Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Memulai Berlatih


__ADS_3

Zen sudah membawa sebuah panci yang berisikan sup ayam buatannya, dan meletakkannya di atas meja makan yang dimana Alice dan Yui sudah duduk dimeja makan itu. Yui sudah tidak sabar menunggu makanan yang dimasak Kakaknya, karena dia tahu masakan Kakaknya pastilah sangat lezat.


Disisi lain, Alice masih memperhatikan Zen, yang dimana Zen saat ini kembali ke dapur dan mengambil daging panggang yang dibelinya dan sudah di tatanya disebuah piring, lalu meletakkannya dimeja makan ditempatnya berada.


Tidak menghiraukan Alice yang masih menatapnya, Zen mengambil mangkok milik adiknya dan mengisinya dengan sup ayam buatannya.


“Tambah lagi Kak” Protes Yui setelah melihat Zen hanya mengisi mangkoknya dengan sip yang sedikit.


“Habiskanlah dulu, setelah itu kamu bisa menambah lagi” kata Zen sambil menaruh sepotong daging ayam besar kedalam mangkok dari Yui.


“Kamu tidak makan Alice?” tanya Zen yang melirik kearah Alice, sambil menaruh mangkuk adiknya yang sudah penuh dengan makanan, tepat didepan Yui yang sudah tidak sabar menyantap masakan Kakaknya.


Memang saat pertarungan mereka sebelumnya, Alice dan Zen sudah mulai akrab dan mulai berbicara dengan santai diantara mereka berdua, tanpa ada embel – embel seperti nona dan sebagainya. Maka dari itu, saat ini Zen memanggilnya dengan menyebutkan namanya saja.


“Ah.. Iya” kata Alice yang terlihat jelas ekspresi penasaran dengan apa yang dia pikirkan sebelumnya, belum menghilang dari benaknya.


Mendengar jawaban Alice yang sedikit linglung, Zen hanya tersenyum saja dan mulai menyendokan makanannya sendiri kedalam mangkoknya dan mulai duduk dihadapan kedua wanita yang dimana salah satunya sedang melahap makanannya dengan sangat lahap.


“Sepertinya kamu sedikit terkejut melihat keadaanku Alice” kata Zen sambil menyuapkan sepotong daging ayam kedalam mulutnya.


“Aku hanya terkejut saja, bahwa kamu akan siuman secepat ini,karena menurut ahli yang merawatmu, kamu akan siuman selama sebulan” kata Alice yang sudah menyendokan makanan kedalam mangkoknya dari panci yang berisi sup ayam buatan Zen.


“Apakah kamu lupa aku mempunyai elemen cahaya?” kata Zen yang beralasan, karena dirinya juga tidak tahu, mengapa dirinya siuman lebih cepat dari perkataan orang yang memeriksanya.


“Benar juga” kata Alice yang akhirnya mendapatkan alasan yang logis tentang apa yang dialami Zen.


Alice mulai menyuapkan makanan yang diambilnya tadi, dan matanya langsung membulat dengan sempurna, karena dia sangat terkejut dengan rasa makanan yang dia sedang santap itu.


Dia kembali menyendokan kembali makanannya kedalam mulutnya, dan memastikan bahwa apa yang dia rasakan itu memang sangat lezat. Tetapi semakin dia memakan makanan yang dimasak Zen, rasanya semakin lezat dan membuatnya ketagihan.


“Kakak, aku mau nambah” kata Yui yang dimana mangkok yang digunakannya sudah tidak tersisa apapun didalamnya.


Zen yang mendengar itu, hanya mengambil mangkok dari adiknya dan menyendokan kembali sup yang dia masak, dan tidak lupa memasukan beberapa potongan daging ayam yang besar kedalamnya.

__ADS_1


“Enak bukan Kak Alice” kata Yui yang menatap Alice sedang menyantap makanannya dengan lahap.


Alice tidak menjawab dan hanya mengangguk saja dan terus menyantap makanannya, hingga Yui menerima kembali mangkok miliknya yang sudah berisi sup buatan Kakaknya dan kembali melahapnya.


“Hm... memang masakan Kakak yang terbaik” balas Yui.


Yui sudah menduga masakan Kakaknya akan sangat enak, karena saat masih berpetualang didalam hutan, Zen memasak makanan mereka dengan bumbu yang seadanya, yang hanya ditemukan didalam hutan dan rasanya sangat enak.


Jadi, saat Kakaknya mendapatkan bumbu yang sesuai saat membelinya tadi disebuah pasar, Yui sudah dapat memprediksi bahwa masakan Kakaknya akan sangat enak, dan membuatnya sangat senang bisa menyantapnya.


