Kehidupan Aneh Yang Kujalani

Kehidupan Aneh Yang Kujalani
Hari Biasa


__ADS_3

Seorang gadis kecil saat ini terlihat sedang memegang berbagai tusuk makanan, dimana bisa juga terlihat mulutnya yang mengembung karena penuh dengan makanan yang dia masukan kedalam mulutnya, sedang berjalan dengan santai mengelilingi berbagai stan makanan ditempat dirinya berada.


“Itwu sepwertinya ewnak Kak” kata gadis kecil tersebut dengan mulutnya yang dipenuhi makanan, setelah melihat kembali sebuah stan makanan yang menjual sate sebuah daging.


“Apa semua yang ditanganmu itu belum cukup?” tanya seorang pria remaja yang dengan setia menemani gadis kecil tersebut.


Pria yang bersamanya juga sedang memegang berbagai makanan, tetapi bukan untuk dimakan olehnya, melainkan memegang makanan yang dimiliki oleh gadis kecil itu, karena tangan mungil gadis kecil tersebut tidak cukup untuk memegang semua makanan yang sudah dibelinya.


“Tetapi itu terlihat enak” kata gadis kecil itu dengan lancar, setelah menelan habis makanan yang dimakannya, sambil menatap pria yang sudah dia anggap sebagai Kakaknya dengan wajah memohon.


“Baiklah – baiklah, tunggu disini oke, biar Kakak belikan” kata pria muda itu yang merupakan Zen yang mulai berjalan menuju kedai yang ditunjuk oleh adiknya Yui.


Hadiah yang dia dapatkan sebelumnya saat menyelamatkan Yui membuat Zen memiliki banyak harta, terutama koin emas yang ditemukannya ternyata masih berlaku didunia ini, karena koin yang berada diruangan tempat Yui terkurung bukan koin dari benua Karshi.


Entah bagaimana orang tua dari Yui mempunyai koin yang bukan berasal dari benua mereka, tetapi Zen tidak memperdulikannya. Karena yang terpenting, dirinya bisa hidup dengan layak bersama Yui, karena uang yang mereka miliki sangatlah banyak.


"Mari kita lanjutkan perjalanan kita" kata Zen yang sudah kembali dan membawa pesanan dari gadis kecil didepannya.


Walaupun dikatakan sebuah Desa, tetapi tempat ini bisa dibilang wilayah yang sedikit maju, karena beberapa tempat atau bangunan didalam desa ini bisa dibilang dibangun dengan bagus, dengan desain klasik yang sangat menawan.


Zen sedikit mulai paham dengan peradaban didunia ini, yang seperti abad pertengahan pada dua dunia yang pernah dia tinggali, dengan dilengkapi dengan sentuhan teknologi sihir yang lumayan maju.


“Hmm.... dunia yang cukup indah” gumam Zen, karena merasa dunia ini belum sepenuhnya terpengaruhi dengan namanya polusi, dan membuatnya nyaman untuk tinggal disini.


Sambil berkeliling disekitar pusat Desa Pina, Zen dan Yui yang melakukan wisata kuliner mereka, akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak pada sebuah bangku disebelah peternakan milik warga desa tersebut, sambil bersantai dan menikmati suasana ditempat itu.


“Tapi masakan Kakak masihlah yang terenak” kata Yui sambil bersandar dibangku tempatnya duduk.


Mendengar itu, Zen hanya tersenyum saja melihat raut wajah puas dari adiknya itu. Zen mulai mengambil sebuah sapu tangan, dan mulai membersihkan mulut dan tangan dari Yui yang dipenuhi sisa – sisa makanan yang menempel padanya, karena memang pada mulut dan tangan Yui terdapat banyak sekali bekas makanan yang menempel.


"Benarkah?" kata Zen kemudian yang sudah selesai membersihkan seluruh noda makanan pada mulut dan tangan Yui, dan dibalas anggukan oleh Adiknya tersebut.


