
Lucas Hile merupakan seorang mantan petualang peringkat S, yang saat ini sedang menatap seorang anak perempuan yang mengeluarkan aura elemen kegelapannya dan seakan mengancam mereka, karena apa yang terjadi dengan seorang pria yang mereka bawa ketempat ini.
“Menarik, seorang pemilik elemen cahaya dilindungi oleh pemilik elemen kegelapan yang kental” kata Lucas.
“Tetapi anak perempuan itu sangat imut bukan, sama seperti putri kita” tanya istrinya Lenneth kepadanya.
“Yap... sama seperti putri kita” kata Lucas yang terlihat sedikit sedih setelah pembicaraan tentang putrinya.
“Tenanglah Suamiku, kurasa pangeran itu bisa membantu kita nanti” kata Lenneth kepada suaminya itu, saat melihat raut wajahnya mulai berubah.
Lucas merupakan petualang peringkat S yang memutuskan pensiun, karena umurnya sudah menyentuh angka 42. Setelah dia mundur, dia memutuskan untuk menikahi salah satu anggota partynya yaitu Lenneth.
Mereka hidup dengan bahagia, hingga mempunyai seorang anak perempuan yang cantik. Tetapi hal buruk terjadi setelah anak perempuan mereka terkena penyakit langka, yang dimana hanya seorang pengguna elemen cahaya saja yang bisa menyembuhkannya.
“Semoga saja” balas Lucas.
Walaupun mereka sudah pensiun, tetapi sesekali mereka akan membantu menyelesaikan beberapa masalah dari Guild Petualang, termasuk menyelidiki kasus desa Pina ini.Dan begitulah bagaimana kelompok dari Lucas berada bisa ditempat ini.
Disisi lain, seorang anak perempuan yang dimana saat ini menatap beberapa orang yang datang bersama Kakaknya, terus mengeluarkan aura menyeramkannya walaupun aura itu masihlah lemah.
Dengan matanya yang sudah berubah sepenuhnya menjadi hitam dengan pupil matanya berubah menjadi warna merah menyala, dia seakan akan ingin membunuh siapapun yang membuat Kakaknya tidak sadarkan diri.
Walaupun dia menunjukan aura elemen kegelapannya, tidak membuat orang yang berada di sana menyerangnya. Walaupun elemen kegelapan merupakan elemen utama dari benua Karshi, tetapi pada benua Mevla terdapat beberapa orang mempunyai elemen tersebut.
Bahkan beberapa penduduk benua Karshi memilih mengungsi menuju benua Mevla, karena tingkat kesejahteraan benua Karshi sangatlah rendah, apalagi dalam otak para petinggi kerajaan di benua itu hanyalah kata peperangan dan menginvasi kerajaan lain.
Jadi, untuk melihat seseorang mempunyai elemen kegelapan di benua ini sangatlah lumrah, karena beberapa pengguna elemen kegelapan juga sangat terkenal di benua Mevla ini.
“Yui tenanglah oke, Kakakmu hanya kelelahan saja” kata Alice yang mencoba menenangkan Yui yang seakan ingin mengamuk.
“Katakan siapa yang melakukan ini kepada Kakakku!” Namun bukannya mendengar perkataan Alice, Yui malah berteriak kepadanya.
__ADS_1
“Yang melakukan ini pada Kakakmu sudah meninggal oke, jadi adik kecil cobalah untuk tenang” kata seorang manusia kelinci yang bernama Mira yang mencoba menenangkan Yui.
“Benarkah?” tanya Yui kembali dan dibalas anggukan oleh wanita kelinci yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Yui.
Perlahan aura pada tubuh Yui sudah mulai menghilang dan warna matanya sudah kembali seperti semula, walaupun pupilnya masih berwarna merah tetapi tidak segelap sebelumnya saat dia sedang marah.
.
.
Seminggu sudah berlalu, tetapi belum ada tanda bahwa Zen akan siuman. Tubuhnya sepenuhnya terlihat sangat sehat, bahkan tidak ada bekas luka apapun pada tubuhnya, tetapi tetap saja Zen belum sadar hingga saat ini.
Party yang dipimpin oleh Bennard juga sudah meninggalkan desa ini lima hari yang lalu, setelah tubuh mereka sembuh sepenuhnya. Bahkan party peringkat S yang menyelamatkan Zen, langsung kembali setelah membawa Zen kesebuah tempat untuk dirinya dirawat.
“Kakak kapan bangun... Yui ingin makan sate daging beruang” kata Yui kepada Kakaknya yang masih terbaring disebuah tempat tidur.
Memang tempat ini bukanlah penginapan tempat dimana Zen menginap sebelumnya, karena penginapan itu mengalami kerusakan dan sedang diperbaiki. Saat ini dia sedang berada di rumah yang ditempati oleh Alice yang dikhususkan untuknya karena dia magang di desa ini.
