
setelah drama panjang diperjalanan akhirnya sampai di pemakaman keluarga agar mempercepat waktu akhirnya doa pun dimulai dengan Abi yang memimpin doa.
***
Karena makam mamah dan saudara kembar Rangga berdekatan jadi mereka mengirim doa untuk keduanya.
Setelah berdoa ayah, Abi, umi, Revan , Akbar dan Eva kembali ke mobil.
Rangga sengaja mengajak Ainun menghampiri makam saudara kembarnya itu.
"Dulu dia anak yang paling pintar yang tidak pernah bisa Abang kalahkan dalam pelajaran, sampai-sampai ketika SMA Abang memilih bersekolah di tempat yang berbeda. Dia anak yang sangat penurut, sopan dan sangat lemah fisiknya. Sering sakit-sakitan dan juga mudah ditindas. Abang gak nyangka dia bakalan pergi secepat itu nyusul mamah, harusnya Abang yang gak ada di dunia ini." Rangga memulai pembicaraan sambil mengelus nisan Rakah, tidak dapat dihindari air mata nya ikut turun membasahi.
Ainun menoleh pada Rangga dan menggenggam tangan Rangga.
"Semuanya sudah Allah rencanakan, kehidupan kita adalah skenario Allah yang paling indah. kita harus ikhlas dalam menjalani nya." Ucap Ainun laku menghapus air mata Rangga.
"Ade percaya Abang juga bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada, meski sekarang masih ada perasaan menyesal kedepannya Abang harus lebih ikhlas." lanjut Ainun menguatkan Rangga, lalu Rangga merai tangan Ainun yang berada di pipinya lalu ia Cium tangan mungil itu.
"Abang janji bakal selalu lindungi kamu, Abang juga janji bakal selalu ada dalam momen penting kamu dan Abang janji akan memenuhi semua permintaan kamu." Ucap Rangga.
Entah mengapa mendengar Rangga mengumbar janji, hati Ainun berdesir khawatir. Seperti ada rasa tidak percaya Rangga akan memenuhi janjinya, namun dia tidak ingin ambil pusing buru-buru dia menepis pemikiran itu.
"Ade percaya." Ainun berujar sambil menatap kedua mata Rangga. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kedua matamu selalu meneduhkan Abang, Abang gak pengen mata ini menangis karena kesedihan. Dulu Rakah pernah menyukai seorang gadis ketika kami duduk di bangku SMP namun gadis itu selalu di tindas oleh gadis lain, karena dia banyak di sukai laki-laki selain karena dia cantik dia juga sangat baik hati." Tutur Rangga.
Ainun yang mendengar penuturan Rangga tentang wanita yang dipuji kecantikannya juga ke baikannya. Tiba-tiba air matanya jatuh.
"Dee.." ucap Rangga lirih sambil menghapus air mata Ainun.
"Terus gimana lagi ceritanya." Tanya Ainun
"Sebenarnya Rakah pernah ngasih pesan ke Abang kalo suatu hari nanti dia butuh bantuan Abang, Abang harus bantuin dia tapi sampai hari ini Abang belum pernah ketemu dia tapi semalem Abang mimpi kalo dia minta tolong ke Abang." Terang Rangga.
Kini Ainun tahu arah pembicaraan Rangga, bahwa sebelum Rakah meninggal dia memberikan wasiat untuk menjaga seseorang yang disukai Rakah dan Rangga merasa bersalah atas kematian Rakah karena yang seharusnya berada diposisi itu adalah Rangga.
Ainun memeluk suaminya itu dan membenamkan wajahnya diceluk leher Rangga sambil menepuk pelan punggungnya.
"Bang, bisa gak kamu gak ngerasa bersalah atas kematian Rakah. Ade percaya kak Rakah juga gak bakal nuntut kamu buat wujudin itu, kita juga udah punya kehidupan masing-masing. Perempuan itu juga mungkin udah bahagia sama kehidupan nya yang sekarang". Tutur Ainun, jujur entah kenapa Ainun merasa khawatir dan resah tentang perkataan Rangga.
Rangga hanya diam tak membalas perkataan Ainun.
__ADS_1
'kenapa bang, kamu masih sempet mikirin kehidupan perempuan lain meskipun hanya untuk memenuhi permintaan terakhir Rakah. Entah kenapa hati aku sakit ngedengernya.' batin Ainun.
*****
Kini mereka sudah keluar dari pemakaman dan masuk ke mobil.
"Lama bener nun, ngapain sih?!". Gerutu Eva ketika Rangga dan Ainun masuk mobil
"Hehe maaf va." Ucap Ainun sambil tersenyum tipis.
Dapat dilihat kedua mata Ainun dan Rangga sama-sama merah. Mereka hanya berfikir mungkin Rangga merindukan mama dan kakak nya dan Ainun menangis karena ikut menenangkan Rangga.
Tidak ada percakapan atau candaan seperti awal tadi, hanya ada keheningan bak sedang mengheningkan cipta.
**
Mobil sudah memasuki pekarangan rumah ayah Ardi, terlihat Abi dan Umi sedang berpamitan dan ayah Ardi mengantar kedepan.
