Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Memasuki Dungeon


__ADS_3

Sebuah bola cahaya menemani seorang pria yang saat ini sedang memasuki sebuah tempat yang sangatlah gelap. Dengan menggunakan skill presepsinya yang terus dia aktifkan, pria yang merupakan Zen terus memasuki tempat gelap itu sambil menerangi perjalanannya dengan bola cahaya yang digenggamnya.


Skill untuk membuat bola cahaya yang digenggamnya sangat berguna, karena dia bisa menggunakan objek apapun dan menanamkan mananya serta elemen cahayanya sehingga membuat benda seperti bola cahaya, dan mempermudahnya melihat dalam kegelapan.


“Walaupun aku menggunakan bola cahaya ini, tetap saja didepan sangat gelap” gumam Zen karena cahaya dari bola cahaya yang dibuatnya, tidak menjangkau lorong area depannya yang seperti tak berujung.


Zen terus memasuki tempat ini semakin dalam, hingga langkahnya terhenti setelah dirinya dihadang oleh sebuah pintu besar, setelah lorong yang dia telusuri tadi akhirnya menunjukan ujungnya.


“Tunggu, bukankah ini sangat mudah. Kemana semua musuhnya?” kata Zen sambil melihat sekeliling dan tidak menemukan apapun.


Zen sudah empat jam memasuki dan menelusuri Hidden Dungeon ini, tetapi satupun musuh tidak berhasil dia temukan, dan perjalannya sangat mulus hingga dia tiba ditempat ini tanpa terhalang apapun. Tetapi tiba – tiba saja, sebuah benda bercahaya mulai menerangi tempat itu dan membuatnya area itu mulai menerang.


“Apa ini?” gumam Zen yang sedikit terkejut dengan kejadian tersebut dan mulai mematikan bola cahayanya, karena tempat itu mulai menerang.


Zen lalu memperhatikan benda yang mengeluarkan cahaya itu dan mulai memindainya menggunakan smartphonenya. Benda itu merupakan Light Gem, yaitu gem yang berguna sebagai lampu penerangan pada dunia ini.


“Hmmm... sepertinya ada tempat penyimpanan mana disekitar sini, sehingga gem ini masih berfungsi” gumam Zen.


Melihat area tempatnya sudah terang, Zen perlahan mendekat kearah pintu dan melihat banyak gambar dan tulisan aneh yang tidak dapat dia kenali. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Zen, karena dengan kekuatan smartphonenya, Zen berhasil mengenali tulisan itu.


[Ingin mendownload bahasa vampire kuno dan mempelajarinya?]


Begitulah tulisan yang tertera pada smartphone miliknya. Dan tanpa pikir panjang, Zen langsung mendownload bahasa vampire kuno dan informasinya langsung memasuki kepalanya, hingga Zen mengerti semua bahasa tentang vampire kuno serta tulisannya.


“Baiklah, mari kita lihat maksud dari tulisan ini” kata Zen sambil mulai membaca kata perkata dari tulisan vampire kuno yang tertulis dibeberapa bagian pintu besar didepannya.


“Hanya Cahaya yang bisa membebaskan cahaya kami”


Begitulah arti tulisan yang Zen baca dari pintu tersebut. Zen sempat bingung sebentar, tetapi dia pasti yakin bahwa yang dimahsut hanya cahaya oleh tulisan itu merupakan seseorang pemilik elemen cahaya.


"Hm... membebaskan cahaya? apakah hidden dungeon ini mengurung sebuah matahari didalamnya?" gumam Zen, karena dia belum mengerti arti seluruh kalimat tersebut, walaupun dia bisa membacanya dengan jelas.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?” gumam Zen, karena tulisan itu tidak menerangkan secara rinci bagaimana cara membuka pintu besar yang dilihatnya.

__ADS_1


Namun sayangnya, semua tulisan kuno yang tertulis disemua bagian pintu besar itu, mempunyai makna yang sama, walaupun kata – kata yang dituliskan cukup berbeda. Namun tetap saja, intinya mengatakan bahwa hanya cahaya yang bisa membuka pintu ini, dan membuat Zen semakin bingung dibuatnya.


“Ya... ya.. aku tahu cahaya bisa membuka pintu ini. Tetapi apa yang harus aku lakukan?” kata Zen yang mengeluarkan bola cahayanya kembali, untuk membantunya mencari detail penting bagaimana cara membuka pintu besar dihadapannya itu.


Walaupun terdapat cahaya menerangi ruangan itu, tetap saja daerah itu masihlah lumayan gelap. Jadi, Zen mengeluarkan kembali bola cahayanya dan mulai menerangi berbagai area dipintu didepannya untuk mencari detail penting didalamnya.


“Hm... gambar apa ini?” gumam Zen, setelah bola cahayanya terhenti tepat pada sebuah gambar.


Sebuah gambar seorang wanita yang memegang sebuah bola bisa terlihat tergambar pada bagian sedikit keatas daripintu itu. Tetapi Zen masih tidak mengerti mahsut gambar itu dan terus mencari detail yang mungkin bisa membantunya.


Dengan bola cahaya membantu penerangannya, dia mulai menerangi gambar bola yang dipegang seorang wanita. Namun tiba - tiba saja, elemen cahaya yang dia tanamkan pada bola cahaya miliknya, mulai terhisap pada gambar bola yang dipegang wanita itu saat Zen meneranginya.


“Tunggu, apakah aku harus mengalirkan elemen cahaya pada gambar bola ini?” gumam Zen saat melihat bola cahayanya sudah mati, karena elemen cahaya yang dia tanamkannya pada bola cahaya yang digenggamnya sepenuhnya habis terhisap.


