Kedua Matamu

Kedua Matamu
bab 7 ke khawatiran


__ADS_3

sudah lima hari setelah operasi hari ini umi inun sudah dibolehkan pulang. setelah shalat asar, inun kerumah sakit menjenguk uminya. sesampainya depan diruang rawat uminya, ia melihat seorang lelaki tengah menggenggam erat tangan uminya. ia mengerutkan dahinya mengingat seperti apa punggung abangnya atau Kaka iparnya yang lelaki, namun seperti nya itu bukan sosok keduanya, ia memasuki ruangan itu dilihatnya abinya sedang berbincang dengan seseorang lelaki paruh baya di sofa. "assalamualaikum, abi , Om." sambil menyalami keduanya, ketika ia melihat ke arah uminya tinggal uminya seorang. "Umii, gimana keadaan umi sekarang." sambil mengecup pipi uminya. "umi udah mendingan sayang, hari ini umi sudah boleh pulang." ucap umi menggenggam tangan putrinya itu. "tadi itu lelaki siapa sih mii?" tanya inun sambil mendudukkan tubuhnya di kursi samping uminya. "itu anak om Ardi, dia jengukin umi." sambil terus mengelus kepala putri bungsunya itu.


Rangga yang tahu kedatangan inun langsung keluar dari ruangan ketika inun sedang Salim kepada abi inun dan ayahnya. "syukurlah dia tidak sadar kalau itu gue." gumam Rangga diluar ruangan, ia mengeluarkan ponselnya dan berlalue meninggalkan RS.


*kring


*rangga : ayah aku pulang duluan karena ada keperluan mendadak."


ayah: baik lah, nanti ayah mau ngomong sama kamu.


Rangga yg membaca pesan terakhir ayahnya itu hanya menggidikkan bahunya dan menyimpan kembali ponselnya, ia langsung memacu mobilnya ke rumahnya. kini ia sudah tidak tinggal dengan ayahnya, semenjak kuliah.


*tiddtidd

__ADS_1


pak Herman langsung membukakan gerbang begitu majikannya pulang.


"pak Herman hari ini saya akan keluar jika ayah datang segera telvon saya."


kemudian ia turun dari mobil dan masuk kerumah, dilihatnya mobil repan sudah terparkir disana. Rangga hanya menggelengkan kepalanya melihat temannya itu yang tak hentinya selalu mampir kerumah, "eh lu udah pulang, gimana gimana inun?" langsung mendudukan badannya yang terlentang dan menepuk sofa yang ada disampingnya, Rangga mendudukan badannya di sofa satu. "gak gimana-gimana, kepo banget lu! jadikan malam ini lu nemenin gue ke rumah sakit milik mamah gue." tanya Rangga datar.


"iyalah, terus ngapain gue kesini kalo bukan mau nemenin lu." sungut repan. "yaudah kita sholat Maghrib dulu." jawab Rangga ketus.


Rangga memasuki ruangan kerja mamahnya, ia untuk pertama kalinya memasuki ruangan itu. semenjak ibunya meninggal ia tak pernah menginjakkan kakinya lagi di RS swasta milik keluarganya. karena begitu pahit kehilangan sesosok mama yang amat ia cintai dan setelah itu harus kehilangan saudara yang ia sayangi, "gimana ga, lu udah selesai lihat-lihat nya?" balik yok udah mau jam makan malem.


sesampainya dirumah tak lama ayahnya pun datang . "habis dari mana emang kalian?" tanya pak Ardi , "kita abis dari RS yah, yuk masuk katanya ada yg mau di omongin."


makan malam sudah siap, mereka sudah duduk di meja makan dan menyantapnya, setelah selesai makan malam, ayahnya pun mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


"ini soal perjodohan kamu dan Ainun ," kata pa Ardi Rangga "uhukk uhukk." Rangga yang mendengar pun tersedak segera repan membawakan air untuknya.


"apalagi sih yah, aku udah bilang aku yang bakal deketin dia dan melamarnya setelah dia lulus kuliah."


"iya ayah tahu, tapi sebaiknya kamu segera temui Ainun."


"aku udah tiga kali ketemu dia **yah."


"**lantas mengapa tadi kamu pergi ketika Ainun datang."


"aku belum siap melihat reaksi Ainun, aku khawatir dia akan menolak ku."


"hmmm.. baiklah kalau begitu, ayah percaya sama kamu, kamu pasti bisa dapetin hatinya." ayah Ardi pergi dan menghembuskan napas kasar, ia juga merasa khawatir akan itu, meskipun ia tahu Ainun pasti menuruti semua kata Abi dan uminya.

__ADS_1


__ADS_2