“Ah... habis” begitulah perkataan Alice didalam benaknya dan menyadari mangkoknya sudah kosong. Dia ingin menambah makanannya, tetapi dia sedikit malu untuk melakukannya.


“Apakah kamu tidak ingin menambah makananmu Alice?” kata Zen kemudian, saat melihat wanita didepannya sudah menghabiskan makanannya.


“A-Aku sudah kenyang” balasnya beralasan.


“Benarkah... padahal aku sudah memasak banyak” balas Zen dan memutuskan untuk memakan lagi makanannya.


“Biar Yui yang habiskan Kak” kata Yui yang kembali memasukan sepotong besar daging ayam didalam mulutnya.


“Ah Iya Alice.. Aku ingin meminta tolong kepadamu” kata Zen.


“Kamu mau minta tolong tentang apa?” tanya Alice kepada Zen kemudian.


“Membantuku latihan”


.


.


Zen sudah menyelesaikan latihan paginya, yang dimana dirinya mulai berlari melalui area rumah dari Alice, lalu melakukan beberapa latihan fisik. Saat ini dia mencoba untuk mempelajari skill Mana Absorb terlebih dahulu, sebelum Alice kembali dari tempat dia mengajar.


Alice bersedia membantu Zen untuk membantunya berlatih, tetapi dia hanya bisa melakukannya setelah dia selesai mengajar, baru dia bisa membantu Zen. Tentu saja Zen menerima hal tersebut dan akhirnya memutuskan untuk melatih hal yang lain, sebelum Alice kembali.

__ADS_1


“Membuka pori – pori khusus” gumam Zen yang mulai duduk bersila dan memfokuskan pikirannya.


Zen saat ini akan memfokuskan membuka pori – pori khusus yang ada di telapak tangannya terlebih dahulu, yang berguna untuk membantunya menyerap mana dari sesuatu yang disentuhnya.


“Baiklah mari berkosentrasi” kata Zen.


Untuk membuka pori – pori yang di maksud, Zen pertama harus merasakan dimana letak pori – pori itu terlebih dahulu. Yang membuat ini sangat susah, sangat sulit untuk merasakan sebuah lubang yang sangat kecil yang berada ditubuhnya.


Dua jam sudah dia melakukan ini, tetapi dia baru bisa merasakan sekitar 50 pori – pori saja, dari ratusan yang berada di telapak tangannya. Tetapi dia mulai terbiasa menemukannya, dan membuat peningkatan dalam menemukannya mulai semakin cepat.


Zen terus berkonsentrasi, hingga adiknya mendatangi tempat dirinya berada, yang dimana saat ini Zen sedang berada dibelakang halaman kediaman dari Alice.


“Kakak aku lapar” katanya.


Memang hari sudah mulai siang, yang menandakan beberapa saat lagi sudah masuk kedalam waktu makan siang. Tentu saja Zen yang mendengar bahwa adiknya sudah lapar, mulai mengajak Yui masuk kedalam rumah dan memasakkan sesuatu.


Beberapa waktu sudah berlalu, Zen saat ini sudah berdiri berhadapan dengan Alice, yang dimana saat ini Alice sudah menggunakan pakaian latihannya. Alice masih belum tahu apa yang harus dia lakukan untuk membantu Zen, jadi dia menunggu instruksinya.


“Lukai aku dengan elemen esmu” kata Zen kemudian.


“Apa?!” kata Alice yang kebingungan saat mendengar Zen menyuruhnya melukai dirinya.


“Aku membutuhkanmu untuk melukai diriku, agar aku bisa melatih skill Regenerasiku” kata Zen.


“Tapi aku masih belum mengerti mengapa harus melukaimu?” tanya Alice kemudian.


Zen lalu menjelaskan tentang skill Regeneration miliknya, dan bagaimana cara meningkatkan kemampuan dari skill tersebut. Alice perlahan mulai paham dengan perkataan Zen, tetapi dia masih tidak menyukai ide untuk melukai dirinya.


“Pastikan untuk membuat luka yang banyak di seluruh tubuhku oke” kata Zen kemudian.


“Ck... baiklah, tetapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu kepadamu oke” kata Alice yang akhirnya menyetujui permintaan dari Zen tersebut.


Partikel Es perlahan mulai terkumpul di telapak tangan Alice. Sedikit demi sedikit, es ditangannya mulai berkumpul dan menjadi sebuah bongkahan kecil, yang dimana beberapa ujungnya mulai menajam seperti jarum.

__ADS_1


Dengan menghembuskan nafas panjang, Alice lalu menatap Zen yang sudah bersiap, dan langsung melemparkan skillnya itu kearah Zen dengan cepat.


“Arghhhhhh.....”


__ADS_2