
Zen cukup senang dengan peningkatan level petualangnya yang sudah mencapai peringkat B. Hal ini dikarenakan semua poin yang dia dapatkan melawan berbagai monster, tidak terbagi karena dirinya memang berpetualang sendirian.
Jadi tidak heran bahwa peringkat petualang Zen akan cepat meningkat, walaupun untuk naik menuju peringkat A dirinya membutuhkan sebuah evaluasi, selain mengumpulkan beberapa poin yang cukup untuk naik peringkat selanjutnya.
“Terima kasih” ucap Zen dan menerima semua bayaran yang dia terima, lalu mengambil kartu petualang dan kontrak ekslusif bersama Tina, lalu bersiap beranjak dari sana setelah dirinya berpamitan dengan resepsionis cantik yang membantunya tadi.
Tina juga mulai mengikuti langkah Zen meninggalkan tempat itu, setelah dirinya juga sudah mengambil bayarannya. Sebenarnya Tina ingin protes tentang pembayarannya, namun Zen saat ini sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.
“Kak.. bukankah ini kebanyakan?” ucap Tina yang mendapatkan 7 buah koin platinum, 92 koin emas, 1 koin perak dan 14 koin perunggu dari bayaran yang dirinya terima.
Memang karena dirinya hanya mengikuti Zen selama enam hari, jadi bayarannya hanya sebanyak itu. Namun penghasilan yang dirinya dapat dari mengikuti Zen, seperti mendapatkan penghasilan mengikuti seorang petualang pemula selama beberapa tahun.
Jadi menurut Tina, pembayaran yang dia terima sangatlah berlebihan dan ingin mengembalikan kepada Zen, untuk menyesuaikan bayaran yang seharusnya dirinya dapatkan. Terlebih lagi Zen selalu menanggung persoalan makan dan penginapan untuknya.
“Apanya yang kebanyakan? bukankah setiap kelompok harus membagi rata penghasilan mereka?” ucap Zen.
“Tetapi aku hanyalah seorang porter Kak, tidak seperti Kakak yang melawan semua monster yang Kakak kalahkan. Bahkan tugasku kadang-kadang Kakak kerjakan” balas Tina yang bersikeras bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan bayaran sebanyak itu.
“Mau kamu seorang porter, support atau apapun itu. Jika kamu berada di kelompokku, bayarannya akan dibagi secara merata. Jadi memang sudah sepatutnya dirimu dibayar seperti itu saat sedang berpetualang bersamaku” ucap Zen kemudian.
Menurut Zen, baik tugas dari salah satu anggota dari kelompoknya dianggap sangat mudah, tetap saja mereka mempunyai kontribusi dalam kelompok tersebut. Jadi Zen harus membayar mereka dengan pantas, yaitu membagi rata pembayaran yang dia terima.
Tentu Tina terus menolak menerima uang yang sangat banyak dan sudah dia pegang itu. Namun Zen terus bersikeras bahwa itulah bayaran yang dirinya terima. Jadi mau tidak mau Tina menerima pembayaran itu dengan perasaan yang terpaksa.
“Anak pintar. Lagipula kamu sangat aneh, mengapa uang banyak seperti itu kamu tolak?” ucap Zen.
“Karena kebanyakan Kak” ucap Tina kemudian.
“Kalau Kakak berada di posisimu, Kakak akan menerimanya dengan senang hati. Menurut Kakak, jangan membuang semua kesempatan yang kamu temukan, karena mungkin kesempatan itu tidak akan pernah datang kembali.” Jelas Zen sambil memimpin perjalanan bersama Tina menuju sebuah tempat.
“Kesempatan?” balas Tina kemudian yang belum mengerti sepenuhnya perkataan dari Kakaknya itu.
__ADS_1
“Iya... Kesempatan untuk menjalani kehidupanmu yang lebih baik. Apakah kamu ingin selalu kelaparan dan terus hidup dengan tidak layak?” balas Zen.
Memang pembayaran yang diterima oleh Tina dari Zen merupakan upah terbesarnya selama menjadi seorang porter. Bahkan sudah beberapa tahun dia menggeluti pekerjaan ini, tetapi dipastikan penghasilannya selama ini tidak akan mencapai upah yang dia terima saat ini jika dijumlahkan.
“K-Kalau begitu aku akan menerimanya Kak” balas Tina yang terpaksa menerima pembayaran yang diberikan oleh Zen.
