
karena inun belum juga memakai sabuk pengamannya, akhirnya Rangga mengambil sabuk pengaman dari sisi Ainun dan memakaikannya, ainun yang sedari tadi menahan degup jantung nya agar tak menjadi-jadi malah bertambah menggebu-gebu mungkin kini Rangga tengah mendengar suara itu berasal dari jantungnya. kini wajah keduanya pun begitu dekat hanya ada jarak satu jengkal, mata merekapun kembali bertemu. "kenapa ngeliatin gue kayak gitu, lagian pake sabuk pengaman aja lama banget," ucap Rangga sambil terduduk kembali dan melajukan mobilnya.
sepanjang jalan keduanya hanya diam membungkam, tak ada yang membuka suara. Ainun yang sedari tadi kelihatan gelisah karena harus mau saja pulang diantar orang yang baru saja dia kenal. "gimana kalo dia macem-macem atau dia mau culik gue, aduh gimana nih." batinnya memburuu hal yang tidak-tidak. "rumah lu dimana, kan gue gak tahu mesti nganteran lu kemana?" kata Rangga sambil melihat kearah inun, dan membangunkan inun dalam alam lamunannya. "hmmm,, disini masih lurus nanti belok kanan ke perumahan X, no. rumahnya 23." jawab inun dengan hati-hati.
setelah beberapa menit, mereka Samapi di kediaman ipar inun. dia bergegas keluar dari mobil "makasih yah." ucap inun singkat. "yaudah gue langsung balik." jelas Rangga, dan memarkirkan mobilnya dan melajukannya kembali. inun memasuki rumah tak dilihatnya iparnya itu, inunpun kedapur dan menanyakan pada bi ningsih yang sesak memasak makan siang. "bi, liat kak Imel gak?" tanya inun sontak membuat bi Ningsih kaget, "Bu Imel belum pulang, biasanya Samapi sore non." sambil mengusap dadanya karena kaget. inun kembali ke kamarnya ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya.
"non inun kok belum turun, inikan sudah lewat jam makan siang. apa saya ke kamarnya saja." gumam bi Ningsih.
**tok tok tok
__ADS_1
"**non ini bibi, non makan siangnya sudah siap." kata bi ninsih, namun tak ada sahutan dari inun. bibi membuka pintu kamar inun yang ternyata tak dikunci, bibi masuk dan mendapati inun tengah tertidur, bibi mendekat "non, makan siangnya sudah siap." dengan nada sedikit turun. namun tak ada jawaban, kemudian bibi memegang bagian bahunya, niatnya akan menggoyangkan bahunya agar terbangun, namun seketika bibi begitu kaget mendapati inun yang badannya sangat panas. "non, non demam,, ya Allah bagaimana saya." bibi berlari keluar kamar inun dan langsung menelpon kak Imel.
**tuuuut tuuut
"**halo Bi ada apa?"
"Bu, non inun demam tinggi. saya ini sambil periksa kotak obat tapi gak Nemu obat penurun panas."
telvon pun terputus kak Imel langsung pulang dan membawa obat, sesampainya dirumah Imel bingung tak mendapati mobil inun, tak lama suara klakson mobil di depan pagarnya, dan pak Wahid langsung membukakan pagar, inun mengernyitkan dahi melihat seorang lelaki yangenyetir, kemudian disusul oleh satu mobil lagi. "siang Tante, ini kunci mobil Ainun," kata repan sambil menyerahkan kunci mobil. "panggilan saja saya kakak. kenapa kunci mobil nya sama kamu, terus inun pulang naik apa.?" tanya Imel dengan sedikit menyelidik, tak lama keluar lelaki dari mobil yang satunya, lelaki itu tak lain adalah Rangga.
__ADS_1
.
.
.
.
hai leader maaf yah kalo ceritanya kurang asik , ini novel pertama author jadi mungkin masih banyak kekurangan.
__ADS_1
jangan lupa love💙 dan favorit ❤️ dan juga follow Instagram aku @khaekaynun
terimakasih leader. salam hangat salam peluk, muach muach🤗