
"Han, coba lihat ini. Bukannya ini suamimu dan siapa perempuan yang ada di sampingnya? Jelas sekali bukan kamu,"
Jihan melongokkan kepalanya pada ponsel milik sang teman. Yah, saat ini Jihan sedang berada di luar rumah untuk sekedar menenangkan diri. Terus-terusan di rumah membuat ia tidak betah.
Melihat status Yoga yang berada di handphone milik Dira, tentu membuat ia terkejut. Sontak, ia pun membuka gawainya. Nihil, tak ada satu pun gambar yang seperti dalam hp milik Dira.
Jadi, kau lupa mem-privasinya Kak? Benar-benar keterlaluan. Kau bahkan tak pernah memposting satu pun foto aku. Bahkan di saat aku telah menjadi istrimu, namun sekarang. Dengan bangga kau tunjukkan pada orang-orang tentang wanita itu disaat kau telah memiliki istri, aku bahkan sedang hamil Kak.
Dira dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Jihan.
"Mengapa kau masih tetap bertahan jika kau hanya tersakiti seperti ini Jihan?" Mengusap lembut punggung Jihan.
Jihan menggeleng lemah. "Mungkin memang ini adalah hukuman untukku. Aku yang terlebih dahulu merebutnya dari perempuan lain, aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain.
Biarlah aku hidup seperti ini, aku yakin sebosan bahkan sebenci apapun Kak Yoga padaku. Dia pasti akan tetap menyayangi anak yang berada di kandunganku. Biarlah keadaan saja yang menghukumku seperti ini asal jangan anakku. Jangan sampai anakku mendapatkan takdir yang sama sepertiku dulu."
"Tapi bagaimana pun kau juga berhak bahagia walau hanya sekejap saja Jihan. Mertuamu bahkan sampai sekarang belum sepenuhnya menerimamu, kau sering dibanding-bandingkan dengan mantan menantu mereka, diacuhkan oleh suamimu sendiri, pekerjaan yang kau lakukan sama sekali tak pernah mereka hargai.
Meski kau menerima, tapi aku tahu semua ini membuatmu stress. Dan hal ini bisa mempengaruhi kesehatan janin di kandunganmu Jihan. Jika kau memang ingin melakukan ini semua untuk anakmu, maka kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu terlebih dahulu. Sudah cukup kau bertahan sampai selama ini." Ujar Dira terus meyakinkan Jihan.
Jihan menunduk, entahlah apa yang membuat ia berat untuk meninggalkan Yoga. Perasaan yang berada di hatinya pun ia ragu, ia sadari bahwa perasaannya sudahlah tidak sekuat dulu. Selama ini, yang ia pikirkan hanyalah janin dalam perutnya.
Dira merasa ada seseorang yang ia kenal melintasi jalan raya pun melambaikan tangannya.
"Afsa!!!" Panggilnya.
Gadis yang dipanggil namanya pun menolehkan wajahnya, ia tersenyum manis dan barangsur mendekati Dira. Namun semakin dekat, senyum di bibirnya perlahan luntur. Menyadari, siapa wanita yang ia ketahui sebagai perebut dari suami Kakaknya.
__ADS_1
"D-dira, sedang apa kau di sini? Dan mengapa kau ada bersamanya?" Tanya Afsa dengan nada tak bersahabat.
"Dia Jihan, temanku yang ingin aku kenalkan padamu."
"Apa?!" Keterkejutan Afsana tak dapat lagi ia sembunyikan. Ia memandang wajah Jihan penuh amarah, namun dalam hati sangat perih. Terlintas bagaimana terpuruknya sang Kakak atas kelakuan wanita di hadapannya itu.
"Benar-benar tidak tahu malu." Dengan geram Afsana tarik rambut Jihan. Wajah Jihan yang mendongak seketika basah karena Afsa yang menyiram minuman yang ia pesan tepat di wajahnya.
"Aaaghhh!!!" Jerit Jihan tak dipedulikan Afsana. Gadis yang sedang dilingkupi amarah itu terus saja menjambak rambutnya bahkan kembali menyiram kepalanya dengan jajanan berkuah. Kemarahannya sebenarnya belumlah seberapa, mengingat bahwa dia memegang beberapa sabuk pencak silat yang ia tekuni.
