Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Surat Cerai


__ADS_3

Brak.


Jihan melempar ponselnya kasar, sudah satu Minggu lebih nomor yang ia tuju sama sekali tak memberi respon. Padahal semua pesan dan panggilan yang ia kirim telah sampai.


Perlahan ia meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya. Sebenarnya entah apa yang membuatnya menangi, namun nalurinya sebagai seorang wanita hamil yang diacuhkan oleh sang suami mendorongnya demikian.


"Apa tidak bisa walau hanya satu seorang pria hadir dalam hidupku, menemaniku sepanjang hidupku. Duniaku sudah mulai membaik karena kehadirannya, namun kenapa dia tak bisa seutuhnya menjadi milikku. Aku tahu aku salah telah demi kebahagiaanku aku mematahkan hati wanita lainnya. Tapi apa aku salah telah menaruh hati dan harapan kepada prianya.


Bahkan sudah ada darah dagingnya dalam rahimku, tapi tak sedetikpun ia mau melihat. Jika boleh memilih, aku pun sebenarnya tidak mau mencintai lelaki yang bukan milikku. Tapi apa boleh buat jika keadaan sendiri yang membuatnya hadir dalam hidupku." Cicitnya menangis pilu.


Kesunyian yang dulu setia menemaninya kini telah berpulang. Seiring dengan kepergian pria yang sempat membuat hidupnya berwarna.


...***...


Plak.


Yoga terkejut tatkala sebuah map mendarat pada bahunya. Matanya beralih menatap pada seorang wanita yang berdiri di hadapannya.


"Lihat! Aisyah sudah menggugatmu. Dia benar-benar ingin pergi dari hidupmu. Mama tidak mau tahu, sebelum dia kembali kemari jangan pernah kau injakkan kakimu ke dalam rumah ini!" Ujar Dewi pada anaknya lalu meninggalkan begitu saja.


Hal itu sontak membuat Yoga terkejut. Ia buka map tersebut, dan benar seperti perkataan sang Ibu. Itu adalah surat cerai dari pengadilan. Pun surat tersebut telah dibubuhi tanda tangan oleh sang istri.


"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bercerai denganmu Aisyah. Ku pikir membiarkanmu pergi sebentar adalah untuk memberimu waktu sejenak untuk menenangkan pikiranmu. Namun tidak, ternyata hanya untuk ini. Tentu tak akan kubiarkan begitu saja. Kau tetap milikku dan selamanya begitu." Ucapnya sembari meremas kertas itu.


Kemudian ia menyambar kunci mobilnya, ia berniat untuk menyusul Aisyah ke rumah mertuanya. Sebelumnya ia memang ingin melakukan ini jauh hari, namun mengingat pasti keadaan saat itu sedang panas-panasnya. Serta ia yang juga sebenarnya malu untuk bertatap muka pada sang Ayah mertua.


Namun demi keutuhan rumah tangganya, tak peduli apapun itu pastilah akan ia lakukan.


...***...


Setelah beberapa hari Aisyah berdiam diri, akhirnya ia telah memantapkan pilihannya. Ia sendiri juga tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan. Dan tidak ingin pula terbelenggu oleh keadaan yang tidak pasti.


Kedua orang tuanya pun sedikit demi sedikit mulai lega melihat perubahan Aisyah. Putri mereka itu sudah tidak lagi mengurung diri dalam kamar. Pun ketika menatap dalam mata Aisyah, tidak ada lagi amarah di dalamnya. Ikhlas, yah Aisyah terlihat lebih ikhlas dan sabar dari sebelumnya.


Saat ini Fahmi pulang dengan membawa anak sulungnya Farah. Sebagai Kakak sudah tentu Farah merasakan amarah yang sama dengan sang Ayah. Bahkan lebih dari itu.

__ADS_1


"Aisyah," panggilnya lembut.


"Eh iya Kak." Sahut Aisyah tersenyum. Meski tidak selebar biasanya.


Farah duduk di samping Aisyah. "Ehm, Kakak benar-benar minta maaf karena baru menemuimu sekarang."


Aisyah meraih tangan Farah dan menggeleng kecil. "Tidak Kak, aku tahu Kakak juga memiliki urusan Kakak sendiri. Jadi tidak masalah buatku, cukup Kakak seperti ini aku juga sudah senang."


"Kamu pasti bukan hanya sedih Ai, katakan harus Kakak apakan si Yoga itu. Biar dia jera dan sedikit mengurangi rasa sakitmu."


