
Tak terasa meski dengan jalanan yang padat namun karena mengobrol ringan dan berat akhirnya mereka sampai di sebuah restoran yang cukup mewah.
"Kita ke restoran semewah ini, kirain Eva cuma di restoran biasa." Ucap Eva sambil melihat bangunan restoran lantai dua itu.
"Anggap aja kita lagi double date. Hehe." Kekeh Revan .
"Ah bisa aja Lo kak." Ucap Eva langsung meninggalkan Revan dan melenggang masuk bersama Ainun dan Rangga.
Mereka makan siang dengan hening, suasana canggung tercipta tak mungkin cuma diantara Eva dan Revan. Karena Rangga dan Ainun sesekali tertawa dan saling suap menyuapi. Setelah selesai makan mereka duduk sejenak agar makanan bisa tercerna dahulu.
"Eh tau gak Va, Akbar itu paling suka cewek sederhana dan punya tutur kata bagus. Kayaknya sih Eva banget gitu." Ucap Rangga memecah keheningan. Revan yang sedang memainkan ponselnya langsung melirik ke arah Eva , dia ingin tau reaksi Eva bagai mana.
"Benarkah?. Ah Eva rasa gak bakalan pantes deh sama dokter Akbar." Ucap Eva dengan raut wajah ditekuk.
"Perang dulu va, kalo bisa serang terus aja kasih kendor." Ucap Rangga menyemangati.
"Ah sudahlah, kita ke RS yuk." Ucap Ainun. Dia hanya tidak ingin semakin membuat Eva dan Revan canggung. Sebenarnya Ainun tau maksud Rangga itu baik agar Revan mau lebih gencar mendekati Eva. Dan semakin serius kedepannya. Tapi Ainun tidak tega melihat ekspresi Revan bagaimanpun dia juga sudah dianggap kakak oleh Ainun.
"Yasudah ayok kita pulang." Ajak Rangga sambil merengkuh pinggang Ainun dengan mesra, dan meninggalkan dua sejoli yang saling diam itu.
__ADS_1
Eva beranjak dari duduknya dan akan menyusul Ainun namun langkahnya terhenti ketika Revan memanggilnya.
"Sebentar.!" Pinta Revan.
Eva membalikan badannya dan melihat Revan.
"Ada apa lagi kak?." Tanya Eva malas.
"Apa tidak ada sedikit saja rasa untukku, Va?." Tanya Revan dengan wajah sendunya.
Eva menatap Revan dalam namun ia hanya diam, lalu berlari pergi menyusul Ainun dan Rangga ke parkiran.
**
Setelah kembali ke mobil Susana canggung dan serba salah tercipta, hingga Rangga pun tidak berani angkat bicara. Meskipun mereka tidak tau apa yg telah terjadi namun Ainun menyuruh Rangga tetap diam. Berbeda dengan saat berangkat masih ada ledekan dan sindiran yang filontarkan. Sampai mobil sudah sampai di RS tidak ada yang membuka suara lagi.
Rangga kembali keruangannya bersama Ainun.
"Abang sih, mancing-mancing terus." Omel Ainun pada Rangga.
__ADS_1
"Lah emang gitu faktanya sayangkuh." Ucap Rangga lalu mencium sekilas bibir Ainun.
"Ih Abang, nyebelin." Rajuk Ainun.
"Heheh,, emang kamu ngedukung siapa Revan atau Akbar?." Tanya Rangga
"Gak tau sih, ya keliatannya Eva emang lebih tertarik sama dr.akbar itu." Ucap Ainun sambil berfikir.
"Yah, abang juga gitu sih. Yasudahlah mereka juga udah dewasa." Pasrah Rangga.
"Nah. Betul makanya gak usah dicampuri, kita cukup jadi penengah kalo emang mereka minta pendapat kita." Bijak Ainun.
Akhirnya merekapun mengobrol panjang lebar tentang RS dan banyak hal tentang pekerjaan,mereka mengesampingkan kepentingan pribadi.
***
"Kalo jodoh laksana bayangan, sejauh apa kita melangkah. semaksimal apa kita menghindari , secepat apa kita lari. bahkan dimana kita sembunyi, bayangan akan selalu mengikuti."
"jangan takut gak jodoh, tapi takut kalo jagain jodoh orang. pantaskah saja diri pasti jodoh akan datang menghampiri."💙
__ADS_1
like komen dan dukung author. loff you readers🖤