Melihat itu, Zen mulai menggunakan elemen cahayanya pada gambar bola itu, dan perlahan elemen cahaya yang dimilikinya tersedot kedalam dan membuat pintu besar itu mulai bergetar dan perlahan terbuka sedikit.


“Ini berhasil” kata Zen setelah melihat pintu didepannya mulai bergerak.


“Tunggu, bukankah saat aku melewati jalan tadi, aku tidak menemukan monster apapun? Mengapa saat ini banyak langkah kaki mengarah kearahku dari jalan yang sudah kulalui?” kata Zen yang merasa kebingungan.


Langkah cepat beberapa undead seperti yang pernah dia lawan sebelumnya, mulai mendekatinya. Tetapi apa yang dilihat Zen membuat kakinya seketika gemetar, karena penglihatannya saat ini melihat ratusan bahkan mungkin ribuan undead yang mendekatinya.


“Sial aku tidak ingin mati” kata Zen yang ingin terburu – buru berlari kedalam pintu yang terbuka itu.


Namun sebelum dia masuk, para undead itu tiba – tiba saja berlutut didepannya. Hal ini tentu saja membuat Zen sangat bingung dengan apa yang dilihatnya, tetapi salah satu undead yang masih berdiri perlahan mendekat kearahnya.


Melihat itu, Zen tetap waspada dan mengeluarkan pedang lusuhnya dan menodongkannya kedepan dan menunggu undead itu mendekati dirinya. Undead itu terus mendekat kearah Zen dengan perlahan, lalu berhenti tepat didepan ujung pedang dari Zen dan mengeluarkan sesuatu.


“Sebuah gulungan?” gumam Zen saat melihat undead itu menyodorkan sesuatu kepadanya.


Dengan hati – hati, Zen memasukan pedangnya kedalam inventory miliknya dan mengambil gulungan itu. Dengan bantuan mulutnya, dia mulai membuka ikatan dari gulungan itu dan melihat isi dari gulungan tersebut.


Ternyata didalamnya berisi dua buah gulungan yang menumpuk secara langsung, yang dimana salah satunya merupakan sebuah gulungan berisiskan tulisan dan satunya lagi merupakan sebuah tehnik skill.

__ADS_1


Melihat ini, Zen mulai membaca tulisan itu terlebih dahulu, karena mungkin hal itu akan menjelaskan apa yang sebenarnya dia alami saat ini.


[Jika anda membaca tulisan ini, berarti anda merupakan seorang yang diramalkan akan datang ketempat ini. Mungkin banyak pertanyaan yang ingin anda tanyakan, tetapi maafkan saya karena hanya bisa memberikan pesan ini, sebagai jawaban dari semua pertanyaan yang ingin anda lontarkan.


Pasti anda sangat bingung, mengapa para Undead yang berada dihadapan anda, semuanya berlutut. Itu dikarenakan saya memprogram mereka menjadi seperti itu, untuk tidak menyerang seseorang pemilik elemen cahaya yang memasuki Hidden Dungeon yang diciptakan oleh sahabat saya.]


“Hm.. jadi karena ini aku tidak diserang” kata Zen sambil menatap para undead yang masih berlutut dihadapannya. Mungkin karena dia memasuki tempat ini menggunakan bola cahaya yang dia ciptakan dari elemen cahaya, membuat dirinya tidak diserang oleh mereka.


“Tetapi saat aku melawan musuh sebelumnya, bukankah dia dengan jelas melihatku menggunakan elemen cahayaku, lalu mengapa dia menyerangku?” kata Zen kemudian, karena dengan jelas Zen menggunakan skill healnya tadi.


“Apakah monster yang kulawan itu rabun?” gumam Zen yang bingung dan kembali membaca lanjutan dari surat yang dipegangnya itu


[Dibalik pintu besar itu, saya menyegel sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Mungkin sebagian besar hidden dungeon diciptakan untuk mengurung seorang kriminal atau sesuatu yang berbahaya, tetapi apa yang saya kurung bukanlah hal seperti itu.


Saya mengurung cahaya dari kehidupan diriku dan istriku yaitu darah daging kami sendiri karena terpaksa untuk melindunginya, dari pemberontakan yang akan terjadi dan membantai seluruh ras kami. Jadi dengan surat ini, saya mohon kabulkanlah permintaan saya yang tidak tahu malu ini. Tolonglah lepaskan segel yang mengurung putri kami dan rawatlah dirinya dengan baik.


Jujur saja, ramalan yang saya terima hanya terbatas tentang pembantaian ras kami dan anda yang akan menyelamatkan darah daging kami itu. Tetapi saya yakin anda merupakan orang yang cocok menggantikan diri saya dan istri saya untuk merawatnya.


Yang kami inginkan hanya kehidupannya yang tenang dan bahagia, saya harap anda bisa mengabulkan permintaan kami yang tidak tahu malu ini. Tenang saja, kami sudah menyiapkan beberapa hadiah dan beberapa harta untuk membantu anda merawatnya pada sebuah ruangan tepat dibelakang altar yang menyegel darah daging kami.


Sekian tulisan ini saya tuliskan dengan penuh permohonan bagi anda yang membaca ini.


Raja Kerajaan Blanchard


Vlad S. Blanchard II]


Zen yang selesai membaca tulisan pada gulungan yang diterimanya itu, masih mencoba mencerna kata – kata yang tercantum didalamnya.


“Diramalkan? Mahsutnya aku?” gumam Zen setelah akan kembali membaca surat itu kembali, karena dia masih bingung apa mahsutnya dengan ramalan yang tertulis dalam gulungan tersebut.


Tetapi sebelum dia mencoba meneliti kembali isi surat itu, sebuah suara menggema mulai terdengar dari balik pintu besar yang sebelumnya dia buka.


“M-Mama kamu dimana?!”

__ADS_1


__ADS_2