Ainun segera turun dari mobil dan berlari ke arah Umi tanpa menunggu Rangga.
"Umi udah mau pulang?!." Tanya Ainun sambil memeluk Umi.
"Iyah, Abi masih ada acara undangan ke rumah temen dinasnya dulu, anaknya nikahan." Ucap umi sambil mengusap punggung Ainun.
"Duh kok melow gini sih, nanti kan Ade bisa kunjungan ke rumah sama Rangga." Ucap umi.
Ainun tak menggubris perkataan Umi dan memeluk Umi makin erat.
"Udah de nanti Abi ke sorean kerumah temen abinya." Sahut Abi sambil mengelus pucuk kepala Ainun.
Ainun beralih memeluk Abi. Abi membalas pelukan anak bungsunya itu.
Setelah dirasa Ainun cukup tenang Abi dan Umi pamit pulang, namun sebelum pulang umi membisikan sesuatu kepada Rangga yang membuatnya terlihat senang.
**
Setelah Eva, Revan dan Akbar pamit pulang karena mereka masih ada tugas di RS. Tinggal kini ayah, Rangga dan Ainun.
"Ayah pengen cepet-cepet nimang cucu, lagian kalian juga udah dua bulan nikah mending jangan tunda-tunda." Ucap ayah yang duduk bersama anak mantunya di ruang keluarga.
"Kita GK Nunda kok yah, insyaallah semoga Allah cepet ngasih kepercayaan sama kami." Jawab Rangga sambil meraih jemari Ainun dan memegangnya lembut.
__ADS_1
Ada desiran saat Rangga mengatakan itu, Ainun memberanikan diri untuk menatap mata Rangga, ada perasaan hangat yang dihantarkan lewat tatapannya.
"Alhamdulillah, kalo gak Nunda. Yaudah ayah ke kamar dulu ini udah masuk waktu asar juga." Ucap ayah sambil meninggalkan mereka berdua.
Kini tinggal mereka disana, Rangga menatap Ainun dan tangan kanannya meraih pipi Ainun, ibu jarinya diusap lembut dipipi Ainun.
"Kenapa hmm, kok diem aja. Mana nih istri Rangga Lesmana yang cerewet.?" Tanya Rangga sambil menyatukan kening mereka sampai hidung merekapun beradu.
Terasa jelas nafas hangat Rangga yang teratur. Ainun menghindar dan melepas tangan Rangga dari pipinya.
"Udah mau asar, aku mandi duluan." Ucap Ainun sambil masuk kamar. Bukannya marah Rangga malah tersenyum.
Kini Ainun sedang mandi di bawah shower sambil menumpahkan kegelisahan hatinya sambil menangis, entahlah Ainun juga bingung kenapa bisa se sensitif ini.
Setelah keluar dari kamar mandi, dilihat suaminya itu tengah duduk ditepi ranjang miliknya sambil tersenyum ke arah Ainun. Tanpa sepatah katapun Rangga masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah keluar dilihat istrinya sedang duduk diatas sajadah yang sudah di gelarnya, Rangga memakai baju yang sudah disiapkan Ainun untuknya.
Merekapun melaksanakan sholat berjamaah, setelah sholat seperti biasa Ainun mencium tangan Rangga, namun Rangga tidak mencium keningnya tiba-tiba hati Ainun seperti dihujam ribuan anak panah, sakit.
Baru saja Ainun akan berdiri Rangga mencekal tangannya sambil tersenyum, entahlah Ainun tak mengerti senyuman ap itu. Tanpa ba bi bu be bo Rangga mengecup bibir Ainun, Ainun yang mendapat serangan tiba-tiba tentu saja kaget.
"Kenapa hmm, dari tadi masih diemin Abang, bilang dong salah Abang dimana. Hmm" ucap Rangga sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Ainun
"Tau ah, awas." Ucap Ainun kesal sambil menyingkirkan kepala Rangga.
Dengan sigap Rangga duduk dan langsung memeluk Ainun, dikecupnya bibir istrinya yang sedang merajuk itu.
"Bilang Abang salah apa, kali emg Abang salah, maafin yah de." Ucap Rangga.
"Pokonya gak suka yah Abang ngomongin perempuan lain dan Muji-muji dia depan Ade " ucap Ainun. Rangga semakin memeluknya erat lalu membisikan kata-kata manisnya.
'iyah, seneng deh dicemburui sama istri cantiknya. Apalagi kalo udah di manja gini, jadi pengen maem sore-sore.' lirih Rangga sambil menggigit daun telingan Ainun yang terbalut mukena.
"Ih Abang,Mesummm" Jerit Ainun sambil mendorong suaminya.
"Mesumin istri sendiri emang gak boleh." Ucap Rangga sambil memajukan wajahnya yang membuat pipi Ainun merah bak tomat matang.
"ishh terserah ahhhhh..."
***
__ADS_1
Apapun masalahnya jangan hanya berdiam diri meskipun dia adalah pasangan kita namun dia bukan kita yang merasakan jadi ungkapkan agar dia tahu harus bagaimana😊 Apalagi pasangan muda masih mementingkan ego semasing.
***