Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Demi istri


__ADS_3

Gurat kelelahan terpampang jelas di wajah Yoga. Namun melihat pemandangan dimana sang istri dan Ibunya tengah bercengkrama tanpa canggung, membuat hatinya sejuk. Jarang sekali hal tersebut terjadi, setiap kata yang terucap dari lisan Mamanya pun tidak ketus seperti biasanya.


Alhamdulillah, setidaknya sekarang sudah ada kemajuan diantara hubungan mereka. Yoga.


"Assalamu'alaikum," ujarnya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Aisyah, dengan binar kebahagiaan di wajahnya ia cium punggung tangan Mas Yoga. Namun, beberapa saat kemudian, ia langsung menjauhkan diri dari tubuh suaminya.


"Maaf Mas, aku siapkan langsung saja ya air hangatnya. Biar cepat mandi kamunya." Ucap Aisyah langsung pergi tanpa mendengar jawaban Mas Yoga.


"Biasanya juga manja-manjaan dulu." Yoga mengendus aroma tubuhnya sendiri. "Bau sih, tapi apa dia harus bertampang wajah seperti tadi?" Gerutunya, sejurus kemudian ia pun masuk menyusul sang istri.


Dilihatnya, tubuh yang semakin hari terlihat berisi yang sedang menyiapkan pakaian untuknya. Dengan tidak sabaran ia rengkuh Aisyah ke dalam dekapannya.


Sontak Aisyah terkejut dibuatnya, ia membalikkan tubuhnya dan segera mendorong tubuh Mas Yoga.


"Mas, jangan dekati aku dulu. Sudah sana langsung mandi saja." Usir Aisyah mendorong suaminya. Meski kesal, Yoga menuruti saja dengan perkataan Aisyah.


Aisyah pergi ke bawah untuk menyiapkan makan malam. Meski sedang hamil, ia tetap bersikukuh untuk membantu sepupu iparnya untuk memasak.


Intan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aisyah yang aneh.


...***...


Yoga tersentak kaget lantaran tendangan sang istri di kakinya. Niatnya ia ingin bermanja-manja setelah lelah seharian ini namun apa daya Aisyah justru menolaknya.


"Kenapa sayang?" Tanya Yoga penasaran, dan juga memendam rasa kesal di hatinya.


"Kenapa? Kau yang kenapa Mas? Sudah tahu kau sangat bau, tetap saja terus mendekati aku." Jawab Aisyah ketus.


Dengan segera, Yoga memeriksa tubuhnya. "Enggak kok sayang, justru sangat wangi. Kamu tahu, aku sengaja memberi banyak parfum agar kau suka. Tapi malah begini." Ucap Yoga geram dan ingin meninggalkan istrinya.


"Lah kok jadi kamu yang marah sih Mas, kan harusnya kamu membujuk aku supaya tidak marah sama kamu. Jujur sebenarnya aku juga sangat merindukanmu, tapi aku tidak tahu mengapa berada di dekatmu membuatku mual."


"Ada apa sih ini ribut-ribut?" Tanya Intan gemas dengan kedua pasutri ini.


"Entah loh ini Aisyah, selalu saja menghindar dariku. Katanya mual, padahal sudah berkali-kali aku ganti parfum. Tapi tetap saja dia menganggap ku bau." Sahut Yoga memberengut.


Intan mengerutkan keningnya, ah dia tahu. Matanya menyorot ke arah suatu tempat. Sebelum ia pergi ke sana, terlebih dahulu ia pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Yoga memperhatikan intens kegiatan Intan yang membawa botol parfum kosong. Pikirannya semakin dibuat tak mengerti tatkala Intan menuangkan sabun cuci piring ke arah botol tersebut.


"Pakai ini!" Titahnya. Aisyah yang melihatnya tersenyum lebar.


"Pakai? Untuk apa?" Tanya Yoga dengan tampang bingungnya, namun ia tetap menerima botol tersebut.


Intan memutar bola malas, "Untuk saat ini, jika kau ingin berdekatan dengan istrimu. Pakailah itu untuk dijadikan parfum."


Mata Yoga terbelalak, "Kau sudah gila? Mana mungkin aku memakai ini. Lagipula apa hubungannya dengan istriku."


"Terserah, aku sudah memberimu solusi." Intan pergi meninggalkan pasangan suami-istri tersebut begitu saja.


"Sayang pakailah itu, aku akan sangat menyayangimu." Ujar Aisyah tanpa dosa. "Kemarilah."


Aisyah menyemprotkan parfum buatan Intan ke seluruh tubuh suaminya. Membuat Yoga memalingkan wajahnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang karena pelukan kuat istrinya yang secara tiba-tiba. Aisyah seolah sangat rindu, ia hendus aroma tubuh Mas Yoga sepuasnya.


