Kau Bukan Milikku

Kau Bukan Milikku
Kemarahan Dewi


__ADS_3

Tok tok tok!


Entah sudah ke berapa kali Melati mengetuk pintu kamar anaknya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 Aisyah masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk membuka pintu.


"Nak buka pintunya, sudah siang ini loh.." Ucap Melati penuh kelembutan.


Namun yang berada di kamar tersebut bergeming, dirinya masih terbelenggu oleh kesedihan atas kepahitan yang menimpanya. Wajahnya sudah cukup lama tak ia angkat, masih berada di antara kedua lututnya. Penampilannya pun terlihat sangat kacau.


Melati menghembuskan nafasnya kasar, dalam hati ia juga merutuki perbuatan menantunya itu. Dari awal pernikahan, sebenarnya pernah terlintas bahwa pernikahan anaknya ini tidaklah seumur hidup. Melihat bagaimana masa lalunya yang membuat Aisyah dibenci oleh mertuanya sendiri.


Kepedihan masih digenggam erat oleh Aisyah, bukan ia yang tak mau melepaskannya. Semakin ia ingin menghindar justru kesedihan sama sekali tak pernah mau melepaskan diri walau sejengkal. Air mata masih senantiasa membasahi pipinya, isak tangis pun kerap terdengar dari mulutnya.


"Assalamu'alaikum.." Ujar Fahmi tatkala memasuki rumah surga bersama sang istri dan anak-anak. Keletihan selama ia bekerja di luar kota seolah meluap perlahan melihat istri yang menyambutnya dengan hangat.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Melati tersenyum. Dengan penuh kerinduan Fahmi rengkuh tubuh Melati. Kehangatan dalam keluarga mereka tak pernah pudar sedikit pun.


"Duduklah Mas, biar aku buatkan kopi terlebih dahulu." Meski Melati sangat ingin menceritakan perihal putrinya, namun ia merasa bukan sekaranglah waktunya. Ia tahu suaminya itu masih sangat lelah karena menjalankan kewajibannya.


Fahmi mengangguk dan tersenyum. Ia regangkan otot-ototnya serta memilih tempat nyaman di sofa. Tak lama Melati datang dengan nampan yang ia bawa.


"Sayang bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Melati sembari meraih tangan Fahmi untuk ia pijat.


"Alhamdulillah lancar, meski ada sedikit masalah. Tapi mudah untuk ditangani."


"Syukurlah."


Tak sengaja, Fahmi menangkap sebuah sendal yang tak seperti biasanya di rak sepatu. Ia hafal betul punya Melati, merasa asing dengan benda itu ia pun bertanya pada istrinya.


"Dek, itu sandal punya siapa?" Tunjuknya pada sepasang sendal yang tersimpan rapi dengan miliknya yang lain.


"Eh itu milik Aisyah Mas." Jawab Melati terbata.


Binar seketika muncul dari wajah Fahmi. "Benarkah? Kenapa kau tidak langsung memberitahu aku? Di mana dia? Ah pasti di kamarnya." Melati menyentuh lengan Fahmi bermaksud untuk menghentikan niat suaminya itu.


"Mas ada yang ingin aku bicarakan tentang putri kita."


Fahmi mengernyit, "Ada apa? Mengapa wajahmu serius begitu?"


Melati menghembuskan nafasnya. Ia mulai menceritakan semua yang telah putri mereka lalui itu. Kepalan tangan Fahmi begitu erat mendengar ulah menantunya, matanya memerah dan dadanya berdegup dengan kencangnya.


"Benar-benar anak itu!" Ia ingin beranjak namun lagi-lagi Melati mencegahnya.


"Mas kau ingin ke mana? Ke rumahnya, lalu menghajarnya begitu? Kita hanya akan mendapat hinaan Mas. Kau tahu sendiri bagaimana Mbak Dewi." Fahmi termenung, dalam benaknya ia membenarkan perkataan Melati. Dewi pasti akan mengingatkannya pada masa lalu mereka dan kekurangan Aisyah yang sulit untuk hamil.


Seketika tubuhnya lemas, "Di mana putriku?" Tanya Fahmi.

__ADS_1


"Ada di kamarnya, tapi ia mengunci pintunya. Aku sangat mengkhawatirkannya Mas, dari kemarin ia sama sekali tak mau keluar dan makan."


Fahmi langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Aisyah.


Tok, tok, tok!


"Buka pintunya Nak, Ini Ayah." Pungkasnya terus mengetuk pintu tak sabaran. Tak lama pintu terbuka.


Ceklek. "Ayah!"


Fahmi hampir terjungkal ke belakang namun bisa ia tahan, pelukan putrinya itu begitu erat.


...***...


"Apa!!" Teriak Dewi setelah mendengar masalah yang menimpa rumah tangga putranya. Dengan amarah, ia hampiri Yoga dan langsung melayangkan sebuah tamparan keras di pipinya.


Plak!


Yoga tersadar dari lamunannya. Tatapannya yang tadi kosong, beralih memfokuskan diri pada wajah yang tadi menamparnya.


"Dasar anak tidak tahu diri!" Serunya dan menatap tajam Yoga.


