
Suasana area terlarang yang dimana pergerakan monster didalamnya mulai bringas menjadi hal yang diwaspadai oleh 4 Kerajaan yang dimana wilayah mereka berbatasan langsung dengan area terlarang.
Kerajaan Enex saat ini sudah mengirimkan beberapa pasukannya untuk bersiaga agar para monster yang berada didalam area terlarang tidak keluar dari tempatnya, dan menghancurkan beberapa Desa yang tidak jauh dari wilayah kerajaannya.
“Hahh... mengapa bencana selalu menghantui kerajaan kita” kata Raja Maeloch, Raja dari Kerajaan Enex yang kepalanya saat ini seakan ingin meledak dengan beragam kejadian yang menimpa Kerajaannya.
Enex saat ini berhasil menghalau tekanan dari Kerajaan Heilight dengan memberikan beberapa kompensasi yang besar kepada Kerajaan tersebut. Namun saat ini kejadian baru kembali muncul yang dimana area terlarang pada wilayah mereka mulai tidak terkendali.
“Sabarlah suamiku, aku yakin semua ini akan berakhir” balas permaisurinya yang masih setia membantunya menghadapi semua permasalahan ini.
“Aku tahu istriku... andai saja waktu itu aku berperilaku dengan baik” balas Raja Maeloch yang memikirkan kejadian tentang Zen sebelumnya.
“Sudahlah, lagipula bukankah utusan yang kita kirim untuk bertemu dengan Pangeran Zen akan kembali” balas Permaisuri Kerajaan Enex itu kembali.
“Ya... tetapi sepertinya mereka tidak bisa meyakinkan sang Pangeran untuk kembali” balas sang Raja.
Memang berita Zen yang tidak ingin kembali menuju kerajan Enex sudah sampai ditelinga Raja Maeloch, dan semua anggota keluarga kerajaannya. Mereka sangat menyayangkan bahwa Zen tidak ingin kembali menuju kerajaan Enex.
Sang Permaisuri yang merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi kepada pria yang sebenarnya sangat dia dukung untuk menikahi putrinya itu, juga menyayangkan bahwa Zen tidak ingin kembali. Tetapi dirinya hanya menerima keputusan Zen dengan lapang dada saja apalagi dirinya melihat putrinya Aghni merasa sangat menyesal dengan tindakannya.
“Biarkanlah sang pangeran terbang menggunakan kedua sayapnya sendiri, siapa tahu ranting yang dulu pernah dirinya hinggapi, akan membuatnya kembali.” Kata sang permaisuri yang sebenarnya sangat berharap Zen untuk kembali.
Ditempat lain tetapi masih didalam wilayah keistanaan Kerajaan Enex. Putri paling muda kerajaan ini, Yaitu putri Anne saat ini sedang berlatih dengan serius. Dengan mengayunkan pedangnya secara terus menerus, dia mencoba untuk menjadi lebih kuat saat ini.
Anehnya, tidak seperti para bangsawan tingkat tinggi dan anggota kerajaan Enec yang lain, dia tidak memiliki kekuatan yang seharusnya terdapat didalam dirinya, yaitu berkah dari salah satu hewan suci Phoenix.
“Tidak apa – apa, Kata Kakak Agelia aku bisa menjadi kuat tanpa harus memiliki kekuatan Phoenix” Balas Putri Anne yang masih serius mengayunkan pedangnya.
Putri Angelia, atau Kakak sepupunya sudah meninggalkan kerajaan ini dua minggu yang lalu, setelah memeriksa sang pahlawan. Anehnya, Kakak sepupunya itu menyuruhnya untuk mewaspadai sang pahlawan.
Mengapa aneh menurut Anne, Karena Kakak sepupunya itu hanya memberitahukan kabar ini kepada Ibunya beserta dirinya saja, dan tidak memberitahukan hal tersebut kepada yang lainnya dan menyuruh mereka untuk merahasiakan apa yang dia katakan kepada siapapun.
__ADS_1
“Ya... benar kata Kak Angelia, aku harus menjadi kuat untuk melindungi apa yang aku sukai” balas putri Anne dengan tekat yang menggebu – gebu.
Sang Permaisuri dan Putri Anne tidak memahami maksud Putri Angelia yang hanya menyuruh mereka waspada dan tidak memberitahukannya kepada yang lain. Bahkan saat Putri Angelia mencoba melatih Putri Anne, dia tidak mengutarakan alasannya saat sang putri bertanya kepadanya.
“Hahhh...” dan begitulah suara seorang yang sedang berlatih itu terus berlanjut dan sudah membuang pemikirannya tentang perkataan Kakak Sepupunya.
Ditempat lain pada sebuah desa. Saat ini beberapa tentara dan petualang sudah memenuhi tempat tersebut, dimana mereka ditugaskan untuk menjaga wilayah ini dari monster yang mengamuk dan berasal dari area terlarang.
“Kita akhirnya kembali ke desa ini” balas seorang pria dengan full armornya, yang baru saja turun dari kereta kuda yang membawa beberapa petualang bersamanya.
