
tak lama pesananpun datang kemudian mereka menyantapnya, Eva yang memang sudah lapar langsung menghabiskan makanannya tanpa sisa. sedangkan inun masih mengadukan garpu dan sendoknya. "nun makan, gak baik rezeki digitu-gitu, mubazir tahu, lagian lu tuh harus makan biar sehat, biar bisa jagain umi lu." cerocos Eva tanpa dihiraukan oleh inun. " yaudah sini gue suapin(mengambil sendok dan garpu inun dan langsung menyuruhnya makan) aaaaaaaa,, nah gitu dong dimakan biar inun juga sehat." senyum tipis pun mengembang ditengah kunyahan nya, namun air mata tetap deras mengalir, mengingat sang umi. "gilaaa ganteng bangeet seumur-umur baru kali ini liat tuh orang." kata Eva dengan mata tak henti melihat pria yg kini duduk dimeja sebrang, kemudian inun melihat kearah belakang dan dilihatnya dua lelaki yg duduk berdampingan menghadap kearah nya, "itu kan si datar yg tadi pagi bikin gue kesiangan masuk kelas." batin inun, sambil kembali menghadap Eva dengan pandangan malas. "lu kenapa sih nun?" tanya Eva melihat perubahan sikap sahabatnya itu, "gak papa, kita kekelas aja yuk gue udah kenyang juga." dengan nada malas ia beranjak.
Rangga yg tengah memperhatikannya pun ikut heran, apa karena dia perempuan bermata indah itu menyelesaikan makannya sampai tak habis. "kenapa lu bro, ceweknya kabur yah. cantik sih, apalagi matanya huh bikin adem kalo dipandang." kata repan tanpa rem, "mulut lu pan!" tegas Rangga sambil menyedot minuman nya, dan berlalu meninggalkan repan. "eh bro, tungguin Napa, gitu aja ngambek. haha." dan langsung mengejar nya.
__ADS_1
dikelas inun, "kenapa yah gue kalo liat Abang Rangga berasa, jantung gue mau copoot, dan hati gue tentram banget kalo liat tuh orang, apa mungkin ini namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. ih apaan kali nun suka aneh-aneh". batinnya, "woy jangan ngelamun Mulu Napa, tadi ngelamun nangis sekarang cengengesan gak karuan. apa jangan-jangan luu," selidik Eva dengan matanya yang kini melihat kedua mata Ainun bergantian, jantung Ainun di buat berdegup tak karuan dan keringat dingin mulai keluar, saking paniknya jika Eva tahu dia suka sama Rangga, "apa jangan-jangan lu gila kali yah, kayaknya lu harus ke psikiater deh atau langsung ke RSJ." sungut Eva dengan tetap menyelidik. "gila lu tuh yang gila, gak lah apaan sih," menjauhkan muka Eva dari hadapannya dan bernafas lega karena Eva tak curiga.
dosen telah pergi, Rangga segera bangun dan berjalan keluar dan repan mengekorinya, tak lama akhirnya repan menyamakan langkahnya dan membuka pembicaraan karena semenjak dari kantin Rangga mendiamkannya. "ga, lu suka sama tuh cewe?."
__ADS_1
ia hanya bergumam dan menuju ke parkiran tanpa suara, tiba-tiba repan yang mengekorinya menabrak nya karena dia berhenti mendadak. "ngapa sih lu ga, berhenti kagak bilang-bilang." repanpun melihat kearah mata Rangga memandang, terlihat seseorang sedang berjongkok dan sesekali berdiri memeriksa ban mobilnya yang kempes.
"ah sial banget gue, hari pertama bawa mobil malah kempes." dengan nada merengek kesal.
__ADS_1
Rangga menghampirinya dan langsung berjongkok melihat ban yg sudah kempes. "apa lu bawa ban cadangan?" tanya Rangga dingin. repan masih memaku dan tak percaya, Rangga yg kayak gunung Himalaya bisa meleleh kayak ice cream kepanasan. inun hanya menggeleng. "oh gitu, mana kunci mobil Luh." tanya Rangga dan menyodorkan tangan nya. inun yang sedari tadi hanyaenatap Rangga penuh kagum memberikan kunci mobilnya tanpa bertanya karena sedari tadi jantungnya seperti akan melompat keluar, bibirnya kelu hingga tak bisa berkata apa-apa. "Pan, nih kunci mobil Ainun lu telpon montir, nanti uang gue ganti." sambil melempar kunci mobil ke repan, dengan cekatan repan menerimanya. "Ainun lu pulang sama gue aja, mobil gue sebelah sana." ucap Rangga dingin. inun masih memangku ditempatnya, tiba-tiba Rangga menarik lengan Ainun yg terbalut kemeja panjang, "gak usah bengong aja hayuk, kayanya udah mau hujan juga." kata Rangga sambil melepaskan pegangannya, inun berjalan mengekorinya . sampai di mobil milik Rangga, dia langsung membukakan pintu untuk inun, setelah keduanya berada didalam mobil inun tak segera memasang sabuk pengamannya, tubuhnya berat dan membuat jantungnya berdetak tak biasa, Ainun merasa begitu gugup. "hadeh, kenapa gue malah mau,mau aja sih di anterin nih orang, baru juga kenal. apa jangan-jangan dia mau macem-macem, dan dia yg ngemepesin ban mobil gue. kan kata temennya itu kalo si Rangga tuh diem-diem menghanyutkan,, aduh jangan berfikiran negatif apa, hus hus." batin inun terus bergejolak, antar senang dan ketakutan.