
**
Mereka sampai di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari mall tadi. Suasananya sangat menenangkan dengan nuansa klasik. Tembok nya dari kayu-kayu yang dibuat sedemikian rupa dan meja-meja yang unik.
Mereka memesan makanan nya sambil menunggu pesanan datang Rangga memulai obrolan.
"De, Abang mau kasih tau sesuatu sama kamu." Ucap Rangga sambil meraih tangan Ainun dan mengusapnya lembut.
"Apa bang,?" Tanya Ainun sambil menatap manik mata Rangga.
" Setelah peresmian RS baru Abang bakalan berhenti dari RS Abang mau ngurus perusahaan ayah." Ucap Rangga sambil tersenyum dengan lembut.
"Memang kenapa ayah kok tiba-tiba nyerahin perusahaan ke kamu?. Apa ayah sakit?." Tanya Ainun beruntun.
"Ayah gak sakit kok. Cuma emang udah saatnya lagian Abang bentar lagi wisuda S2 bisnis." Ucap Rangga.
"Abang kuliah kok gak bilang-bilang aku sih. Ishh nyebelin. Lagian bukannya S1 Abang itu kedokteran masa S2nya bisnis sih" Rajuk Ainun.
Rangga terkekeh melihat Ainun merajuk lagi. "Abang mau bikin surprise buat kamu, hmm,, sebenernya Abang juga nyelesain kuliah S1 bisnis juga kok." Ucap Rangga sambil terus menggenggam tangan Ainun.
"Terus RS gimana?!" Tanya Ainun
"RS sekarang tanggung jawab kamu. Kamu yang bakal jadi direktur utama nya." Rangga memberitahu dengan bersemangat dan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Kayaknya Ade gak pantes deh." Kata Ainun.
"Hhmm.. kamu pantes dan sangat pantes. Dengerin Abang pokonya kamj harus mau." Titah Rangga sambil mencubit hidung Ainun.
Ainun hanya mengangguk setuju, kemudian makan malam pun tiba. Mereka menikmati hidangan pembuka sampai penutup.
Setelah itu mereka pulang Kerumah di perjalanan Ainun nampak ingin bertanya namun diurungkannya.
"Kenapa hm? Ada yang mau diomongin?!." Tanya Rangga lembut.
"Kenapa Abang harus repot kuliah S1 kedokteran juga, padahal Abang tau bakal terusin pekerjaan ayah ?. " Tanya Ainun penasaran karena itu pasti menguras otak dan tenaga.
"Gak repot emang itukan cita-cita kamu." Ucap Rangga santai.
"Hehe, jangan marah dong. Kamu gak inget, kamu bilang pengen punya suami dokter biar kalo sakit dia yang ngobatin kamu bukan orang lain, terus kalo kaki kamu luka kamu pengen banget selalu aku yang ngobatin lukamu. Kamu pengen banget selalu ada aku kalo kamu sakit biar bisa disuapi." Ucap Rangga panjang lebar namun tetap fokus ke jalanan. Sambil mengenang hari-hari dimana dia dan Ainun bermain bersama dan Ainun bermanja-manja padanya.
Ainun yang mendengar itu jadi malu sendiri pipinya sudah merah seperti kepiting rebus.
"Ishh nyebelin." Ucap Ainun
"Kok nyebelin sih, emang itu faktanya kamu bilang gitu ke Abang." Kekeh Rangga.
"Huft, tapi malu kali jangan di ungkit ish." Ucap Ainun dengan wajah merah padamnya.
__ADS_1
Rangga yang melihat pipi Ainun seperti tomat masak itu hanya terkekeh sambil mengelus kepala Ainun.
"Kenapa malu, semua kenangan kamu ada diotak dan hati aku, semuanya disimpan rapih dan indah." Ucap Rangga sambil tersenyum.
"Makasih yah, bang." Ucap Ainun lalu menyandarkan kepalanya di dada Rangga, Rangga mengecup kening Ainun.
"Kamau gak perlu bilang makasih Abang gk mungkin melupakannya." Ucap rangga.
"Bukan itu, makasih buat kamu karena udah mau jadi dokter buat Ade." Ucap ainun.
"Sama-sama sayangku." Ucap Rangga.
Mereka sampai di rumah, bi Ela membukakan pintu untuk keduanya.
"Bi maaf kita udah makan malam diluar, kalo bibi udah masak makanannya dimakan aja. Sekalian kasih pak satpam." Ucap Ainun lalu mengekori Rangga ke kamar.
"Iyah non." Ucap BI Ela sambil menunduk.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like dan komen temen-temen readers semua, semoga suka ceritanya. tinggalkan jejak yah. terimakasih ❣️😙