
Ainun tengah sibuk mempersiapkan segala hal, karena dia ditujukan jadi ketua pelaksana dalam acara wisuda. "tinggal sehari lagi! apa masih ada yang kurang, misal dari segi konsumsi dan penyambutan tamu.?" tanya Ainun dalam rapat yang digelar sehari sebelum wisuda, karena untuk mengetahui dari semua yang sudah mereka persiapkan dari jauh-jauh hari. "tidak ada karena semua yang sudah kamu instruksi kan, dan semua peralatan yang dibutuhkan sudah siap. dari material terkecil sampai yang besar." jawab Rena penanggung jawab peralatan. setelah diskusi selesai Ainun keluar dari ruang rapat dan disusul oleh Eva. "he....y ke kantin yuk, soalnya gue laper nih." ucap Eva sambil menarik tangan inun. "yaudah ayok, jangan lama-lama soalnya mau ada acara gladi buat besok." kekeh inun dan berjalan ke kantin.
"Nun, babang Lo tuh. Cie cie." sungut Eva sambil memonyongkan bibirnya dan matanya melirik inun dan Rangga berkantian. "apaan sih Lo, dih gajelas." bantah inun dengan senyum yang ditahannya, pipinya mulai memerah dan tingkahnya mulai kikuk sambil mendudukan badannya dihadapan Eva. "Cie salting nih yeee. tuh tuh babang nya ngeliatin Lo." goda Eva terus-menerus membuat inun semakin berdebar-debar. "apaan sih." sambil melihat ke arah Rangga dan lagi-lagi mata mereka bertemu, seketika Rangga tersenyum manis dan dibalas oleh inun yang tersenyum tak kalah manisnya.
.
.
hari ini hari yang ditunggu-tunggu semua mahasiswa/i berkumpul di gedung acara berlangsung.
"hallo, nun Lo dimana, acara udah mau dimulai nih."
suara Eva di sebrang telvon.
__ADS_1
"gue kena macet nih, tadi teks ikrar ketinggalan jadi gue balik lagi." jawab inun panik, sambil terus menhetuk-ngetukan jarinya dikemudi.
"*yaudah Lo cepetan, gue mau bantu yang lain."
**tuuuut,,
.
.*
"Inunnnnn Lo disini, yaudah hayu nanti keburu acaranya dimulai." ucap Eva sambil menggandeng inun, "permisi yah babang, kita pergi dulu." ucap Eva sambil melambaikan tangan dengan manja. Rangga hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabat wanita yang ia cintai itu.
"genteng banget sih dia, pake kemeja biru muda dipaduin sama jas item, dan dasi yang senada. bikin jantung gue mau copot aja." batin inun sambil terus tersenyum. "nanti kesambet loh bengong sambil senyum-senyum." tuduh Eva membuyarkan lamunannya. "apaan sih, orang gue gak senyum..-se..nyum." jawab inun seperti orang yang tengah berfikir.
__ADS_1
.
.
tiba saat pengumuman mahasiswa lulusan terbaik dan nama Rangga Lesmana menggema saat dipanggil oleh moderator.
"sumpah demi apa telinga gue budeg atau ggk, Rangga Lesmana babang ganteng Lo itu?." tanya Eva tidak percaya sambil menggebrak meja . "waah, kereen." lanjutnya sambil bertepuk tangan. "Iyah, udah ganteng pinter lagi." ucap Ainun sedih. "mana mungkin dia mau sama gue, secara pastinya banyak cewek yang mau sama dia, sedangkan gue mungkin gak ada artinya." lanjut inun dan meninggalkan Eva, Eva hanya duduk diam dan tak mengerti. "apa gue salah ngomong yah." seakan bertanya pada dirinya sendiri dan menepuk-nepuk bibirnya. Eva langsung mengikuti Ainun yang ternyata pergi ke toilet.
.
.
.
__ADS_1
acara wisuda sudah selesai, semua mahasiswa/i berkumpul dengan keluarga nya masing-masing. Rangga melihat ayahnya sudah tersenyum bangga kepada Rangga, "Ayah bangga sama kamu nak, kamu bener-bener anak yang patut ayah banggakan." tegas pak Ardi memeluk erat anak semata wayangnya itu sambil menepuk-nepuk punggung nya tak terasa air matanya sudah berderai. "andai ibumu masih ada, pastian dia sangatlah bangga padamu, dan anadai saja kakak mu masih ada pasti kalian...(dia tak sanggup melanjutkan nya di tengah Isak yang semakin dalam)". Rangga melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan sang ayah "Yah, mama pasti bangga sama aku, mamah sudah bahagia disana aku yakin mama pasti sama senang nya seperti ayah." ucap Rangga yang tak terasa air mata yang sejak tadi tertahan disudut mata kini sudah berjatuhan. "kakak juga bangga sama aku, meskipun dari dulu aku selalu kalah dalam pelajaran. tapi dia adalah penyemangat belajarku." lanjut Rangga dan memeluk erat ayahnya.