Zen dan Yui mulai bersantai disana sambil mengobrol ringan, walaupun hanya Yui saja yang bersemangat menceritakan berbagai hal, termasuk rasa makanan yang dia santap sedari tadi, hingga tidak terasa matahari mulai tenggelam.

__ADS_1


“Mari kita mencari penginapan untuk beristirahat oke” kata Zen yang melihat hari sudah mulai gelap.


“Tapi aku sudah tidak kuat jalan Kak, bagaimana jika Kakak menggendong Yui?” kata Yui manja.


“Baiklah, ayo naik” balas Zen yang sudah bangun dari bangkunya dan berjongkok didepan Yui.


Yui tanpa pikir panjang langsung menaiki pungung Kakaknya. Namun saat dia berhasil naik, Zen mulai mengangkatnya dan menaruh dirinya dipundaknya yang langsung membuat Yui sangat senang, dan mulai memegang kepala Kakaknya sambil menikmati pemandangan desa Pina dari atas pundak Zen.


“Wow sangat tinggi” teriak Yui mulai menggema dan menjadi tanda bahwa mereka mulai berjalan mencari sebuah penginapan untuk bermalam.


Mereka berdua terus berjalan, hingga mereka menemukan sebuah penginapan dengan dua lantai, atas bantuan dari beberapa penduduk desa yang mereka tanyai sebelumnya. Sebelum masuk, Zen mulai menurunkan Yui karena minta diturunkan, dan bergegas memasuki tempat itu.


“Selamat datang tuan, apakah anda ingin menginap ditempat ini?” tanya seorang wanita berumur 40 tahunan yang menyambut mereka ditempat tersebut.


“Berapakah biaya permalam menginap disini bibi?” balas Zen kemudian.


“Hanya 7 koin perunggu permalam Tuan, dan tambahan 3 koin perunggu jika anda ingin paket sarapan pagi” kata wanita itu kembali.


Didunia ini, 1 buah koin silver setara dengan 100 koin perunggu dan 1 koin emas setara dengan 100 koin silver. Namun berbeda dengan 1 koin platinum yang seharga 10 koin emas. Dan Zen banyak memiliki koin – koin tersebut.


“Ah iya bibi, mengapa tempat ini sangat sepi?” tanya Zen setelah melihat penginapan yang lumayan besar ini, tetapi tidak mendapati orang didalamnya atau bisa dibilang sepi.


“Ah... karena kejadian yang terjadi didesa baru - baru ini, membuat pintu masuk didesa ini dijaga dengan ketat, dan tidak sembarang orang bisa memasukinya. Tidak seperti saat kejadian itu belum terjadi didesa ini, yang membuat beberapa orang bisa dengan bebas memasuki desa Pina ini kapan saja” balas sang pemilik.


Memang, desa ini menjadi tempat beberapa pihak seperti pemburu atau pencari tanaman obat untuk singgah. Tetapi karena kejadian didesa ini, membuat mereka tidak mau atau tidak bisa singgah, karena selain dimintai identitas, desa ini juga melarang beberapa orang yang singgah untuk membawa hasil buruan mereka masuk kedalam desa ini.


Tidak seperti sebelumnya, dimana mereka bisa dengan bebas membawa hasil buruan mereka dan meminta pihak penginapan untuk menitipkan sementara hasil buruan mereka, sebelum mereka memutuskan kembali menuju desa atau kota asal mereka.


“Memang kejadian apa yang menimpa desa ini bibi?” tanya Zen penasaran, walaupun dia sebenarnya sudah menebak kejadian apa yang sebenarnya terjadi, atas penuturan beberapa orang yang membantunya memasuki desa ini tadi.


“Hilangnya beberapa gadis desa, termasuk dua pegawai yang kumiliki” kata pemilik penginapan itu dengan menunjukan wajah yang sedih.


Dua gadis desa yang bekerja dipenginapannya, sudah bekerja dengan pemilik penginapan ini bahkan sedari mereka kecil. Jadi pemilik penginapan ini sangat sedih, ketika mendengar kabar bahwa kedua karyawannya itu menghilang atau diculik.

