Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Terlalu Mudah


__ADS_3

Tina terus berharap bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk yang akan menimpa Kakaknya. Setelah memasuki ruangan bos lantai tempat Kakaknya pergi tadi, satu-satunya harapannya adalah Kakaknya bisa kembali dengan selamat.


Tetapi karena mungkin harapan dari gadis kecil itu sangat tulus, sebuah pintu besar yang berada didepannya sudah terbuka kembali dan saat ini sudah terlihat seorang pria berlengan satu sudah keluar dari dalam ruangan tersebut.


“K-Kakak?” ucap Tina yang langsung mendekat kearah Zen.


Beberapa orang yang sebelumnya ramai saat ini mulai sunyi setelah pintu yang tertutup tadi mulai terbuka. Mereka sangat terkejut saat ini, karena seorang pria dengan langkah kakinya yang santai mulai keluar dari ruangan yang pintunya baru saja terbuka itu.


“Apakah dirinya berhasil?” tanya salah satu dari mereka.


“Tidak mungkin bukan. Apakah bos lantai itu belum spawn makanya dirinya keluar lagi?” balas seseorang kembali.


Namun tiba-tiba saja jam pasir yang berada disebelah pintu yang baru saja terbuka dan memunculkan sesosok pria dari dalamnya sudah mulai berjalan kembali. Hal itu menandakan bahwa monster yang didalamnya sudah mati, karena jam pasir itu akan menunjukan kapan bos lantai itu kembali muncul setelah dirinya berhasil dikalahkan.


Melihat hal tersebut, semua orang mulai terkejut karena memang mereka tidak menyangka bahwa Zen bisa mengalahkan sebuah bos lantai hanya seorang diri, dan membuat mereka saat ini hanya menatap dirinya dengan tatapan ketidak percayaan.


“Tenanglah, Kakak baik-baik saja” ucap Zen yang melihat Tina saat ini sudah berada didepannya.


Sambil mengelus lembut bagian kepalanya, Zen mencoba menenangkan gadis kecil yang terlihat sangat khawatir itu dan memastikan bahwa dirinya tidak apa-apa. Tina juga cukup lega dengan keadaan Kakaknya saat ini, karena keadaannya tidak seperti seseorang yang baru saja melakukan sebuah pertempuran.


“Kalau begitu ayo kembali” ucap Zen yang mengajak Tina pergi dari sana, karena memang hari ini Zen hanya berniat melawan sebuah bos lantai dan akan keluar dari dalam dungeon ini.


.


.


Zen dan Tina saat ini sudah bersiap keluar dari dalam penginapan mereka, karena saat ini mereka berniat untuk keluar dari tempat ini. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal pada kamarnya, Zen saat ini sudah keluar dari kamarnya diikuti oleh Tina.

__ADS_1


Setelah mereka mengembalikan kunci kamar penginapan mereka, Zen lalu berjalan menuju lingkaran teleportasi yang akan membawanya turun menuju lantai satu secara instan. Setelah menempelkan kartu petualang miliknya pada sebuah altar, akhirnya Zen mulai menghilang dari sana setelah dirinya mengatakan lokasi lantai yang dia pilih.


“Ha.... sudah lama Kakak tidak melihat cahaya matahari” ucap Zen.


Sudah hampir dua minggu Zen berada didalam Great Dungeon, dan saat berada didalamnya penerangan yang dia lihat hanya berasal dari cahaya yang berada didalamnya. Jadi saat ini matanya masih menyesuaikan cahaya matahari yang kembali menerpa dirinya.


“Tina juga Kak” ucap Tina yang menemani Zen hampir seminggu perjalanannya didalam sebuah dungeon, dan merasakan hal yang sama dengan apa yang sedang dirasakan oleh Zen.


“Baiklah, mari menuju Guild Petualang untuk membuat kontrak dan menyelesaikan pembayaran untukmu” ucap Zen yang mulai beranjak dari sana.


“Baik Kak” balas Tina yang mulai mengikuti langkah Kakaknya itu.


Akhirnya setelah mereka sudah bisa menyesuaikan penglihatan mereka dengan cahaya matahari yang menerpa mereka, Zen saat ini sudah berjalan berdampingan bersama Tina untuk menuju Guild Petualang.


Memang beberapa orang saat ini sedang menatap Zen terutama para petualang, karena memang rekam jejaknya saat memasuki sebuah Great Dungeon sudah tersebar dengan luas. Kabar tentang dirinya membunuh mini bos bahkan sebuah bos lantai sendirian sudah tersebar luas dan membuat heboh.


