tidak lagi diganggu hidupnya karena pekerjaannya.
Namun sekarang, pembelaan seperti apa yang harus ia ucapkan. Semua yang ia dapatkan adalah karena kesalahannya sendiri.
Dengan tubuh lemah ia menyambar kain untuk sekedar menutup tubuhnya. Ia tutup juga pintu tersebut, tanpa mempedulikan ejekan yang ia dapatkan dari orang-orang itu.
Ia meraung, entah ia harus senang karena Bagas telah mengetahuinya hingga ia dapat hidup dengan Yoga. Atau sedih karena dengan ini ia kembali dipandang rendah oleh sekitar. Sedangkan Yoga, setitik air mata juga turun membasahi pipinya.
Pandangannya kosong, kembali menerawang kala Aisyah juga memergokinya saat sedang bersama Jihan. Penyesalan itu kembali ada, entah ia harus seperti apa sekarang.
Aisyah.
***
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini Mbak?" Tanya Aisyah setelah melaksanakan shalat tarawih bersama.
__ADS_1
"Biasanya kita akan tadarus di TPQ depan Masjid kita persis, kita akan menyimak bacaan dari orang lain sampai tiba giliran kita membaca Al-Qur'an. Kau mau ikut?" Jawab Zara menjelaskan.
Aisyah mengangguk mengerti. "Tentu Kak."
Beberapa saat Aisyah tertegun mendengarkan begitu merdu suara dari para wanita yang sedang bertadarus itu. Memang ia sudah fasih dalam membaca Al-Qur'an. Bahkan di sekolah ia sering kali terpilih untuk mewakilkan sekolahnya mengikuti acara qiro' ataupun tartil.
Namun berada di sekitar orang-orang seperti ini, ia benar-benar merasa tidak ada apa-apanya. Ingin sekali ia belajar cara melantunkan ayat-ayat Allah seperti mereka.
Alangkah senangnya, ketika Zara mau mengajarkan kepadanya. "Terimakasih Mbak."
"Iya sama-sama,"
Mereka mulai membereskan tempat itu dan bersiap-siap hendak pulang. Namun, ia berhenti dari aktivitasnya ketika mendengar suara seorang lelaki yang masih bertadarus sampai saat ini.
"Eh itu bukannya suaranya Mas Ikfi ya." Celetuk salah seorang di ruangan itu.
Aisyah langsung menoleh ke arah gadis tersebut. Ikfi, benarkah dia? Indahnya...
"Masyaallah merdunya"
"Sudah tampan, manis, muadzin,"
"Sholeh, ramah, dermawan, kerja keras."
"Idaman sekali."
Sahut yang lainnya, mereka semua tampak begitu terpukau dengan Ikfi. Entah kenapa wajah Aisyah terasa panas, bahkan hatinya.
Selama ini memang ia tak terlalu memikirkan Ikfi, namun kebersamaan di antara mereka yang begitu sering menemani mereka. Acap kali membuat Aisyah tersentuh hatinya.
"Apalagi kalau Ikfi sedang adzan subuh. Masyaallah, sudah siap lahir batin kalau dipinang sama beliau."
"Kenapa memangnya?"
"Yah kalau si Aa sudah bersedia membangunkan orang untuk shalat subuh, apalagi membangun rumah tangga."
"Hadeeehhh..." Sontak hal itu membuat tertawa bagi yang mendengarnya.
Namun tidak dengan Aisyah, dalam hatinya seolah sedang terjadi kebakaran yang melalap habis di seluruh ruang dadanya.
_______________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
Ig: @nick_mlsft
__ADS_1