
Tak lama kemudian Rangga dan Ainun datang, repan segera berdiri dan menghampiri mereka. "lama banget untung aja gue gak berakar disini." dengus repan sambil menyilangkan tangannya. "jalanannya macet kak, bukannya masuk aja." jawab Ainun melewati repan dan membuka pintu. "ayok masuk dulu, udah mau magrib." lanjut Ainun mempersilahkan dan merekapun mengangguk dan mengekori Ainun ke ruang tamu. Ainun meninggalkan Rangga dan repan yang sudah duduk di sofa, berlalu kedapur untuk mengambil minuman.
Diruang tamu
"Lo suka sama Ainun yah?." tanya repan sambil menggeser duduknya mendekat ke Rangga, Rangga yang duduk di sofa panjang dengan repanpun langsung berpindah ke sofa satu tanpa berkata apapun. "Yaelah gitu doang lu ngehindarin gue." lanjut repan sambil kembali ke tempat semula. karena repan tahu sahabat nya ini jika tidak ingin bercerita ditanya sebanyak apapun Takan ada jawaban. kecuali dia sendiri yang buka mulut. tak lama Ainun membawa minuman, dan adzan Maghrib berkumandang.
"Udah azan kita sholat dulu." ucap Rangga dingin sambil berdiri dan disusul repan. "di kamar tamu aja bang Rangga, kak repan. mari aku tunjukkin." lanjut Ainun sambil menuntun jalan menuju kamar tamu dan dibuntuti oleh Rangga dan repan.
.
.
. setelah sholat mereka berpamitan pulang, Ainun mengantarkan mereka samapi kedepan, dan tak lama mobil merekapun lenyap dari pandangan matanya. "heuuh,, kenapa gue jadi gelisah gini sih, kok hati gue sakit ngelepas kepergian bang Rangga." gumam Ainun sambil memegang dadanya dan bergelayut di daun pintu yang terbuka. "ih, apaan sih gue." sambil berkidik dan geleng-geleng, seketika ia masuk dengan cepat menutup pintu. Ainun memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur . Ainun mengambil ponselnya dan melihat hasil potonya diatas gunung, ia meng-upload salah satu potonya bersama senja dan membuat caption sebuah puisi.
*aku kira jingga adalah ciptaan Tuhan yang paling indah,
__ADS_1
ternyata ada yang lebih menawan yang membuat mataku tak ingin henti menatapnya.
aku kira senja saja cukup,
aku kira mentari pagi pelengkap,
ternya aku hanya mengira,
tanpa sadar ada yang pasti tanpa harus kukira
Ia pun langsung menyentuh tanda panah yang langsung memposting foto nya itu. tak lamapun kolom komentar dibanjiri oleh teman kampusnya, banyak yang berkata "kok gak ngajak/ yuk kesana lagi. dan banyak lagi komentar seputar potonya diatas gunung. setelah berbalas komentar Ainun pun tertidur karena sudah merasa lelah.
.
.
__ADS_1
.
pagi hari ini Ainun akan pulang kerumah orang tuanya, sesampainya dirumah kebetulan orang tuanya baru saja akan sarapan di meja makan. Abi dan uminya bergantian memeluknya. "gimana liburannya, seru?." tanya umi dengan bersemangat. "seru banget mi, ditambah cuaca lagi ngedukung banget, jadi bisa liat senja sama sunrise dengan indah." jawab inun tak kalah semangat, dengan wajah ceria dan bahagia. sambil mendudukan badannya disamping sang umi. "kamu ngedaki gunung sama siapa aja nun?" tanya Abi, "mm..mm. inun sama Eva terus didampingi omnya eva, bi." jawab inun ragu, dan uminya memandang Ainun sayu. "itu juga gak sengaja kok bi ketemu sama kakak tingkat aku di kuliahan." lanjut Ainun terkekeh. Abi dan uminya hanya tersenyum lalu Abi berdiri dan menyodorkan tangan lalu disambut sang istri dengan ciuman dipunggung tangan sang suami dan bergantian dengan Ainun. "Abi ke kantor dulu nanti kesiangan." lanjut Abi dan meninggalkan meja makan.
.
.
setelah sarapan sang umi berbincang dengan inun di ruang tamu "Itu Kaka tingkat kamu juga ngedaki?". tanya umi penasaran
"Iyah mi, dia sama temennya berdua. untung yah mi ada dia, kalo gak mungkin inun udah jatoh kejurang." jawab inun sambil membetulkan duduknya. "ya Allah nak. terus gimana kok bisa kamu mau jatuh.?" tanya umi cemas. "syukur banget mah ada dia jadi dia yang nolongin inun." jawab inun sambil tersenyum senang, umipun tersenyum bahagia melihat putri bontotnya itu sudah dewasa dan terlihat bahagia. merekapun berlarut-larut dalam obrolan dan candaannya.
.
.
__ADS_1
bulan berganti, sudah semester akhir bagi Rangga dan juga repan. mereka tengah sibuk mengurusi skripsi nya. "besok sidang skripsi gue, dosen pembimbing juga udah ngingetin, kok gue takut gini yah." dengus repan sambil menutup laptopnya. "bawa rileks." jawab Rangga datar. "aduh abang, Ade takuuut." dengan suara dibuat-buat sambil memukul-mukul dada Rangga, sontak membuat Rangga bergidik jijik. "hih, amit-amit deh, mending aja kalo si Ainun yang ngomong gitu." kekeh Rangga sambil mengibaskan tangan repan repanpun tertawa geli mendengar pertanyaan Rangga. "sejak kapan Lo bisa ngomong kayak gitu, makanya kalo suka ya deketin." ucap repan sambil membawa laptopnya. "eh lo mau kemana?." tanya Rangga dan mengekori repan tak ada jawaban hanya tangan nya saja yang di angkat keatas.