
"Dasar keras kepala!" Gumam Aisyah yang menatap Yoga terus duduk di samping rumahnya itu. Tadi ia sempat tertidur selama dua jam, dan selama itu ternyata mantan suaminya itu tetap tidak mau beranjak pergi.
Ia menghela nafas kasar, dengan segera ia ambil hijab instan dan memakainya.
"Kau mau kemana Aisyah?" Tegur sang Ayah yang sedang menonton tv.
"Keluar Yah, Mas Yoga masih ada di sana. Sekarang sedang panas-panasnya. Aku takut dia nanti sakit." Cicitnya sembari menunduk.
Fahmi menatap malas ke arah jendela, memang sedari tadi ia terus memperhatikan keadaan menantunya itu.
"Untuk apa? Apa kamu akan mengubah keputusanmu? Bukankah kamu sudah memikirkan semuanya matang-matang."
"Iya Ayah, tapi apa aku salah mengkhawatirkannya. Bagaimana pun aku masih istrinya, Ayah mau kan mengizinkan aku untuk bertemu dengannya sebentar saja." Pinta Aisyah.
"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi ingat Aisyah, apapun perkataannya Ayah harap kamu dapat bijak menanggapinya. Tentukanlah keputusan yang kamu lihat dari diri kamu yang kamu tempatkan dari segala sisi, bukan hanya dari satu sisi saja."
"Iya Ayah, aku mengerti. Terimakasih.." Fahmi hanya mengangguk menanggapi.
"Kemana Aisyah Mas?" Tanya Melati yang baru saja datang dan menatap putrinya yang pergi keluar.
"Lihat!" Tunjuknya pada seseorang yang sedang berdiri dengan dagunya. Melati membelalakkan matanya.
"Apa dari tadi dia ada di sana?"
"Iya." Jawab Fahmi singkat.
Aisyah memandang iba ke arah Yoga yang terlihat lemas dan pucat. Bahkan Yoga masih belum menyadari kehadiran Aisyah.
"Mas?" Panggil Aisyah, Yoga yang merasakan sentuhan di bahunya pun menolah. Matanya terbelalak seolah tak percaya dia Aisyah.
"Aisyah." Lirih Yoga disertai senyum tipis di bibir pucatnya. Ia ingin merengkuh tubuh Aisyah, namun belum itu terjadi ia merasa tubuhnya melayang dan gelap.
...***...
Dengan berat Yoga membuka matanya, entahlah ia tidak ingat apapun. Satu hal yang sangat diharapkan yaitu Aisyah. Ternyata benar, Aisyah kini sedang berada di hadapannya dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir.
Lagi-lagi senyum tercetak di wajahnya. "Aa-"
__ADS_1
"Ck, kamu pikir dengan meniru adegan di TV yang menunggu perempuan sampai berjam-jam itu mudah? Lihat, sudah tidak mampu bergaya lagi. Merepotkan saja." Cecar Farah yang merasa kesal juga gemas dengan tingkah adik iparnya itu.
Melati menyentuh bahu Farah agar diam, "Bagaimana keadaanmu Nak? Harusnya tidak perlu seperti itu." Ujarnya lembut.
Yoga hanya menunduk dan merasa malu juga. Fahmi hanya terdiam melihat menantunya itu, meski terbesit rasa iba dalam hatinya. Aisyah menyerahkan air minum untuk sang suami.
"Terimakasih." Cicit Yoga. Aisyah mengangguk.
"B-boleh aku berbicara denganmu?" Tanya Yoga kemudian.
Aisyah menoleh ke arah keluarganya. Fahmi memberi isyarat mengangguk dan mengajak yang lainnya untuk meninggalkan mereka berdua. Farah melayangkan tatapan tajam namun sang Bunda justru terus menariknya.
Aisyah menghela nafas kasar setelah semua pergi, lalu memandang Yoga.
"Sebenarnya apa mau mu Mas?" Tanya nya lemas dan jengah.
"Tadinya dengan membiarkanmu untuk pergi kemari agar kamu bisa menenangkan pikiranmu. Tapi aku benar-benar tak habis pikir mengapa kamu sampai memutuskan untuk bercerai denganku, bahkan sudah mengurusnya?"
Aisyah melepas tangan yang berada dalam genggaman Yoga. Ia beranjak ke arah jendela.
"Untuk apa kita mempertahankannya Mas, hubungan pernikahan kita sudah tak dapat lagi diteruskan. Hanya akan ada pertengkaran dan percekcokan setiap harinya."
"Tidak kumohon sebentar saja, aku sangat merindukanmu." Sesaat Aisyah menuruti permintaan Aisyah.
"Mengapa ada pertengkaran? Memang hal apa yang membuat kita bertengkar?"
