Kedua Matamu

Kedua Matamu
bab 47


__ADS_3

Ainun keluar dari ruangan Rangga masih dengan rona wajah bersemu merah dan senyum mengembang diwajahnya, baru saja menutup pintu ruangan Rangga Ainun melihat Revan yang tengah berdiri menyender ditembok depan ruangan Rangga sambil memegangi keningnya.


"KAK REVAN!!." Ucap Ainun kaget.


"Kak Revan sejak kapan disitu?." Tanya Ainun dengan ragu.


"Sejak aku keluar, ya aku berdiri disini." Jawabnya ketus lalu melongos masuk keruangan dengan langkah gontai.


Ainun tak ambil pusing dia langsung keruangan Eva. Ketika sudah berada di depan ruangan baru saja memegang handel pintu, pintu sudah terbuka dari dalam.


"AiNUnNnnn" teriak eva sambil berhamburan kepelukan Ainun. Ainun spontan menutup telinganya. "Lo berisik banget Va." Ucapnya lalu membalas pelukan Eva.


"Gue kangen tahu." Ucapnya ketus.


"Iya iya . Gue juga kangen kok." Balas Ainun.


"Yah tapi gue maueriksa pasien dulu." Ucap Eva terdengar putus asa.


"Minta gantiin dulu aja." Ucap Ainun.


"Yaudah deh, yuk kita masuk dulu kedalam ruangan. Kita ngobrol santuuy." Ucap Eva sambil menggandeng Ainun .


Mereka bercerita, membagi keluh kesah dan menggosipkan hal-hal yang tidak penting.


"Oh iya, giamana rasanya malam pertamaan.?" Tanya Eva tiba-tiba sambil menyenggol lengan Ainun yang duduk disampingnya.


"Eh, lo cobain aja nanti. Gue juga belom." Ucap Ainun sambil menghela nafas.


"What? Lo belom yang ena ena an.?" Tanya Eva makin penasaran.

__ADS_1


"Hih. Jangan keras-keras apa ngomongnya.! Gue Dateng bulan waktu itu." Ucap Ainun.


"Ooh, gue kira Lo yang takut liat punya pak Rangga yang gede." Jawab Eva dengan setengah berbisik.


"Ih dasar." Ucap Ainun sambil menoyor kepala Eva.


"Terus kapan Lo selesai datang bulannya?." Tanya Eva.


"Lo kepooo, udah ah gue mau pulang." Ucap Ainun sambil berdiri.


"Nanti cerita yah sama gue, gimana rasanya di wik wik. Haha." Kekeh Eva.


Ainun melenggang kan kakinya tanpa menoleh ke arah Eva namun sambil melambaikan tangannya.


***


Revan yang baru masuk keruangan Rangga langsung terduduk lemas di sofa. Dia melirik ke arah Rangga yang sedang berkutik dengan urusannya namun mengeluarkan aura kesenangan.


"Huh, apa dirumah juga gak cukup, sampe di RS juga masih aja begituan." Lanjutnya sambil mendengus kesal.


Rangga kemudian memalingkan wajahnya ke arah Revan.


"Awas mata Lo bintitan, ngintip orang lagi anu anu an." Ucap Rangga.


"Gue gak liat cuma denger berdecak-decak gitu. Hiiih" ucap Revan tiba-tiba bulu kuduknya berdiri membuatnya berkidik.


Rangga tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. "Lagian ngapain nguping, gak baik nguping juga." Kekeh nya.


"Serah lah, o iya gue lupa!! Tadi gue mau bilang kalo RS yang baru udah siap dan layak operasi." Ucap Teguh sambil memberikan beberapa dokumen.

__ADS_1


"Semua peralatannya juga udah siap?." Tanya Rangga setelah membaca dokumen itu.


"Udah lah, gue juga udah pilih dokter-dokter handal yang udah banyak berkontribusi di RS ini." Jawab Revan.


"Yaudah. Oke." Ucap Rangga.


Revan kembali ke ruangannya yaitu wakil dirrektur.


dia berjalan dengan langkah gontai sambil memijit pangkal hidungnya.


"bikin gue iri aja. kapan gue punya istri, Araaaghh gue aja bingung milih cewek.." gumam Revan sambil menatap nanar kesekeliling.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa kasih like, love, dan tipnya.


salam peluk salam cium. semoga readers suka😘


__ADS_2