Intan yang kembali lagi untuk mengambil air, terkikik geli melihat tampang Yoga yang seolah tersiksa namun pasrah. Sedangkan sang empu, ia melayangkan tatapan tajam padanya. Bagaimana tidak, otak dari ini semua adalah Intan. Jika saja ia tak memberi saran ini, tentu ia tak akan seperti ini.


Aisyah mendongakkan wajahnya, ia memasang wajah kesal lantaran suaminya tak membalas pelukan darinya. Padahal ia begitu rindu sosok Mas Yoga.


"Mas kamu kenapa?"


"Eh tidak apa-apa sayang. Ya sudah ayo kita langsung pergi ke kamar saja." Digandengnya mesra jari-jemari lembut milik sang istri.


Intan semakin tersenyum penuh kemenangan, tampang wajah menyebalkan tanpa dosa itu ingin sekali Yoga lenyapkan.


"Ayo sayang." Ajak Aisyah.


Yah wangi sih tapi kan ini untuk piring, bukan untuk baju. Manalagi Aish menyemprotkannya begitu banyak. Diliriknya wajah Aisyah yang memancarkan binar kebahagiaan. Seketika lengkungan indah pun tercetak di wajahnya.


Tapi tidak apa, demi istri tercinta bahkan racun sianida sekalipun aku terima.


...***...


"Mas, ayok bangun. Sebentar lagi Subuh loh." Tutur Aisyah lembut membangunkan suaminya yang masih bergelut dengan mimpi. Ia tersenyum mengingat malam panjang mereka.


Yah alam ini, Yoga begitu senang dan puas karena dapat meneguk indahnya malam dengan Aisyah. Meski ia harus menahan bau tubuhnya yang membuatnya agak mual.


Tak ada yang luput dari sentuhan Aisyah di wajah Yoga.

__ADS_1


"Mas..., sudah mah masuk Subuh Mas. Ayo bangun, nanti Papa nunggunya kelamaan."


Erangan kecil akhirnya terdengar dari mulut Yoga. Pemandangan indah di depannya membentuk lukisan indah di wajahnya.


"Pagi cantik." Ucap Yoga menikmati pemandangan yang memanjakan matanya.


"Iya sayang, duduk dulu sebentar ya. Aku akan menyiapkan air hangat dulu."


Yoga mengangguk.


Tak lama ia menunggu Aisyah pun keluar dengan segala sesuatu yang sudah ia persiapkan untuk Yoga.


"Wah bahagia banget hari ini." Celetuk Intan mengejutkan Aisyah.


"Eh Intan, pagi." Sahut Aisyah.


Intan hanya mengangguk dan membantu Aisyah menyiapkan makanan. Memang beberapa hari terakhir ini, kesehatan Dewi sedikit terganggu. Hingga untuk pekerjaan rumah, kembali Aisyah yang mengurus. Dengan bantuan Intan tentunya.


"Aisyah, sebenarnya bagaimana perasaan kamu berada di rumah ini. Dan bagaimana kamu bisa sesabar itu menghadapi sifat Tante?" Tanya Intan.


"Em memangnya ada apa? Kenapa kau tanya seperti itu?"


"Yah, jujur saja. Semua wanita yang melihat bagaimana sikap Ibu mertuamu pasti akan sangat tertekan. Apalagi beberapa kali aku juga melihatnya yang menghinamu. Tidakkah kau sakit hati?"


Aisyah menoleh ke arah lain memikirkan sesuatu. Dibilang sakit hati tentu saja. Namun mau bagaimana lagi, ingin mengubah keadaan pun tidak bisa.


"Aku tidak tahu untuk itu. Yang pasti, orang tua suamiku sekarang juga adalah orang tuaku. Mereka saat ini juga penting buatku. Untuk bagaimana cara mereka memperlakukanku, aku tidak masalah. Selama ada Mas Yoga di sisiku. Lagipula aku yakin, lambat laun Mama pasti akan berubah."


Intan mengangguk dan tersenyum, "Kau benar."


Jujur Aish beberapa hari pertama aku di sini, aku memang memiliki ketertarikan pada suamimu Mas Yoga. Namun melihat bagaimana dengan perlakuan Tante padamu, semakin membuatku yakin untuk tidak mengusik pernikahan kalian.


Namun hari ini, aku semakin salut padamu yang sangat sabar menghadapi Tante dan masih menghormatinya. Teman-temanku yang mendapat perlakuan sama sepertimu bahkan memilih untuk pergi. Hingga suaminya menyusulnya dan tinggal terpisah dengan orang tua suaminya.


Aku janji, akan selalu membelamu jika Tante kembali berulah. Karena aku tahu dia hanyalah berpura-pura. Karena sebenarnya ia lelah dengan perbuatannya sendiri yang selalu menyudutkan dirimu. Mungkin juga melihat keadaanmu yang sedang mengandung.


____________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir


Ig : @nick_mlsft


__ADS_2