Hal ini dikarenakan pihak Guild Petualang diwajibkan mempublikasikan informasi tentang mini bos dan bos lantai secara umum. Termasuk siapa yang mengalahkannya, karena pihak kerajaan yang mempunyai Great Dungeon membuat peraturan seperti itu, agar rakyatnya mempunyai informasi apapun tentang kejadian yang terjadi didalam dungeon.


Seperti biasa, beberapa pasang mata mulai menatap kearah Zen, namun dirinya menghiraukannya dan saat ini berjalan menuju resepsionis yang sangat cantik yang Zen pernah dirinya temui, tetapi dirinya tidak sempat mengobrol dengannya dan hanya berbicara tentang perizinan untuk memasuki Great Dungeon.


Bahkan Zen belum mengetahui namanya, karena memang Zen saat itu ingin segera memasuki wilayah Great Dungeon secepat mungkin agar bisa meningkatkan kekuatannya.


“Halo nona, kita bertemu lagi” ucap Zen yang sudah mengeluarkan kartu petualang miliknya.


“Selamat datang kembali Tuan Zen. Sangat senang bisa melihatmu kembali” balas wanita cantik tersebut.


“Sama dengan saya nona. Sangat senang bisa bertemu denganmu kembali” balas Zen.

__ADS_1


Wanita cantik itu hanya tersenyum saja mendapatkan balasan perkataan dari Zen, lalu mulai mengambil kartu petualang miliknya dan menscan kartunya tersebut untuk memverifikasi data yang terdapat didalamnya.


“Apakah ada sesuatu yang akan anda jual, sebelum saya menjumlahkan keseluruhan hasil pendapatan anda yang anda jual melalui cabang Guild Petualang pada Great Dungeon?” tanya wanita itu kembali.


“Ah... saya ingin menjual tameng, tombak dan core dari bos lantai yang sudah saya kalahkan” jawab Zen yang mengeluarkan tiga buah benda itu dan menyerahkan kepada wanita didepannya.


Memang Zen belum sempat menjual ketiga benda tersebut, dan sekalian saja dirinya menjualnya ditempat ini.


“Hm... baiklah, total semua 56 koin Platinum, 9 koin emas, 23 koin Perak dan 88 koin Perunggu” ucap wanita itu dan mulai mengeluarkan semua koin yang menjadi bayaran Zen saat dirinya menjual semua hasil buruannya.


Memang Zen bisa menjual semua barang buruannya kepada Guild Petualang yang berada di setiap safe zone sebuah lantai, namun dirinya juga bisa menyimpan pembayarannya sehingga dirinya bisa menagihnya saat ini.


Hasil yang Zen terima hari ini merupakan total dari semua pembayaran dari seluruh barang yang dia jual, lalu terdata dalam kartu Petualang miliknya dan saat ini dirinya menagihnya karena memang Zen memutuskannya untuk menerima pembayarannya saat sudah keluar dari dalam Dungeon.


“Lalu, karena anda menyewa jasa porter selama enam hari, jadi selama enam hari akan dipotong sebanyak 10 persen dari pend-”


“Buat menjadi 50 persen” ucap Zen yang memotong perkataan dari gadis cantik didepannya.


“Maafkan saya tuan, bisa ulangi perkataan anda?” tanya wanita itu yang cukup terkejut dengan kalimat yang dilontarkan oleh Zen.


“Buat pembayaran untuk porterku menjadi 50 persen” ucap Zen.


Memang tidak ada peraturan tertulis tentang batas maksimal pembayaran seorang porter, kecuali batas minimal yang sebanyak 10%. Namun wanita itu cukup terkejut bahwa Zen membayarkan setengah hasil buruannya itu kepada porter yang berpetualang bersamanya.


“B-Baiklah tuan” balas wanita itu kembali dan mulai menyisikan pendapatan miliknya dari Tina.


Tina yang berada disebelah Zen juga sangat terkejut bahwa upahnya akan sebesar itu. Namun saat dirinya akan protes, Zen hanya menatapnya sambil menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa Tina tidak boleh menolak dengan ketentuan yang sudah dibuatnya.

__ADS_1


“Dan ini pembayaran anda, dan ini untuk nona porter anda. Lalu ini kartu petualang Anda. Dan selamat, anda sudah mencapai petualang Rank B” ucap wanita itu kembali.


“Rank B?”


__ADS_2