Sikap Afsana tentu mengundang beberapa pasang mata untuk menyaksikan mereka. Sedangkan Dira ia berusaha melerai Afsa, meski sulit, namun akhirnya tubuh Jihan lolos dari kemarahan Afsana.
"Kau ini kenapa Afsa? Tingkahmu benar-benar sangat berbeda dengan Kakakmu." Dengus Dira, kemudian ia beralih menolong Jihan yang terkulai lemas.
"Seharusnya kau tidak langsung menghakimi orang seperti ini, aku tahu Jihan telah berbuat kesalahan pada Kakakmu. Tapi untuk sekarang, setidaknya lihatlah keadaan. Lihat dia sebagai wanita yang sedang mengandung." Perlahan Dira bawa keduanya menuju tempat yang lebih sepi.
Afsa hanya terdiam sembari mengikuti keduanya dari belakang. Bukan karena amarahnya yang berangsur mereda. Hanya saja ia menahan sejenak untuk tidak mengeluarkan emosi.
Mata Jihan terasa panas, sejenak pandangannya kabur hingga ia merasa ada yang membasahi pipinya. Adik mana yang memang akan diam saja kala melihat penghancur Kakaknya. Ia sama sekali tak menyalahkan perbuatan Afsa, hanya saja ia lelah. Menghadapi semua ini.
Ketika Dira telah menemukan tempat yang menurutnya pas, ia pun berhenti. Ia mulai menceritakan kronologi dari setiap kejadian yang dialami Jihan. Dari kecil hingga ia bertemu dengan Yoga.
Afsana menanggapinya sinis. "Benarkah, jadi dia adalah wanita paling menyedihkan dan menderita di sini? Seburuk apapun keadaanmu, dengan merebut kebahagiaan milik wanita lain tetap saja perbuatanmu tidak ada yang dibenarkan. Semua cerita yang telah kau alami itu sama sekali tak merubah perspeksi orang lain tentangmu Jihan.
Jika kau ingat Tuhan walau sejenak, maka kau akan melihat betapa luasnya kasih sayang yang akan dia berikan kepada mereka yang memang mengadu dan mau bermanja dengan-Nya. Hanya dengan disodorkan sedikit kehangatan seorang lelaki, bisa-bisanya kau membutakan matamu dengan tidak melihat adanya istri dari pria yang ingin kau miliki itu!! Maka sekarang jangan salahkan orang jika mereka ingin menghakimi dirimu dengan membutakan mata mereka dari perutmu!!" Tegas Afsana kemudian meninggalkan mereka dengan amarah yang masih menguasai.
Sebesar apapun rasa sakit atas kehidupan Kakaknya, dari kecil sama sekali tak pernah diajarkan untuk menyakiti orang lain. Meski tadi ia sempat tidak bisa mengontrol emosi.
__ADS_1
***
Seminggu kemudian.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Ucap Aisyah menghirup udara segar kala sore itu.
"Selesai apa?" Celetuk Zara menghampiri Aisyah.
"Udzurnya Kak." Balas Aisyah.
Zara mengangguk mengerti. "Alhamdulillah, jadi kita bisa berangkat bersama-sama. Mbak yakin kau akan mendapatkan ketenangan yang lebih dari sebelumnya.
Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di sini selama Ramadhan. Mbak harap kamu dapat sedikit mengobati rasa sakit yang selama ini ada dalam hatimu."
Aisyah tersenyum mendengarnya. "Untuk itu Alhamdulillah, sudah dari jauh-jauh hari hati Aish terasa lapang dan ikhlas. Sedih berlarut-larut pun tak akan mendapatkan dampak positif apapun bagiku. Sekarang, Aish akan berusaha menerima apapun ketetapan yang telah Allah gariskan. Do'akan saja semoga Aish bisa istiqomah ya Mbak."
"Aamiin." Jawab Zara.
"Aisyah..., Zara...!" Panggilan dari Ibuk membuat mereka menoleh secara bersamaan. Seketika keduanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Bersama-sama mereka hampiri wanita yang telah memanggil nama mereka.
_____________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih ;)
Ig: nick_mlsft
__ADS_1