
..."Kita tidak pernah tahu bahwa kilasan momen yang dirajai oleh ketidaksengajaan akan menjadi tatahan kenangan yang akan sangat dirindukan."...
^^^@nick_mlsft^^^
...***...
Bugh
Sudut bibir Yoga robek, bogem mentah Aidan benar-benar tidak main-main. Sedang di belakangnya Zara menangkap langsung tubuh Aisyah yang terhuyung.
"Bang cukup, tahan emosi. Ingat sedang puasa." seru Zara melihat suaminya tak kunjung berhenti menghajar Yoga.
Aidan menegakkan tubuhnya,
"Ini kali terakhir saya melihat kau berlaku kurang ajar dengan adik saya. Tidak akan saya memaafkan untuk kedepannya." lantang Aidan memandang benci Yoga yang terkapar lemah di tanah.
Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kejadian tersebut, hingga Aisyah maju untuk menarik sang Kakak agar menjauh. Sedangkan Zara ia langsung mengambil alih sang anak yang sebelumnya berada pada Aisyah.
"Sudah Bang, ayo kita pulang saja. Lihat, banyak orang sekarang." ajak Aisyah membujuk Aidan.
Aidan menoleh sembari menghela nafas kasar. "Baiklah, ayo."
Mereka meninggalkan Yoga begitu saja tanpa kata, namun sebelum Aisyah masuk ke dalam mobilnya ia menoleh sebentar ke arah Yoga. Pancaran kilat kerinduan jelas ketara di mata Yoga, sejujurnya Aisyah pun merasakan hal sama.
Tapi ia tidak ingin berbuat apapun, toh mereka sudah bercerai. Tak ada hubungan apapun di antara mereka sama seperti awal ia belum kenal Yoga.
Salah satu orang di kerumunan itu menghampiri Yoga. Meski tak tahu apa penyebab semua terjadi, ia merasa kasihan dengan pria itu. Titik air mata Yoga tanpa terasa menetes, menatap mobil yang ditumpangi Aisyah kian menjauh.
"Dimana kendaraan anda Mas?" tanya lelaki yang tengah memapah Yoga. Sedikit Yoga tersenyum, "itu di sana."
"Aisyah."
...***...
Perlahan, seorang wanita menegakkan tubuhnya. Tangan satunya ia gunakan untuk menopang pinggangnya agar keseimbangan tubuhnya tetap stabil. Peluh yang tidak sedikit di dahi ia usap.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucapnya menatap pekerjaan yang telah rampung ia kerjakan.
"Aku terlalu lama pergi ya? Maaf tadi di jalan sempat macet. Maklum saja hari sudah sore, banyak orang sedang ngabuburit." celetuk salah seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri wanita tersebut.
"Ia tidak apa-apa, toh aku juga masih bisa mengerjakan semuanya." sahutnya diiringi senyum manis.
"Baiklah, kau istirahat saja dulu. Biar pelanggan aku yang urus!"
Wanita itu mengangguk dan menempatkan tubuhnya di tempat yang menurutnya nyaman. Matanya mengarah ke atas, pikirannya melayang pada sang suami. Yah suami, karena tidak ada kata cerai atau talak darinya.
Dielusnya lembut perutnya yang kini terisi oleh benih lelaki itu, tak terasa air mata menitik menelusuri pipinya. Jika wanita hamil tua yang lainnya akan begitu bahagia dan tak sabar menanti anak mereka bahkan kebutuhan dan keperluan bayi pun telah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Berbanding balik dengan dirinya, bahkan dari awal ia hamil pun sang suami tak pernah mengharapkannya. Jangankan meminta ini dan itu sekedar menemani malam dinginnya pun jarang. Kembali pikirannya terarah pada wanita yang sebelumnya istri Yoga. Aisyah.
Perasaan bersalah tentu selalu bersarang di hatinya disertai penyesalan yang membuat hatinya sesak. Mungkinkah ini semua adalah balasan dari apa yang ia tanam?
Yah, Jihan menganggapnya seperti itu. Namun ini bukan saatnya untuk egois memikirkan diri sendiri. Karena ulah kecerobohannya sendirilah, anaknya ikut terseret akan perbuatan bodohnya. Tiada hari, yang Jihan lakukan selain mencari bekal untuk hidupnya dengan anaknya nanti.
...***...
Aisyah tersenyum menggeleng, "aku baik-baik saja kak. Hanya sedikit terkejut saja karena kejadian tadi."
