
malam hari tiba setelah selesai memasang tenda inun segera mengambil wudhu bersama Eva, ditemani oleh om nya. disusul oleh Rangga dan repan, selesai berwudhu mereka menggelar tikar didepan tenda. "hmm,, kita jama'ah aja, biar saya jadi imam, om." kekeh Rangga pada om Eva. dan disetujui oleh yang lain dengan anggukan. setelah shalat berjamaah mereka menyalakan api unggun dan memasak mie instan, "kayaknya enak nih kalo minum jahe kalo gak teh anget." kata repan sambil melihat ke inun. inun yang sadar tengah di perhatikan repanpun menyauti kata-kata nya. "Iyah yah kak, cuacanya dingin gini kan, hehe." jawab inun sambil menggosok tangannya yang terasa kebas akibat dingin.
"yaudah kita bikin, lagian gue bawa stok melimpah gaees." ucap Eva sambil menarik rentengan bungkus jahe sambil menunjukannya, suasana api unggun pun semakin hangat karena perbincangan mereka, namun tidak dengan Rangga yg hanya sesekali memperhatikan mereka.
.
.
tak terasa sudah pukul 23:00 merekapun ke tendanya masing-masing, tapi tidak dengan Rangga, dia masih menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.
__ADS_1
inun yang sedari tadi sudah tidur pulas bersama Eva tiba-tiba terbangun karena tangan Eva sudah menindih di wajahnya dilihatnya Eva yang sudah tertidur pulas dan nyaman, mungkin sudah memasuki alam mimpinya.
"dasar kebo, tidur udh kaya apa aja apa aja gak mau diem.." gumam inun, kemudian ia memutuskan untuk keluar, mungkin saja ada bintang-bintang bertaburan menghiasi malam harinya di atas gunung. Inun keluar dari tendanya, didapati seseorang masih duduk diatas tiker dan api unggun yang belum padam. lelaki itupun menyadari kedatangan Ainun, dan membalikkan badannya melihat ke arah inun. "sini duduk de, disamping Abang." ucap lelaki itu yang tak lain adalah Rangga. Ainun membulalakan matanya tak percaya dengan apa yang barusan ia dengan. kemudian inun mendudukan badannya disamping Rangga. "kok masih belom tidur?." tanya inun dengan ragu. "gue gak bisa tidur, lagian enak duduk disini sambil liat bintang". jawab Rangga sambil menunjuk salah satu bintang yang paling bersinar. inun hanya mengangguki saja. "sebenernya de, Abang pengen ngomong sesuatu, kamu tinggal dengerin aja. gak usah jawab apalagi memotong pembicaraan Abang, Abang pengen kamu lebih fokus lagi sama kuliahmu, jangan sering dekat-dekat dengan lelaki yang menggoda mu, Abang cuma gak suka kamu tersenyum pada lelaki selain abimu." kekeh Rangga yang sontak membuat Ainun terkejut "kenapa ni orang kesambet apa dia, kok ngomongnya begitu." batin inun sambil berkidik membayangkan kalo Rangga tengah kesambet setan.
.
.
"yaudah harapan kamu apa?". tanya Rangga
__ADS_1
"cuma pengen Abi sama umi sehat, kakak-kakak ku selalu ada saat sedih maupun senang." lanjut inun.
"itu sih untuk keluarga kamu doang, kalo buat Ade sendiri?.
"gue cuma pengen hidup bahagia kayak umi sama Abi dan anak-anaknya." jawab inun sambil memalingkan wajahnya kepada Rangga dan ranggapun langsung melihat ke arah inun, dan mata merekapun bertemu kembali, keduanya hanya tersenyum dan kembali menatap langit.
.
.
__ADS_1
"mungkin jika kamu bertanya, aku ingin sekali berkata harapanku adalah bisa memilikimu, dan mewujudkan harapanmu itu. namun sepertinya kamu tak perduli terhadap ku." batin Rangga yang membuat dadanya sesak dan menggebu memburu seakan ia ke habisan oksigen.