Yui tidak menjawab panggilan itu dan hanya fokus menjaga Kakaknya yang masih terlelap, hingga pintu kamar tempatnya berada mulai terbuka dan menunjukan seorang wanita berambut biru muda yang membawa beberapa makanan masuk kedalam.
“Makanlah dulu Yui” kata Alice yang mengeluarkan beberapa makanan dan memberikannya kepada Yui.
Yui hanya mengangguk dan meraih sebuah sate daging dan langsung memakannya. Walaupun dia tidak memakan selahap bersama Kakaknya, Yui masihlah berusaha untuk memakan makanan yang diberikan oleh Alice.
“Kakak masih punya beberapa sate daging, apakah kamu mau?” tanya Alice kemudian.
Yui hanya menggelengkan kepalanya dan mulai memakan makanan yang dia pegang saja dengan perlahan. Sebenarnya dia sangat tidak bernafsu untuk makan, tetapi karena bujukan dari Alice yang mengatakan bahwa Kakaknya tidak akan senang jika melihatnya sakit, membuatnya terpaksa memakan makanan itu.
“Kakakmu akan sadar oke, jadi bersabarlah” kata Alice yang menepuk ringan kepala dari Yui dan beranjak dari sana meninggalkannya.
Keesokan harinya, suasana pagi di desa ini mulai hidup karena permasalah desa ini sudah selesai. Alice yang harus pergi mengajar, akhirnya sudah bersiap dan akan berpamitan kepada Yui yang tidur dikamar tempat Zen berada.
__ADS_1
Setelah dia membuka pintu kamar tempat Yui berada, dia hanya melihat Yui saat ini sedang tertidur disebelah Zen sambil memeluk tangannya. Melihat itu, Alice hanya menaruh sarapan yang sudah dia beli tadi di meja sebelah tempat tidur dimana Yui sedang tertidur, lalu beranjak dari sana untuk pergi ketempat dia mengajar.
Setelah kepergian Alice, Yui masih terlelap dengan nyaman hingga sinar matahari mulai meninggi, dan cahayanya mulai memasuki kamar tempat Yui dan Kakaknya berada. Namun bukannya Yui yang terganggu, tetapi pria yang tidur disebelahnya.
“Ah... kepalaku masih sakit” kata Zen yang sudah siuman dari tidur panjangnya.
Zen sempat menoleh kearah sebelahnya dan melihat tangannya sedang dipeluk oleh Yui dan dengan perlahan mencoba melepaskan pelukan adiknya dengan perlahan, agar tidak mengganggu tidurnya. Tetapi gerakannya itu mengganggu Yui dan membuatnya mulai terbangun.
Saat mata Yui mulai terbuka, dia melihat dengan jelas bahwa Kakaknya saat ini menatapnya dan sedang tersenyum hangat kepadanya.
“Selamat pagi Yui” kata Zen.
Yui hanya menatap Zen, dan perlahan air matanya sudah terkumpul di kelopak matanya dan perlahan mulai jatuh dan mengalir melalui pipi imutnya.
“Uwaaaaaaaaaaaa.......... Kakak jangan tinggalkan Yui” katanya sambil menangis, dan langsung memeluk Zen dengan erat.
Zen sempat bingung dengan perilaku Yui, karena dia sebenarnya tidak mengerti mengapa adiknya menjadi seperti itu saat melihatnya.
“Baiklah, Kakak tidak akan meninggalkan Yui” kata Zen yang menenangkan adiknya yang sedang menangis sambil menepuk ringan kepalanya.
Yui masih menangis, dimana suara tangisannya teredam karena Yui masih memeluk Zen dengan erat, dan membuat suaranya tertahan karena wajahnya menempel pada pakaian yang dikenakan oleh Zen.
“Tenanglah oke... nanti Kakak belikan kamu makanan yang enak” kata Zen yang mencoba menenangkan adiknya yang masih menangis di pelukannya.
Tetapi apa yang dia lakukan tidak berhasil, dan Yui semakin memeluknya dengan erat dan tangisannya semakin menjadi. Bahkan baju Zen saat ini sudah mulai basah karena air mata Yui yang terus keluar dari matanya.
Zen tidak tahu harus berbuat apa, tetapi dia terus mencoba menenangkan adiknya itu dan menyuruhnya menghentikan tangisannya.
Dua jam Yui seperti itu, hingga akhirnya tangisannya mulai mereda. Saat ini Yui mulai terlelap kembali, dan Zen mulai melepaskan pelukan Yui dari tubuhnya dan membaringkannya ditempat tidur.
Dengan menaruh selimut menutupi tubuhnya, Zen lalu mengecup ringan kening Yui sebelum meregangkan tubuhnya, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
__ADS_1
“Ah aku ingat...”