
Ainun memasuki kamarnya dengan Isak yang belum reda, Umi yang melihat putrinya itu terisak merasa kebingungan. pasalnya tadi ia bersama Rangga dan sepertinya mereka terlihat bahagia. umi yang melihat Rangga baru memasuki ruangan menatap seolah-olah bertanya 'ada apa'.
"Mi, biar Rangga aja yang ngomong ke Inun." ucap Rangga menahan umi untuk menaiki tangga. umi hanya mengangguk, "Sepertinya hanya salah faham " Gumam umi
******* Rangga yang berdiri didepan pintu kamar dengan berat ia membuka pintu, dilihatnya kesekeliling kamar ia tak menemukan Ainun ia terus melangkah masuk, dilihatnya sebuah pintu terbuka yang menghubungkan kamar dan sebuah balkon dilihatnya inun tengah membelakanginya.
"Nun, Abang bakal buktiin ke kamu." ucap Rangga, dan Ainun menoleh. Rangga duduk di kursi sebelah Ainun.
"Kamu punya tanda lahir di tengkuk." ucap Rangga sambil menunjuk tengkuknya.
"bagaimana dia tahu yang tahu kan cuma keluargaku, dan Abang ice cream." batin Ainun tersentak kaget.
"apa lagi nun yang harus aku buktiin, kesukaan kamu? hobi kamu? kebiasaan kamu?." tanya Rangga memegang bahu Ainun.
"Tapi kenapa kamu gak pernah nemuin aku." tanya Ainun bahunya terguncang menahan Isak. Rangga langsung menarik tubuh Ainun kedalam pelukannya. "aku tidak tahu harus berbuat apalagi saat itu, aku kehilangan sosok ibu dan tak lama seorang kakak." jawab Rangga semakin erat memeluk Ainun.
"mungkin terakhir aku melihatmu tiga hari sebelum mama meninggal. saat aku dipaksa main boneka." ucap Rangga dengan terdengar tawa kecil diakhirnya. Ainun melepaskan pelukannya.
"kita masih ketemu pas mama Abang meninggal." ucap Ainun.
flashback**
__ADS_1
Ainun dan orangtuanya baru saja tiba dirumah duka, Ainun langsung mencari Abang ia menyapu keseluruh ruangan dan ia menemukan seorang anak lelaki yang tengah duduk dikolong meja makan dan tengah dibujuk oleh seorang pengasuh.
"kakak, ayok keluar pemakaman udah mau di mulai. kakak gak mau ikut nganterin mamah." bujuk pengasuh itu. "Abang, Abang ngapain disini." tanya Ainun dan ikut memasuki kolong meja. lelaki itu menatap Ainun aneh.
"siapa kamu?" tanya anak lelaki itu
"aku tau Abang pasti syok makanya Abang kayak gini, aku bakalan temenin Abang disini." ucap Ainun sambil memeluk anak lelaki itu, tak ada berontakan namun tak ada balasan pelukan.
"Abang yang sabar yah, kata umi Allah sayang sama mamah Abang. makanya Allah memanggilnya lebih cepat, Abang yang kuat abangkan anak lelaki jadi harus tangguh. Abang kan selalu bilang sama aku jangan cengeng, makanya sekarang Abang juga jangan cengeng." ucap Ainun panjang lebar. banyak kata-kata yang Ainun keluarkan namun tak satupun yang digubris oleh anak lelaki itu.
___
"Nak kamu dari mana aja umi sama Abi nyariin." tanya sang umi pada inun.
"aku abis ketemu abang mi, Abang kayaknya sedih banget." ucap Ainun dengan muka sedihnya.
"Yaudah kita pamitan pulang." ucap Abi
.
flashback off
__ADS_1
"kita udah temenan 5 tahun, kamu udah kelas 3 SMP tapi gak bisa bedain orang." ucap Rangga sambil memonyongkan bibirnya.
"aku gak tau, kalian tuh mirip banget." ucap Ainun sambil menyentil bibir Rangga yang dimonyong-monyongin.
"mulai jailnya Dateng." ucap Rangga memegangi bibirnya.
" kamu gak berubah yah de, selalu cepet ceria." ucap Rangga
"aku emang gak pernah percaya kalo kamu udah gak ada.' kata Ainun sambil mengelus pipi Rangga. "tapi kenapa setiap mamamu main kesini hanya bersamamu?" tanya Ainun, pasalnya selama lima tahun itu Tante Hanum hanya selalu datang berdua dengan Rangga.
"dia selalu memilih belajar dihari libur, dulu aku tidak pernah bisa mengalahkan kepintarannya. dia selalu jadi juara 1 dikelas. sedangkan aku selalu jadi juara 2." ucap Rangga sambil mengusap mukanya.
"dia selalu membantuku belajar dan mengerjakan PR." lanjut Rangga dan matanya memerah terlihat ada air matanya terseka.
.
.
.
.
__ADS_1