“Benar Kapten” balas Ari yang cukup senang kembali ketempat ini.
Pria dan wanita yang sedang mengobrol itu merupakan sebuah party yang berasal dari kota Pavel, yang ditugaskan untuk datang kesebuah desa bernama Desa Pina, desa yang hampir saja hancur namun mereka berhasil selamatkan.
“Ya... coba saja Zen masih ada di kota Pavel, pasti dirinya bersama kita kembali ketempat ini” balas seorang wanita bernama Sif dan dibalas anggukan oleh semua rekan partynya.
“Hmm... aku tidak tahu dia sudah sampai dimana, tetapi membutuhkan satu bulan perjalanan menuju ibukota bukan?” balas rekannya yang bernama Ari.
Mereka saat ini sedang berjalan menuju sebuah tempat yang akan menjadi tempat mereka beristirahat. Namun diperjalanan mereka bertemu dengan seorang wanita berambut biru yang mereka sangat kenal, yang saat ini ingin menaiki sebuah kereta kuda yang akan membawa dirinya pergi.
“Nona Alice?” kata Sif mencoba menyapa wanita itu.
Tentu saja Wanita yang dipanggil Alice itu langsung menengok kearah asal suara yang memanggil namanya, dan sangat terkejut melihat empat orang yang dia kenali berada ditempat ini.
“Kalian? Mengapa kalian semua berada disini?” tanya Alice.
“Kami salah satu party yang ditugaskan untuk melindungi wilayah ini dari serangan Monster yang berasal dari Area Terlarang” balas Ari.
Memang desa Pina merupakan Desa yang paling dekat dengan Area terlarang, maka dari itu semua pasukan yang dimiliki kerajaan Raven akan berkumpul ditempat ini dan menjadikan desa ini sebagai pusat komando mereka.
“Ah benarkah... lalu apakah dia juga ikut bersama kalian?” tanya Alice yang berharap orang yang sudah lama dia tidak temui, datang ketempat ini.
__ADS_1
“Dia... Maksudmu Zen, dirinya sudah meninggalkan kota Pavel seminggu yang lalu dan menuju Ibukota” balas Bennard kemudian.
Mendengar hal tersebut, Alice langsung tertegun. Dia tidak percaya janji yang dia buat kepada Zen sebelumnya tidak ditepati olehnya, bahkan Zen tidak memberikan dirinya kabar apapun tentang keberangkatannya yang lebih awal menuju Ibukota.
“D-Dia sudah meninggalkan kota Pavel?” kata Alice yang mencoba mengkonfirmasi.
Memang Zen sudah berjanji untuk menunggu dirinya di Kota Pavel dan menuju ibukota bersamanya. Janji ini dibuat Zen, karena Alice memaksa menahannya di desa ini sampai masa magangnya berakhir dan akan berangkat bersamanya menuju Ibukota.
“T-Tetapi Yui juga tidak memberitahuku” balas Alice.
Alice dan Yui sering berkomunikasi dengan Communication Gem mereka, namun Yui tidak pernah menyingung tentang keberangkatan mereka menuju ke ibukota lebih cepat.
“Apakah kamu sudah melupakanku Zen” gumam Alice yang mulai merasa sangat sedih dengan kenyataan yang baru saja dirinya dengar.
“Ah iya Nona Alice, lalu anda mau pergi kemana?” tanya Sif kemudian yang melihat Alice akan menaiki sebuah kereta kuda.
Alice berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan perasaan sedihnya dan mencoba menjawab pertanyaan dari Sif yang dilontarkan kepadanya.
“Waktu magangku sudah berakhir, saat ini aku akan kembali menuju Ibukota membawa beberapa murid berbakat” jawab Alice sambil menunjukan beberapa anak kecil yang sudah berada didalam kereta yang akan membawanya.
Waktu magang Alice sudah berakhir, dan dia akhirnya bisa kembali ke Ibukota setelah berhasil menyelesaikan masa magangnya dan bersiap menempuh sebuah rintangan baru untuk menjadi seorang pengajar pada sebuah sekolah sihir terbesar di kerajaan ini.
“Benarkah... Padahal aku menuju desa ini berniat bertemu denganmu kembali“ balas Sif.
“Maafkan aku, aku tidak bisa tinggal lebih lama” balas Alice yang juga sebenarnya cukup sedih bahwa dirinya tida bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan orang - orang yang dikenalnya.
Mereka sempat mengobrol sedikit, walaupun seperti biasa Lexi hanya mendengarkan saja percakapan mereka, hingga akhirnya Alice sudah menaiki kereta yang ditumpanginya menuju Ibukota dan mulai beranjak dari sana setelah dirinya berpamitan dengan party dari Bennard.
Didalam kereta yang membawanya, Alice sekali lagi memikirkan perkataan dari para party petualang yang ditemuinya tentang Zen yang sudah pergi meninggalkannya. Sedih, itulah yang dirasakan Alice saat ini karena memang Zen tidak menepati janji yang dibuat bersamanya
“Cih... semua pria sama saja. ”
__ADS_1