Kedua Matamu

Kedua Matamu
bab 38


__ADS_3

Ainun dan Rangga jalan beriringan,mereka menuju toko perhiasan untuk Cincin pernikahan mereka.


"Abang udah udah bikin rancangan cincinnya?." tanya Ainun karena dia menyerahkan untuk perihal model cincinnya kepada Rangga . "Udah , aku harap kamu suka dengan model yang aku buat." ucap Rangga antusias.


semua pegawai toko menyambut kedatangan Rangga dan Ainun, kemudian bungkuk tanda memberi hormat. "selamat siang tuan, silahkan." manager toko menuntun jalan menuju ruangan tunggu VVIP, dan tak lama beberapa kariawan membawa kotak cincin bludru dengan bentuk kotak dan terdapat renda bunga matahari, yang sengaja Rangga pesan agar dibuatkan seperti itu.


"silahkan tuan." memberikan kotak cincin itu kehadapan Rangga.


"Ade coba buka Ade suka gak?." ucap Rangga meraih kotak dimeja dihadapannya dan membukanya didepan mata Ainun.


"wah bagus banget elegan, ini gak terlalu glamor dan ada ukiran seperti bunga disini." Ainun mengambil cincinnya lalu antusias sekali dengan model rancangan Rangga, samapai dia menitikkan air matanya. "Ade suka banget bang makasih." lanjutnya lirih menatap Rangga penuh arti.


"gak usah makasih, Abang yang harusnya makasih." mengusap air mata yang sudah melewati pipinya dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"karena Ainun suka saya ambil cincinnya." ucap rannga yg ditunjukkan kepada manager toko.


"baik tuan, saya sangat senang mendengar nona menyukainya." ucap manager gembira.


para pegawai toko langsung membungkus cincin itu.


Rangga menjentikkan jarinya berbisik pada seorang pelayan. pelayan itupun langsung mengambil beberapa kotak perhiasan terbaik yang mereka miliki mengeluarkan banyak model yang indah dan sederhana namun begitu elegan.


"De, pilih saja semaumu aku ingin membelikan hadiah sebelum kamu menjadi istriku." ucap Rangga sambil mengambil beberapa perhiasan yang terlihat indah jika dikenakan Ainun, meskipun Rangga tahu Ainun bukan wanita glamor.


"bungkus ini sekalian." ucap Rangga sambil menunjuk benda yang Ainun ingin. "ade gak perlu khawatir ini pake uang Abang kok, selama setahun ini." ucap Rangga menyakinkan Ainun. 'kenapa Abang tahu kalo aku gak enak kalo pake uang ayah.' batin Ainun.


"dengerin Abang, mulai sekarang kamu gak perlu khawatir soal uang, Abang udah ngambil alih RS milik mama yang hampir bangkrut karena keserakahan orang-orang yang dipercaya ayah. dan Abang juga udah mengurus beberapa perusahaan ayah yang berada didalam negri, namun untuk yang diluar mungkin jika RS sudah aku berikan padamu." ucap Rangga sambil mengelus punggung tangan Ainun.

__ADS_1


"Tapi aku takut gak bisa, aku takut ngecewain Abang." ucap Ainun


"hey hey, jangan bilang begitu, Abang percaya kamu bisa buat urus RS." Rangga meyakinkan.


"maaf tuan nona, ini barangnya." ucap pegawai sambil menyodorkan tas belanjaan. "terimakasih." lanjutnya.


Rangga dan Ainun keluar dari toko, dan menuju food court karena ini sudah jam makan siang.


Ainun dan Rangga sudah memesan makanan dan jus, sambil menunggu pesannya mereka berbincang seputar persiapan untuk hari pernikahan mereka.


"tinggal pithing baju aja katanya paling mereka akan menyelesaikan baju pengantin lusa. jadi kita tinggal coba kembali." ucap Rangga memberi tahu.


"Iyah bang, aku juga gak sabar coba gaun dan kebaya nya, apalagi itu hasil rancangan aku sendiri." kekeh Ainun sambil membayangkan apakah hasilnya akan sebagus yang ia kira atau sebaliknya.

__ADS_1


tak lama pesanan merekapun datang, dan mereka menikmati makan siang mereka dengan Hidmat.


__ADS_2