
Tiba di parkiran sudah ada Eva dengan Revan yg menunggu mereka.
"Lama banget, gue berasa jadi jemuran di siang bolong." Keluh Revan.
"Eh lebay banget loh, ya biarin kan ada My love Eva." Ucap Rangga dengan nada mengejeknya.
"Ih sial." Dengus Revan
Ainun hanya dan Eva hanya tertawa bersama.
"Yaudah buruan kita Cus." Ucap Revan. Dan semuanya pun memasuki mobil , Revan yang mengemudikan dan disebelahnya Eva. Rangga dan Ainun duduk dikursi penumpang. Ainun menyenderkan kepalanya dilengan Rangga dan Rangga mendekap tubuhnya.
"Bang yang mau jadi wakil direktur di RS baru katanya Dr. Akbar itu dokter baru yah?!." Tanya Ainun yang sudah penasaran kenapa dokter baru itu bisa di angkat jadi wakil direktur nanti.
Rangga yang sedang mendekap erat tubuh Ainun perlahan melonggarkan nya. Ainun mendongakkan wajahnya menatap Rangga yang juga tengah menatapnya.
"Jangan bertanya soal laki-laki lain." Ucap Rangga dengan wajah masamnya.
Revan yang mendengar pertanyaan Ainun pun melirik dari kaca tengah melihat ekspresi wajah Rangga yg seperti kesal. Revan terkekeh melihat Rangga yang posesif.
"Uluuh ada yang cembokur nih. Hihi." Timpal Revan.
__ADS_1
Rangga yang mendengar itu sontak langsung menendang kursi kemudi .
"Ade kan cuma tanya, ya kan dia orang baru masak langsung dipercaya begitu aja. Kan banyak dr lain yang udah lama berkontribusi dan mengabdi untuk kita." Jelas Ainun panjang lebar.
Eva hanya manggut-manggut tanda setuju dengan apa yang Ainun katakan.
"Dia itu sepupu abang, anak Taneku kembaran mamah." Jelas Rangga.
"Yang waktu kita nikah itu kan. Yang aku kira itu mamah?." Tanyaku lagi.
" Iyah, terus kamu bilang itu hantu." Kekeh Rangga.
"Lagian gak ada satupun yang ngasih tau kalo mamah punya kembaran. Sampe aku panik baru dikasih tau. Sebel." Ucap Ainun sambil memajukan bibirnya karena kesal mengingat kejadian memalukan ketika acara pernikahan nya.
"Yaudah kan sekarang udah tau." Ucap Rangga sambil mencolek dagu Ainun.
"Tapi kenapa pas kita menikah dr.Akbar gak hadir bang?." Tanya Ainun penasaran.
"Dia masih ada urusan yang gak bisa di tinggal, ditambah ngurus perpindahan dia ke Indonesia dan surat resign dari RS lamanya di Inggris." Jawab Rangga.
"Ouh jadi dr. Akbar itu orang Inggris yah, pantesan dia kayak blasteran gitu. Ih gemes deh." Cerocos Eva yang sedari tadi hanya jadi pendengar. Dengan mata yang berbinar-binar membayangkan karisma dr. Akbar yang tersenyum ketika perkenalan diri.
__ADS_1
"Iyah dia emang blasteran papihnya orang Inggris pemeluk agama Islam juga keluarganya, makanya Tante makin kecantol sama tuh bule." Lanjut Rangga yang memberikan informasi tentang Akbar.
"Iyah Eva juga udah tanya 'udah punya istri belum' terus katanya jangankan istri pacarpun gak ada." Sambung Eva drngan senyum sumringah nya.
"Emang kamu udah ketemu dokter Akbar Va?." Tanya Ainun.
"Udah, pas pertama kali dia kenalan sama semua dokter di aula rapat, suaranya lembut, tatapannya meneduhkan dan aura ketampanan nya membuncah." Kekeh Eva sambil membungkam mulutnya sendiri.
Revan hanya mendengus kesal mendengar penuturan Eva yang berlebihan.
"Bagusan juga gue, kelebihan gue kemana-mana kali." Gumam Revan. Dengan wajah kesalnya sambil melirik Eva yang tidak memperdulikan kehadirannya.
"Sabar bro, saingan Lo berat bersainglah selagi belum terlambat, hahaha.." tawa Rangga sekaligus. Sambil menepuk pundak Revan.
"Ih Abang kasian kak Revannya." Ucap Ainun yang tak tega melihat Revan kesal.
"Biarin sayang biar Revan lebih serius lagi sama Eva. Lagian dia juga tadi gitu sama Abang." Bisik Rangga ditelinga Ainun.
"Yaudah deh, jodoh mana ada yang Taukan." Ainun balik berbisik pada Rangga.
**
__ADS_1