Zen hanya tersenyum saja mendengar Tina sudah mulai menerima upah dari hasil kerja kerasnya itu, karena memang itulah yang diharapkan oleh Zen. Dirinya menganggap Tina seperti Yui, yaitu seperti adiknya sendiri. Jadi dirinya tidak mau salah satu adiknya menjalani kehidupan yang tragis.
“Lalu kita akan kemana Kak?” tanya Tina kemudian yang sudah memasukan seluruh koinnya kedalam sebuah store gem miliknya yang dirinya terima dari Zen.
“Ikuti saja aku” balas Zen.
.
.
Disisi lain, seorang wanita saat ini dengan sabar menunggu seorang pria yang seharusnya sudah kembali ketempat ini hari ini. Namun ternyata batang hidung dari pria tersebut belum juga nampak, dan membuat wanita itu sudah kehilangan kesabarannya untuk menantinya disini.
“Hm... dirinyalah pangeran itu sayang?” ucap seorang pria yang berada disebelahnya.
“Yap..” jawab wanita tersebut dengan senyum yang terukir diwajahnya.
Pria berlengan satu yang dinantinya itu saat ini berjalan bersama seorang gadis berumur 10 tahunan. Setelah melihat keberadaan wanita yang menunggunya itu, pria itu menggunakan lengannya untuk melambaikan tangannya kepadanya.
“Aku kembali Mira” ucap pria itu yang merupakan Zen, setelah melihat wanita yang dikenalnya sedang berdiri didepan penginapan yang dimilikinya.
“Hm... selamat datang kembali. ” balas wanita cantik itu membalas sapaan dari Zen dan menyambut Zen yang saat ini sudah mendekat kearahnya.
Zen cukup senang ada orang yang menantinya kembali dan membuatnya sedikit merasa terharu karena dirinya mengingat tentang kehidupannya yang terdahulu, yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya saat ini.
“Perkenalkan ini tunanganku Meso” ucap Mira memperkenalkan tunangannya kepada Zen.
__ADS_1
“Ah... bukankah anda yang menolong saya saat berada di desa Pina Tuan?” tanya Zen yang mengenali pria yang dikenalkan oleh Mira.
Memang pria yang bernama Meso itu merupakan salah satu anggota party dari Lucas, dan dirinya saat ini masih sering berpetualang untuk mengambil beberapa misi dari Guild Petualang. Jadi walaupun kelompoknya sudah bubar, dirinya masih sering bekerja dan juga saat ini sudah bertunangan dengan sesama rekan kelompoknya.
“Wow... aku sangat terhormat dikenal oleh pria yang mempunyai elemen cahaya” balasnya.
“Saya yang merasa terhormat Tuan, karena mengenal anda” balas Zen kemudian.
“Jangan panggil tuan kepadaku. Walaupun umurku lebih tua dari Mira, kamu bisa memanggilku dengan Meso saja seperti kamu memanggil dirinya dengan akrab” ucap Meso kepada Zen.
“Baiklah kalau begitu Meso, dan perkenalkan ini Adikku Tina” ucap Zen.
Tina dengan malu-malu membungkuk dihadapan kedua orang yang baru saja dia temui itu. Tentu Tina mengetahui siapa mereka berdua, karena mereka berdua merupakan salah satu dari beberapa orang yang sangat terkenal yang berada di wilayah ini.
Jadi, Tina merasa gugup bertemu dengan orang seterkenal mereka, namun berusaha sebisa mungkin untuk tidak salah dalam bertingkah, agar dirinya tidak mempermalukan Kakaknya yang sudah mengenalkan dirinya kepada mereka.
“Tina ya... nama yang cocok untuk gadis seimut dirimu” balas Mira yang menepuk ringan kepala dari Tina.
“T-Terima kasih N-Nona Mira” balas Tina yang merasa senang saat dipuji oleh Mira.
Memang penampilan Tina saat ini sudah berubah sepenuhnya dari penampilannya sebelumnya, yang dimana dirinya saat ini lebih terawat dengan pakaiannya yang selalu bersih saat dikenakan olehnya.
“Lalu, kapan kamu akan kembali menuju Kota Vermillion?” tanya Mira kemudian.
“Aku bisa langsung berangkat sekarang” balas Zen, karena memang dirinya juga ingin dengan cepat menyelesaikan permasalahan putri dari Lucas.
“Baiklah, kudamu sudah aku persiapkan dan kita akan berangkat satu jam lagi” ucap Meso kemudian.
“Kita?” Balas Zen yang tidak mengerti, apa yang dimaksud dengan Kita yang diucapkan oleh Meso
“Ya.. kami berdua juga ikut bersamamu menuju Ibukota”
__ADS_1