Meski selama ini ia tak begitu menyukai Aisyah namun bukan berarti ia juga senang jikalau Aisyah dikhianati seperti ini. Ia juga seorang wanita yang tahu bagaimana rasanya diduakan. Selama dua tahun ia mengenal sang menantu dalam satu atap, tak dapat dipungkiri bahwa hatinya mulai menerima bahkan sempat memuji kesabaran Aisyah dalam menghadapinya. Seperti saat ia sedang sakit beberapa waktu lalu.


Flashback


Aisyah yang sedang menjemur pakaian pun memperhatikannya. Yang Dewi lihat wajah Aisyah terlihat begitu cemas dan mendekatinya.


Brug. Hilang sudah, tak ada apa-apa lagi yang dapat ia lihat. Hanya hitam pekat dan kosong.


Entah sudah berapa lama ia dalam keadaan seperti itu, namun ia merasa begitu cepat. Pertama yang ia lihat setelahnya adalah Aisyah yang sedang membawakan makanan untuknya. Ia merasakan hangat di keningnya namun basah. Dengan ragu ia pegang benda itu.


Kain? Apa Aisyah yang mengompresku.


Memang ia rasakan sedikit panas suhu tubuhnya. Aisyah dengan senyumnya duduk di samping wanita paruh baya itu.


"Bagaimana Ma? Ada yang sakit? Maaf tadi tubuh Mama begitu panas, jadi Aisyah pikir untuk mengompresnya. Tadi pagi Aisyah lihat Mama hanya sedikit sarapannya, jadi Aish bawakan makanan dan obat untuk Mama. Apa Mama mau makanan lain?"


Dewi hanya tertegun menatap Aisyah, menantunya ini sama sekali tak mengingat bagaimana perlakuannya dulu. Tidak ada raut terpaksa sama sekali dalam wajahnya.


"Em tidak usah, Mama makan itu saja." Jawab Dewi, Aisyah yang melihat Dewi ingin beranjak duduk pun membantunya.


"Terimakasih."


Aisyah terlihat tersenyum senang, seolah ini pertama kali Aisyah melihatnya berbicara dengan nada halus dan senyum.

__ADS_1


"Perlu Aish suapi Ma?"


"Tidak perlu, Mama bisa sendiri." Dewi pikir Aisyah akan meninggalkannya saat makan, namun tidak Aisyah justru menunggunya hingga selesai. Dewi merasa terenyuh.


"Mama minum obatnya juga yah." Lagi-lagi Dewi menuruti perkataan Aisyah, membuat menantunya senang.


Dewi dapat melihat Aisyah yang kelelahan karena mengerjakan semua pekerjaan rumah. Namun sama sekali tak pernah Aisyah mengeluh.


Saat malam, Dewi terheran melihat Aisyah yang masih duduk di sofa ruang tamu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 22.36


"Aisyah kenapa kau ada di sini?"


Aisyah mendongak. "Aku sedang menunggu Mas Yoga Mah,"


"Yoga masih belum pulang?" Aisyah menggeleng sembari tersenyum kecut.


Begitulah setiap malam yang Dewi perhatikan setiap malam. Dalam hatinya ia merasa aneh karena ulah anaknya, dan sedikit curiga.


Sebenarnya kamu di mana Nak? Mengapa membiarkan istrimu menunggumu seperti ini.


Flashback off


Meski acap kali ia membentak atau memerintah dengan nada tinggi. Namun memang itulah sifatnya, bahkan pada Intan pun seperti itu. Akhir-akhir ini ia pun sudah tak lagi menghina Aisyah seperti dulu.


"Jadi ini alasan mengapa kamu sering pulang malam? Hanya karena wanita tidak tahu diri itu, kamu tega membuat Aisyah menunggumu setiap malam. Bahkan Aisyah sudah sangat lelah mengurusmu dan rumah!" Bentak Dewi penuh amarah.


"Bisa-bisanya kau meninggalkannya hanya demi wanita itu!"


Yoga mengangkat kepalanya. "Aku tidak pernah berniat meninggalkan Aisyah Mah!"


"Lalu apa? Pada kenyataannya kamu selalu mengingkari janjimu sendiri pada Aisyah hanya untuk bersama siapa itu? Jihan! Jihan kan namanya? Bahkan kau mengkhianatinya sampai Jihan hamil. Lihat! Sekarang Aisyah meninggalkanmu karena ulahmu sendiri. Ya Tuhan, lelaki macam apa yang aku lahirkan ini!


Dengar Yoga wanita yang kamu pilih demi meninggalkan istrimu itu sama sekali tak lebih baik dari Aisyah. Karena wanita baik-baik tidak akan menjajakkan dirinya kepada lelaki yang belum sah apalagi lelaki beristri sepertimu!"


Brak! Pintu ditutup dengan kasar.


Intan yang melihat Tantenya keluar dengan amarah pun menghampirinya dan menyentuh bahu wanita itu untuk menenangkan.


Yoga semakin mengeram frustasi karena masalah yang sedang menimpanya. Rasa rindu bercampur dengan sesal terus mencengkeram erat hatinya. Hanya Aisyah yang ada dalam pikirannya, bahkan ponsel yang dari kemarin berbunyi tak ia hiraukan.


________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.


Terimakasih :)

__ADS_1


Ig: @nick_mlsft


__ADS_2