__ADS_1


“Aku turut prihatin atas apa yang anda alami saat ini Bibi” kata Zen yang turut prihatin mendengar kejadian tersebut.


Zen bukannya tidak ingin membantu, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Terlebih lagi, saat dia memasuki desa ini, beberapa petualang juga memasukinya dengan mahsut untuk menyelidiki hilangnya para gadis Desa Pina.


Jadi menurut Zen, dia tidak memiliki alasan apapun untuk ikut membantu, karena pihak desa juga sudah berupaya menyelesaikan permasalah desa ini dengan menyewa para petualang yang datang ketempat ini.


“Kalau begitu, aku akan menuju kamarku Bibi” kata Zen yang menggandeng Yui yang dengan tenang mendengarkan percakapan Zen dengan pemilik penginapan itu.


Dengan anggukan sopan dan mempersilahkan Zen meninggalkan tempat itu, Zen akhirnya mulai berjalan menuju lantai dua dari penginapan tersebut dan menuju kesebuah kamar yang sudah dia sewa bersama Yui. Setelah menemukan kamar yang ditujunya, Zen mulai menggunakan kunci lalu membuka pintu dari kamar yang dia sewa dan memasukinya.


“Apakah Kakak tidak ingin membantu mereka?” tanya Yui setelah dia duduk diatas salah satu kasur yang berada dikamar tersebut.


“Bukannya Kakak tidak mau membantu, tetapi kita harus mengetahui seluruh permasalahannya terlebih dahulu, agar apa yang kita lakukan tidak membahayakan diri kita sendiri Yui.” Balas Zen sambil memperhatikan fasilitas kamar yang disewanya.


“Bukankah kita hanya harus mencari orang yang menculik para gadis didesa ini dan mengalahkannya?” tanya Yui Kembali.


“Lalu, jika orang itu sangat kuat dan bisa membunuh Kakakmu ini bagaimana?” tanya Zen kemudian, sambil menatap adiknya yang sedang duduk diatas kasurnya.


Mendengar perkataan Zen, Yui langsung tertegun, karena perkataan Kakaknya itu ada benarnya. Dia pernah melihat Papa, Mama dan Kakaknya bertarung, dan kekuatan mereka melebihi kekuatan Kakaknya saat ini.


Yui tidak mau, Kakaknya yang bersamanya saat ini terlibat dengan orang – orang yang berkekuatan seperti keluarganya, yang pasti sangat banyak didunia ini, dan menyebabkan Kakaknya terluka atau binasa yang membuat dirinya kembali ditinggalkan.


“Kakak jangan membantu mereka oke, kita ditempat ini hanya berjalan – jalan saja, jadi jika terjadi sesuatu kita bisa langsung pergi dari sini.” Kata Yui sambil menggenggam tangan Kakaknya setelah berubah pikiran atas apa yang dia sampaikan tadi.


“Sudah Kakak bilang, kita harus mencari tahu permasalahannya terlebih dahulu baru kita bisa ikut campur, jadi jika Kakak merasa tempat ini berbahaya, Kakak pasti akan membawamu keluar dari tempat ini” kata Zen yang mulai menepuk pelan kepala dari Yui dan mencoba menenangkannya.


“Mm-Mm...” Balas Yui dengan mengangguk.


Memang didalam diri Zen, Zen mempunyai rasa keadilan dan kepedulian yang tinggi, tetapi dia saat ini mempunyai tanggung jawab, yaitu melindungi gadis kecil yang sudah dia anggap sebagai adiknya, agar tidak terjadi apa – apa kepadanya.


Jadi, Zen tidak ingin bertindak dengan gegabah dan lebih memilih untuk tidak ikut mencampuri semua permasalahan yang sedang terjadi disekitarnya, kecuali memang dirinyalah yang menjadi target dari permasalahan tersebut.


“Jadi, mari kita nikmati waktu kita berada didesa ini”

__ADS_1


__ADS_2