
Ainun mengambil boneka yang Rangga berikan waktu itu, Ainun keruang tamu karena ia menyuruh Rangga menunggu.
"Ini boneka yang Abang kasih." ucap Ainun.
Ainun mengingat kejadian 7 tahun lalu, membuat hatinya sakit. bagaimana tidak setelah memberikan boneka itu tiga hari kemudian mama Rangga meninggal dan dua Minggu kemudian dia mendapati kabar Rangga telah pergi menyusul mamanya, meskipun sekarang kenyataan nya bahwa Rangga masih sehat wal afiat sedang berada dihadapannya, sebutir air mata berhasil lolos dari matanya.
"loh kok nangis de." Rangga yang sadar langsung mengusap pipi Ainun dan memeluknya erat.
"Hiks hiks aku takut, takut kalau kamu pergi." ucap Ainun terus terisak.
"heey dengerin Abang, Abang janji gak bakalan pergi jadi gak usah nangis." mengusp punggung Ainun lembut.
"kenapa Abang gk pernah cerita kalo Abang punya kembaran." Ainun terhenti terisak, lalu melihat Rangga dalam.
"Kamu gak pernah nanya apa-apa sama Abang." jawab Rangga .
"Kembaran Abang kenapa bisa..." belum selesai Ainun bertanya
"Dia meninggal karena aku." ucap Rangga sendu.
"Abang yang ngebunuh kembaran Abang?" tanya Ainun ragu.
"bukan, tapi intinya harusnya posisi Abang tapi mereka salah ternyata itu bukan Abang." ucap Rangga sambil membelai pipi Ainun.
"udah jangan bahas itu lagi." lanjut Rangga
__ADS_1
Ainun pun mengangguk. "katanya ada yang mau diliatin." ucap Ainun sambil menunjukan TeddyBear.
"Iyah hampir aja lupa." Rangga langsung merogoh baju TeddyBear dan mengambil secarik kertas yang sudah terlihat lama. Iyah lah lama secara udah 7 tahun.
"nih baca." kata Rangga sambil memberikan kertas itu. Ainun sangat antusias membacanya.
"Bocil maaf Abang gak bisa beliin boneka TeddyBear yang besar jadi nanti kalo Abang udah besar dan punya uang banyak Abang bakalan beliin bocil boneka TeddyBear yang paling besar dan beliin ice cream kesukaan Ade satu kulkas. wah terus sekarang udah banyak uang belom.?" tanya Ainun sambil mengedipkan sebelah matanya.
"banyak dongg, yaudah sekarang kita jajan ice cream aja." ucap Rangga langsung menarik Ainun keluar.
Rangga menyalakan mobilnya dan langsung pergi ke mall yang cukup terkenal. karena jalanan renggang jadi tidak memakan banyak waktu.
**
Ainun sangat berantusias dan mengambil bermacam-macam ice cream. Rangga yang mendorong troli hanya tersenyum melihat Ainun. ada sepasang mata yang mengawasi gerak gerik Ainun. Rangga yang menyadari dia langsung mendekati Ainun.
"udah belom, abis ini kita kesuatu tempat lagi." ucap Rangga , mereka membayar ke kasir lalu segera meninggalkan mall itu. Ainun tidak merasa curiga sedikitpun dengan gelagat Rangga.
"kamu masih saja polos, Abang gak tahu lelaki itu siapa tapi sepertinya ada hal buruk yang mengincarmu.'" batin Rangga, ia takut jika calon istrinya itu terancam.
"kamu udah izin Abi.?" tanya Ainun sontak membuat Rangga kaget.
"Ya Allah, belom. tadi cuma bilang mau mampir kerumah." ucap Rangga panik.
"yaudah aku telvon Abi." ucap Ainun
__ADS_1
** setelah menelpon tak lama Rangga menepikan mobilnya disebuah taman.
"Abi udah izinin. ini udah sampai?" tanya Ainun dan melepas sabuk pengamannya.
"udah kita jalan-jalan sebentar ditaman." ucap Rangga.
"Wah Allumaniss." ucap Ainun ketika melihat harum manis dijajankan disekitaran taman.
"kamu mau, yaudah ayok beli." ucap Rangga dan membeli 2 harum manis.
"makasih." ainun menyambut dengan suka cita.
Ainun dan Rangga duduk kursi taman. sambil menikmati alummanis .
"Aaaaa, cobain." ucap Ainun dan memasukan harus manis kedalam mulut Rangga.
"enak kan?" tanya Ainun.
"enak dan manis, apalagi disuapin Ade." ucap Rangga yang berhasil menyulap muka Ainun menjadi merah tomat."
.
.
.
__ADS_1