
sesampainya dirumah eva, ternyata Rangga dan repan mengikuti mereka pulang. inun berpamitan pada mama Eva dan Eva. "jangan sungkan-sungkan buat main kesini, nanti mampir lagi kalo ada waktu." ucap mama Eva. "Iyah, pokonya kapan-kapan pergi travel lagi sama gue." lanjut Eva sambil memeluk inun erat, inun menganggukkan kepalanya sambil melepas pelukan Eva. "padahal masih pengen lama-lama disini, tapi kan izin ke umi cuma dua hari aja." ucap inun sambil memasang wajah melasnya, "nanti kita keliling Bogor deh kapan-kapan, jangan sedih gitu dong." ucap Eva dengan nada maka dan muka so cute nya. Rangga yang melihat dua sejoli itu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua perempuan yang bertingkah kekanak-kanakan. "hmmm,, udah belum peluk-pelukannya.?" kata repan sambil menyalimi mama Eva di susul oleh Rangga. setelah itu mereka pun pamit.
"Dek, kamu sama Abang, biar repan yang nyetir mobil kamu." ucap Rangga dan membukakan pintu mobilnya untuk Ainun. repan yang terkekeh mendengar sebutan Abang dan adek kemudian menahan tawanya dan langsung mendekati mobil Ainun, "ta..tapi gue bisa kok nyetir sendiri." ucap Ainun dengan tertunduk pasalnya jantungnya sudah meloncat-loncat seperti akan copot Saja. "gak, nanti lo kecapean lagian kan tadi habis turun gunung." kekeh Rangga dan menuntun Ainun untuk segera masuk.
__ADS_1
"wey kunci mobil Ainun nya mana?. tanya repan sambil menengadah kan tangannya. Ainun segera mengambil kunci dari dalam tasnya dan segera diambil oleh Rangga dan melemparkannya ke repan, dengan repleks repan langsung menangkap nya. Rangga memasuki mobil dan mendudukkannya dibelakang kemudi, dan langsung melajukan mobilnya. perjalanan lumayan padat, Rangga melajukan mobilnya dengan pelan. namun repan entah sudah berada di mana. Rangga melihat Ainun yang sudah tertidur pulas.
"semalam apa tidak cukup untuk tidur? Cantik," gumam Rangga sambil tersenyum dan sesekali melihat kearah Ainun. perjalanan terhambat karena macet, baru saja bergerak sedikit langsung terhenti lagi. dan tiba-tiba mobil di depan mereka berhenti mendadak membuat ranggapun mengerem sekaligus. hingga Ainun terbangun. "Aww, " pekik inun yang merasa kesakitan karena kepalanya terbentur. Rangga repleks langsung mengusap-usap kepala Ainun yang terbentur yang tengah inun pegangi, Ainun menatap Rangga dalam. Rangga terus mengusap kepala inun dan meniupnya, tanpa menghiraukan tatapan mata inun. "apa masih sakit? kalo masih kita kedokter dulu." tanya Rangga terlihat cemas. Ainun langsung menyingkirkan tangan Rangga , pipinya sudah memerah dan terasa panas. "gak apa-apa sih. udah gak sakit juga, Lo fokus nyetir aja." tegas inun dan memalingkan wajahnya ke arah sisi luar mobil. "aduh kenapa sih jantung gue kalo Deket ni orang rasanya dag Dig dug banget. apa jangan-jangan gue naksir lagi sama ni manusia salju." batin inun sambil terus bergumam "gak mungkin, gak mungkin." dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"apanya yang gak mungkin?" tanya Rangga sambil terus Pokus pada jalan. Ainun hanya terdiam karena ternyata rangga mendengar suara gimana nya, dan tingkahnya itu mengundang tanya Rangga.
.
__ADS_1
.
Repan sudah dari lima menit yang lalu sampai namun Rangga belum juga terlihat. "Gila banget si Rangga, sama Ainun aja bawa mobil kayak keong ,giliran bawa gue kayak bawa pasien gawat darurat aja." dengus repan kesal, pasalnya Rangga tidak pernah melajukan mobilnya pelan, dia selalu melajukan mobilnya seperti ambulan yang membawa pasien gawat darurat dan sepengetahuan repan Rangga tidak pernah tertarik untuk mendekati perempuan atau meskipun perempuan itu mendekatinya ia tidak pernah merespon nya.
__ADS_1