"Benar-benar tidak habis pikir Abang dengan mantan suamimu itu Aish, bukannya dari awal dia yang sudah berpaling dari kamu. Kok gayanya kaya orang rindu sudah berpisah lama." celetuk Aidan dari depan yang terlihat paling emosi.
"Tidak tahu Aisyah juga Bang." lirih Aisyah.
Sebenarnya dapat Aisyah rasakan cinta Yoga dari tatapannya. Namun, bagaimana pun keadaan telah berubah, dan itu semua adalah pilihan Yoga sendiri.
Apapun kekuranganmu pasti akan aku terima jika kau memilih kembali Mas, selain tidak cukup dengan satu wanita. Aku tahu bagaimana tulusnya kasih sayang dan cinta yang selama ini kamu berikan untukku.
Namun keadaan tidak bisa kembali seperti dulu, karena aku pun kembali kemari dengan nama lain yang telah tulus memberikan cinta dan hatinya. Tak dapat aku pungkiri bahwa aku pun mulai mencintainya. Menggulir perlahan namamu yang selama ini bersemayam di sana. Ucap Aisyah dalam hatinya.
Ia mengedarkan pandangannya sembari menghela nafas, namun suara benda jatuh yang mengenai kakinya membuat perhatiannya teralih.
Sebuah liontin pemberian Ikfi saat menyatakan perasaannya kemarin. Tanpa sadar senyum tercipta begitu indah di wajahnya. Entah setelah berpikir sepanjang perjalanan atau sempat bertemu Yoga dirinya mengharapkan agar segera bersama Ikfi.
__ADS_1
Tapi kilasan kejadian yang ia alami saat bersama Yoga membuatnya ragu. Ada keinginan untuk memahat kisah bersama Ikfi, tapi ketakutan peristiwa dulu akan terulang terus menghantui.
...***...
Sorot mata Ikfi tak pernah berpaling dari sebuah benda di jari-jarinya. Sebuah bros berbentuk bunga dengan permata hijau sebagai daun hiasannya. Pikirannya menerawang jauh saat kejadian saat ia masih menjadi mahasiswa.
Saat itu, entah angin dari mana yang membuat sebuah hijab terombang-ambing kesana-kemari. Sang pemilik berusaha mempertahankan hijabnya agar tak lolos dari kepalanya. Membuat lelaki yang tadi sempat fokus dengan bukunya mengarahkan pandangannya pada gadis itu.
Alis hampir menyatu dengan dahi mengerut ditambah bulu mata yang lentik membuat wajahnya nampak menggemaskan. Kulitnya yang kuning langsat membuat wajahnya terlihat manis khas Indonesia.
Peniti yang lepas dari bawah dagunya membuat lehernya terlihat, Ikfi panik dibuatnya. Entahlah dari cara gadis itu mempertahankan penutup kepalanya membuat ia juga merasa was-was jika hal itu terlepas.
Sontak, jaket yang melekat di tubuhnya ia lepaskan untuk menutupi bagian yang terbuka itu. Matanya berusaha ia tundukkan agar tak melihat batasan aurat perempuan yang kini ada di hadapannya. Jarak mereka yang dekat, membuat keduanya menjauh.
Cukup lama Ikfi berpaling muka, perlahan ia menolehkan wajahnya. Mata bening itu pun melakukan hal sama, memperhatikan intens dirinya yang kira-kira delapan senti lebih tinggi dari perempuan itu.
"T-terimakasih.." ucapnya terbata.
Ikfi hanya mengangguk, tanpa kata perempuan yang telah ditolongnya menyodorkan jaket yang ia berikan tadi dan pergi begitu saja.
Kepalanya sedikit ia dongakkan untuk melihat langkah kemana Aisyah pergi. Lalu pandangannya jatuh ke bawah melihat sebuah bros yang tiba-tiba bertengger pada pakaian bagian dadanya.
"Menarik." lirihnya dengan senyum kecil di bibirnya.
Itulah kali pertama Ikfi bertemu dengan Aisyah, awalnya tidak begitu ia pedulikan. Namun keadaan yang terus membuat keduanya bertemu menumbuhkan perlahan rasa asing yang tak pernah Ikfi rasakan sebelumnya.
Namun sayang, ketika akan ia sampaikan semuanya. Aisyah telah terikat janji dengan Yoga. Membuat ia tetap diam di tempatnya namun perasaan yang tak pernah menghilang.
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
Tandai typoš¤
__ADS_1
Ig : @nick_mlsft