
Sinar matahari pagi mulai memasuki sela – sela tirai yang menutup jendela dari sebuah kamar, yang ditinggali oleh dua orang. Sinarnya itu sama sekali tidak mengganggu salah satu orang yang berada dikamar itu, bahkan orang tersebut masih terlelap dengan nyaman pada tempat tidurnya.
“Kakak... Kakak ayo bangun!” teriak salah satu gadis kecil yang mulai melompat – lompat pada kasur yang ditiduri oleh pria tersebut.
“Ayo bangun.... Bukankah Kakak berjanji untuk mencukur kumis, jengot dan rambut Kakak” teriaknya kembali.
Pria berlengan satu yang sedang terlelap itu, mulai terganggu dengan apa yang dilakukan oleh adiknya. Dia lalu mulai membuka matanya dan langsung meraih gadis kecil itu dan mulai mengelitiknya, untuk menghukumnya karena mengganggu tidurnya.
“Kakak.. Hahahaha.... J-Jangan... Geli... Hhaahaha!” teriak gadis kecil itu mengeliat.
Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang sedang dia kelitiki dan terus melakukan kegiatannya itu kepada adiknya, hingga adiknya memohon untuk menyudahi apa yang mereka lakukan itu.
“Kamu sudah mandi?” tanya Zen, karena melihat Yui dengan rambutnya yang masih basah.
“Ya... setelah aku bangun, aku langsung mandi” kata Yui, yang masih terbaring ditempat tidur dari Zen, setelah dirinya dikelitiki oleh Kakaknya tadi.
“Gadis pintar, sini biar Kakak keringkan rambutmu” kata Zen yang mulai menggendong Yui dan mendudukannya disebuah kursi.
Zen lalu menggunakan elemen anginnya, dan menggambungkan dengan panas dari elemen apinya dan membuat hembusan angin yang hangat, dan mulai mengarahkan sihirnya itu tepat dirambut adiknya yang basah.
“Hmmm..... sangat nyaman” kata Yui yang menikmati perbuatan Kakaknya itu sambil menutup matanya.
Zen hanya diam dan terus mengeringkan rambut berwarna emas milik adiknya itu hingga sepenuhnya kering, sebelum dirinya memutuskan untuk mandi dan bersiap memulai harinya didesa ini.
“Diamlah disini sebentar oke, Kakak akan mebersihkan diri terlebih dahulu, lalu kita turun dan sarapan sebelum mencari tempat pangkas rambut” kata Zen yang dibalas anggukan oleh Yui.
Zen lalu mulai membersihkan tubuhnya dan langsung membawa adiknya menuju ketempat makan milik restoran ini, setelah dia selesai membersihan diri dan mengganti piyamanya dengan mengenakan baju santainya.
Penginapan ini masihlah sepi, namun Zen bisa melihat empat orang sedang menikmati sarapan mereka, yang merupakan para petualang yang bersamanya kemarin. Zen tidak menyangka mereka akan menginap dipenginapan yang sama dengannya.
Melihat kedatangan Zen, mereka hanya menyapanya ringan sebelum Zen bersama Yui sudah duduk disebuah meja dan saling berhadapan lalu mulai memesan sarapan yang mereka inginkan.
“Maafkan aku tuan, tetapi sarapan hari ini hanya roti, telur dan beberapa daging panggang” kata bibi pemilik penginapan ini, yang sudah membawa dua buah piring berisiskan makanan.
“Tidak apa – apa bibi” kata Zen menerima kedua piring makanannya dan menaruhnya atas meja didepan Yui dan didepannya.
__ADS_1
“Lalu anda ingin minum apa tuan?” tanya bibi pemilik penginapan itu.
“Aku ingin secangkir teh, dan Yui kamu ingin minum apa?” tanya Zen kepada adiknya.