Adiknya itu justru terkekeh kecil. "Tidak perlu Kak, aku sudah memutuskan untuk berpisah saja dengannya. Meski memang masih sakit aku rasa, Insyaallah aku ikhlas dengan semua yang sudah terjadi."


"Kamu yakin sudah ikhlas? Lalu, bagaimana dengan wanita itu?"


Helaan nafas Aisyah jelas terlihat panjang, ia memandang ke arah lain. Wajahnya pun berubah datar. "Tentu sebagai sesama perempuan aku merasakan marah bahkan dendam padanya Kak. Tapi jika aku pikir untuk apa juga melakukan demikian, tidak ada gunanya juga. Biarlah semua berjalan semestinya."


"Keputusanmu untuk berpisah dengan Yoga apa benar-benar sudah kau pikirkan? Kau akan terlihat kalah dari pandangan wanita itu Aisyah, bukankah kau sangat mencintai Yoga?"


"Bukan maksud aku bodoh atau pura-pura tegar seperti ini. Aku hanya berusaha untuk tidak peduli. Meski aku memang menginginkan Yoga selalu ada di sisiku, untuk apa dipertahankan karena dia sekarang bukan hanya milikku. Setelah ini yang ada aku hanya akan merasakan sakitnya berbagi. Apalagi sudah ada anak di antara mereka Kak." Lirih Aisyah melemah.


Setelah tangisan Aisyah reda, samar-samar mereka mendengar keributan di bawah. Sepertinya ada seseorang yang masuk ke rumah mereka. Aisyah tidak begitu yakin, namun dalam hatinya ia mengenali suara itu.


"K-kak, sepertinya ada orang di luar." Ucap Aisyah mendongakkan wajahnya.


"Entah aku pun merasa ada seseorang di depan."


Apa mungkin itu Mas Yoga?


Tanpa berucap sepatah kata pada Farah, Aisyah langsung pergi ke arah sumber suara. Matanya terbelalak, ternyata memang benar adanya. Dialah pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan.


Tap, tap, tap.


Dengan langkah tergesa ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu.


"Mas Yoga." Lirih Aisyah.

__ADS_1


Membuat Fahmi, Melati dan Yoga mengarah padanya.


"Aisyah.." Cicit Yoga tersenyum kecil, binar wajahnya seketika terlihat. Aisyah pun dapat melihat besarnya sirat rindu dalam mata itu.


Yoga ingin berlari menuju Aisyah, namun ditahan oleh sang Ayah mertua.


"Untuk apa kau kemari? Sudah ku tegaskan aku tidak mengizinkanmu menemui putriku lagi." Tegas Fahmi.


"Ku mohon Ayah beri aku waktu sedikit saja untuk berbicara dengan Aisyah. Bagaimana pun ia masih istriku," pinta Yoga memelas.


"Istri kau bilang? Waktu itu kau ada di mana? Apa kau memikirkan istrimu sedikit saja? Tidak kan? Lalu sekarang untuk apa kau menemuinya lagi. Kau sudah bebas jika ingin menghabiskan waktumu dengan istri mudamu itu."


Yoga menggeleng keras. "Tidak, ku mohon. Aisyah berbicaralah sesuatu."


Aisyah hanya memandang ke arah lain. "Ayah benar Mas, sebentar lagi kita akan benar-benar berpisah. Kau sudah bebas sekarang, aku juga bukan tanggung jawabmu lagi. Sebaiknya kau pikirkan saja anak dan istrimu itu."


"Tidak Aisyah, selamanya kau akan tetap menjadi istriku. Anakku juga akan menjadi anakmu. Kita akan merawatnya bersama sayang." Aisyah tak menggubris sama sekali, ia justru berbalik arah dan meninggalkan ruangan tersebut.


"Kau sudah dengar sendiri kan, putriku sama sekali tak membutuhkan kehadiranmu di sini. Jadi jangan harap kami pun mengizinkanmu bertemu dengannya." Ucap Fahmi tegas tak mau dibantah.


Brak.


Pintu tertutup oleh Fahmi, tak sejengkal pun ia izinkan Yoga untuk masuk ke rumahnya.


Yoga terdiam sembari menyesali segala perbuatannya. Sungguh tidak ada harapan lagi, namun ia tak mau menyerah sekarang. Ia akan menunggu Aisyah hingga keluar dari persembunyiannya.


Ia melangkahkan kakinya menuju samping rumah. Agar memudahkannya melihat Aisyah dari kaca jendela.


_______________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)


Ig: @nick_mlsft

__ADS_1


__ADS_2