Kedua Matamu

Kedua Matamu
bab 2 pandangan pertama


__ADS_3

*tapp


tiba-tiba seseorang dihadapannya mengambil pulpen miliknya bersamaan dengan tangannya yang sudah memegang salah satu ujung pulpen, matanya membulalak ketika melihat seorang laki-laki tinggi dan tampan telah mengambil pulpennya. "ini pulpen kamu?" tanya Ainun dengan penuh keraguan sambil melepasnya.


"be*o banget si lu nun, itu tuh pulpen lu udah ada namanya, ah ngapain sih malah nanya gitu, dasar otak lu nun." batin ainun sambil memejamkan matanya.


"hallo,, lu gak papa?." tanya laki-laki itu membuyarkan lamunannya. "euummm,, iya gak papa, yaudah saya pergi dulu." dengan Ainun yang kelihatan salah tingkah.

__ADS_1


"Ainun Anggraini, kedokteran smt.5" lelaki itu membaca nama yang ada di bolpoin itu, Ainun yang sudah memunggunginya langsung berbalik, tanpa menatap kearah wajah lelaki itu, sontak lelaki itupun mengernyitkan dahinya penuh tanya.


"i..... itu, pulpen saya." dengan ragu inun memberanikan diri untuk mengatakannya. lelaki itupun memberikannya tanpa berkata sepatah katapun dan Inun langsung berlalu tanpa kata namun jantungnya terasa seperti meloncat-loncat ingin keluar.


*dikontrakan


*Ting Tong

__ADS_1


"sebentar," teriak bi izah dari dalam. "eh non , silahkan masuk non." kata bik izah ramah. "umi sama Abi mana bi? kok sepi begini?." tanya inun sambil berlalu ke kamarnya. "anu non, non Abis ini ke RS C aja, nanti pak Yadi yang antar non."


inun mengadukan dua halisnya yang tebal dan sedikit heran. "siapa yang sakit bi, umi cuma nyuruh aku pulang loh, apa Abi sakit?. namun tak ada jawaban dari BI izah. inun langsung memanggil pak Yadi dan memintanya mengantarkannya ke RS C yang tadi bi izah bilang, sesampainya di RS ia langsung mendekati meja informasi dan menanyakan keberadaan pasien dengan nama Ratna nur Anggraini, ia bergegas menuju kamar yang sudah ditunjukan dan mendapati uminya tengah berbaring tak berdaya, "miii,," ucap inun lirih tak terasa butiran bening sudah melewati celah dan berjatuhan membasahi pipi. "nun," ucap sang Abi, dan langsung memeluknya erat. "Bii, umi kenapa.?" sambil melepaskan pelukan abinya, "umi sakit kanker otak. Abi udah minta menangani umi sebaik mungkin dan dokter sudah mengusahakan yang terbaik" ucap Abi sambil menggenggam tangan sang istri. "Nun, sini duduk nak." ucap umi dengan lembutnya. Inun pun tak bisa menahan isaknya dan langsung memeluk umi nya erat. tak lama dokter datang dan memberitahu hasil leb dan rongsen.


inun hanya terduduk lemas tak berdaya melihat sang umi memasuki ruang operasi, tak lama datanglah kakak inun yang perempuan kak Alfia dan suaminya, dan tak lama di susul oleh kak Husein dan sang istri, keluarga nya pun lengkap dan hanya ada tangis melihat keadaan uminya.


lampu operasi pun mati,

__ADS_1


semuanya bergegas mendekati pintu dan tak lama dokter pun keluar, "bagaimana keadaan umi saya dok? apa operasi nya lancar dok." tanya inun dengan nada tergesa-gesa. "keadaan Bu Ratna sekarang kritis karena ada beberapa hambatan ketika operasi. tapi keluarga berdoa saja semoga Bu Ratna cepat siuman." dokter pun berlalu menyisakan keluarga Abi hudori yang masih menangis mendengar pernyataan dokter barusan.


__ADS_2