Diam-diam Aisyah tersenyum sinis. "Apa yang membuat bertengkar? Tentu saja keadaan yang sudah berbeda Mas. Kamu sendiri yang menghadirkan orang ketiga di rumah tangga kita. Dan mungkin kamu yang tidak bisa membagi waktu dengan kami berdua. Harus berapa kali aku bilang, kalau aku tidak ingin berbagi."
Yoga membalikkan tubuh Aisyah. "Aku bisa meninggalkan dia untukmu, kau lebih penting dari Jihan."
"Tidak semudah itu karena ia sedang mengandung anakmu."
"Kita bisa mengasuhnya berdua. Baik, Jihan bisa menemui anak kita sesekali. Aku tidak akan memisahkannya."
"Aku tetap tidak bisa. Bagaimana pun Jihan lebih dibutuhkan oleh anaknya Mas."
"Aisyah aku harus bagaimana agar kau tetap ada di sampingku. Tidak ada yang kuinginkan lebih dari apapun selain dirimu."
__ADS_1
"Jika kau hanya menginginkan aku lalu mengapa harus menginginkan anak dari rahim wanita lain?"
Yoga menundukkan pandangannya. "Aku tidak tahu."
"Lihat! Kau sendiri sudah memiliki rasa untuknya tanpa kau sadari-"
"Tidak hanya ada Aisyah dalam hatiku. Kau mencintaiku kan Aisyah, dimana rasa cintamu itu padaku Aisyah? Mengapa kau sangat bersikeras untuk berpisah denganku?"
Aisyah menggeleng, "Justru sebagai bentuk rasa sayangku aku tidak ingin kau memiliki tanggung jawab yang lebih. Aku tahu setelah ini kau pasti akan lebih condong kepadaku dibanding Jihan.
Bagaimana pun Jihan sekarang sudah menjadi istrimu Mas. Dia tanggung jawabmu sekarang. Jangan sampai kau akan disulitkan ketika di akhirat karena air mata yang dikeluarkan oleh istrimu. Bisa saja aku akan tersenyum dan baik-baik saja di depanmu ketika kau meminta izin untuk pergi ke rumah Jihan. Tapi hatiku tidak ada yang tahu Mas. Begitu pun Jihan. Perlu kau tahu bahwa yang namanya berbagi itu sangat sulit untuk dilakukan Mas." Tutur Aisyah berusaha meyakinkan Yoga.
"Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi, mari kita berpisah dengan baik-baik. Hiduplah bersama dengan Jihan dan anak kalian. Hidup kalian akan sangat bahagia nantinya Mas. Percayalah."
"Tapi bagaimana dengan ini Aisyah?" Tunjuk Yoga pada hatinya. "Hanya kamu yang aku inginkan, hanya kamu yang aku cintai, bahkan bila kau ingin tahu aku lebih menginginkanmu dibanding darah dagingku sendiri. Semua akan terasa hampa kalau kau tidak ada di sampingku."
Aisyah tersenyum tipis. "Awalnya memang akan sulit karena kau yang tidak ingin melepaskannya Mas. Tapi aku yakin perlahan kau akan terbiasa tanpa aku. Lihat! Dulu ketika aku masih berada di sampingmu kau pun mampu merasakan nyaman dengan Jihan. Kau mampu berhubungan dengannya, bahkan aku yakin sekarang pun sudah ada rasa di hatimu.
Jika kau terbiasa bersama Jihan aku yakin rasa yang ada di sini pasti akan tumbuh. Percayalah padaku Mas, hidup denganku kedepannya kita tidak akan mendapatkan kedamaian lagi."
Yoga menunduk dan mengusap rambutnya kasar. "Baik jika itu keinginanmu, jika memang itu membuatmu bahagia aku akan melepaskanmu. Aku harap kau akan menemukan kebahagiaan dengan orang lain. Terimakasih untuk semua waktumu yang sebelumnya telah kau pusatkan hanya untukku. Maafkan aku yang telah menodai pernikahan kita, maafkan karena aku tidak bisa menepati janjiku. Maaf, maaf.."
Aisyah memejamkan matanya sakit namun juga lega. Tidak ada perpisahan yang tidak sepahit empedu setelah dari awal kita menjalaninya sepenuh hati.
"Aisyah.."
Wanita itu menatap lamat-lamat wajah Yoga.
"Izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya." Aisyah tersenyum miris, namun ia berusaha menguatkan hatinya.
"Tentu Mas."
Dua sejoli yang saling miliki cinta dengan besarnya namun juga dibalut perih itu pun merengkuh tubuh sama lain dengan erat.
_________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Terimakasih :)
Ig: @nick_mlsft