Kedua Matamu

Kedua Matamu
59. Manis


__ADS_3

Pagi harinya Ainun dan Rangga bersiap-siap karena hari ini adalah hari peringatan kematian Ibu Rangga.


"Dek, udah selesai belum?". ucap Rangga sambil mengancingkan lengan bajunya.


"Udah kok bang, Gimana cocok gak?". tanya Ainun yang berdiri didepan cermin.


"Cantik banget de, jadi gak mau bawa kamu kesana". jawab Rangga sambil memeluk Ainun dari belakang.


"Loh kok gitu sih!". gerutu Ainun.


"Iyah nanti kamu banyak yang Liatin, Abang kan gak rela". Kekeh Rangga sambil memegang pundak Ainun sang memutar badannya sampai berhadapan.


"Dih, dasar". Kesal Ainun sambil memukul dada bidang Rangga.


Rangga pun menggenggam tangan Ainun yang terkepal. "Allah Allah, Ade ini kalo cemberut makin Imut, apalagi kalo senyum bikin dunia sama isi-isinya minder karena kalah Cantik. hehe.."


"Udah ah, jadi berangkat gak nih". ucap Ainun sambil menahan senyumnya.


"Wah Pipi Ade kok merah, kebanyakan pake blush on yah?". Ucap Rangga sambil mencolek pipi Ainun.


"Ahhh, tau ah sebel." ucap Ainun sambil menghentakkan kakinya lalu berlari kecil keluar.


"Dasar wanita". ucap Rangga sambil geleng-geleng kepala.


.


.


sampai nya di kediaman ayah Ardi, Sudah banyak orang yang berdatangan karena diadakannya Syukuran yang mengundang sanak saudara dan para tetangga.


"assalamualaikum.." ucap Ainun dan Rangga ketika sudah sampai di rumah ayah Ardi.


"Wa alaikumsalam wr.wb..". jawab semuanya serempak.


"Masya Allah, kalian baru aja mau diTelvon Alhamdulillah udah Dateng. acarang udah mau mulai cepet masuk." Ucap Umi.


"Dimana ayah sama Abi, Mi?". tanya Rangga.


"Ada didalam lagi ngobrol sama Pak Ustadz dan bapak-bapak". Jawab umi.

__ADS_1


"De, Abang tinggal disini yah. Mau kesana (ucapnya sambil menunjuk barisan bapak-bapak). Umi Rangga titip Adek". Lanjut Rangga.


"Iyah." ucap Umi dan Ainun.


Rangga pun segera ikut bergabung bersama Para jamaah bapak-bapak.


.


.


"Weh Lu baru kesini kalah sama gue yang jauh". ujar Dr. Akbar sambil menepuk bahu Rangga.


"Biasa lah namanya juga masih anget-anget, lengket. yah Gitu". Timpal Revan.


"Wah gue gak faham sama bahasa Otak kalian". jawab Rangga sambil duduk ditengah-tengah mereka.


"Haha,, Orang gue pake bahasa Hati, Noh Akbar yang duluan pake bahasa tubuh". Ucap Revan sambil memakan menendang ujung kaki Akbar.


"Gue mah pake bahasa Toke, Puas lu." kekeh Akbar, sambil menoyor kepala Revan.


"Gila masa buaya jadi Toke 🤣 terus Revan yang kadal jadi apa?, Cikcak. Haha." Ucap Rangga sambil tertawa.


.


Revan, Rangga dan Akbarpun hanya bisa tersenyum kikuk.


"Kalo Akbar toke, Revan cikcak. terus kamu apa ga? Toke di cicakin." Ucap Abi


dan mengundang gelak tawa para bapak-bapak.


.


.


Karena dirasa hari sudah semakin siang dan para Tamu juga sudah hadir, maka acara doa bersama pun dimulai, acara demi acara pun sudah dilaksanakan.


Siang hari para tamu diberikan hidangan untuk makan siang, para wanita menyiapkan makan. karena laki-laki makan lebih dahulu dari para wanita.


Ainun dan Eva pun membantu untuk memberikan pirin dan sendok pada para lelaki. Eva datang pada saat acara sudah dimulai karena harus mengantar ibunya terlebih dahulu ke stasiun.

__ADS_1


.


.


Giliran Akbar , Revan dan Rangga mengambil makan.


"Eh, De Ainun siapa yang sama de Ainun ini." Tanya Akbar.


"Ouh kenalin dr. Akbar ini sahabat saya Eva namanya." Jawab Akbar, yang di tanya hanya tersipu malu dan menundukkan kepala.


"Assalamualaikum, dr. Akbar. saya Eva." Ucapnya.


"Masya Allah, cantik sekali Eva ini." ucap Akbar, Revan yang tak tahan mendengarnya pun langsung mendorong dr. Akbar agar segera mengambil makanan.


"Ngantri woy, gue laper. mau gue makan orang." ketus Revan.


Dr. Rangga pun bergegas mengambil makan dan kembali duduk.


Giliran Revan yang akan mengambil nasi, malah tidak ada Sendok nasinya.


"Nun, Va ini saya nyendok nasi pake apa, kok gak ada." gerutu Revan.


"masa sih." tanya Ainun dan Eva


"Coba cari dulu Van disisi sebelah sana " Kata Rangga.


Merekapun mencari sendok nasi disekitar meja, namun tak menemukannya. bebera menit kemudian Revan langsung menatap Dr. Akbar dengan Tajam, yang ditatap hanya nyengir kuda.


Mereka semua pun menatap ke arah Dr. Akbar dengan tatapan mebunuh.


"Mau Ma*i yak lu, bar." Kesal Revan.


.


.


.


Maaf baru Up, semoga kedepannya bisa lebih konsisten dalam update 😍

__ADS_1


jangan lupa like komen dan Tip. tambahkan pavorit juga. Pokonya tinggalkan jejak biar author bisa lebih semangat 🤩🍁


__ADS_2