Memang setelah Zen menikmati teh yang diminumnya bersama Kakeknya dulu, dia langsung menyukainya dan membuat teh menjadi minuman favoritnya saat ini. Bahkan kemarin saat dia berkeliling bersama Yui, dia menyempatkan diri untuk mencari kedai minuman yang menyediakan teh.
“Susu!” teriak Yui bersemangat.
“Satu teh dan satu susu bibi” kata Zen sambil tersenyum.
“Maafkan aku tuan, tetapi karena keadaan desa saat ini dan membuat susu sangat langka, anda harus membayar 1 buah perunggu untuk bisa memesannya” kata pemilik penginapan itu.
“Ah... tentu saja tidak apa - apa” kata Zen yang mulai mengeluarkan sebuah koin perunggu dan memberikan kepada bibi pemilik penginapan itu.
“Kalau begitu, silahkan menikmati makanan anda dan saya akan membawa minuman anda sebentar lagi tuan” kata wanita itu dan mulai kembali kedapur.
Zen mulai menikmati sarapannya bersama Yui. Seperti biasa Yui sangat lahap memakan makanannya, hingga Zen memberikan sedikit makanannya kepadanya, yang entah mengapa dia sangat bahagia melihat pemandangan adiknya menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Setelah Yui menghabiskan semua makanannya, dia langsung meraih gelas susunya yang sudah dibawa oleh bibi pemilik penginapan ini, dan meminumnya sekali teguk sampai habis. Melihat itu, Zen hanya mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan bekas makanan dan susu pada mulutnya.
Zen sudah bertanya kepada pemilik penginapan ini tentang tempat pangkas rambut. Dan untung saja, didunia ini tempat seperti itu ada. Zen perlahan mulai menggandeng Yui meninggalkan tempat itu, dan beranjak dari sana menuju kearah tujuan mereka.
Zen sempat melewati beberapa petualang, yang sudah menyelesaikan sarapan mereka terlebih dahulu dan sedang bertanya sesuatu kepada pemilik penginapan ini. Zen sangat tahu tentang apa yang mereka bincangkan, tetapi Zen saat ini tidak ingin langsung ikut campur.
“Inikah tempatnya?” gumam Zen, yang melihat sebuah bangunan yang terdapat lambang gunting dan sisir pada pintu masuknya.
“Sepertinya ini tempatnya Kak” balas Yui.
Mereka akhirnya mulai memasuki tempat itu, dan melihat seorang pria paru baya menyambut mereka. Zen lalu dipersilahkan duduk dan pria tua pemilik tempat ini mulai melakukan tugasnya.
Yui yang duduk pada bangku khusus yang diperuntukkan untuk orang yang mengantar pelanggan, hanya mulai menggoyang – goyangkan kakinya, dan menunggu hasil dari Kakaknya yang sedang dipangkas rambutnya.
Rambut putih Zen perlahan mulai terjatuh kebawah, setelah pria paru baya yang memangkas rambutnya mulai memotong dan membentuk potongan rambutnya. Dan tidak terasa, sudah sejam berlalu setelah mereka memasuki tempat ini.
Sang pemangkas rambut yang menangani rambut Zen, saat ini sedang memastikan bahwa tidak ada bulu yang tersisa pada bagian dibawah hidung dan dagunya setelah selesai merapikan rambut putih Zen.
__ADS_1
Seorang pria tampan bisa terlihat dari balik cermin yang saat ini dilihat oleh Zen, yang memantulkan rupanya. Saat ini rambutnya sudah pendek dan seluruh kumis dan jenggot yang menutupi wajahnya dulu, sudah menghilang sepenuhnya.
Dengan mata birunya, Zen mulai melihat rupanya itu dan mulai tersenyum setelah pria yang melakukan semua ini untuknya mulai menyelesaikan tugasnya.
“Wah..... Kakak sangat tampan” Kata Yui, yang pertama kali melihat wajah Kakaknya itu tanpa terhalang bulu apapun.
“Tentu saja Kakak sangat tampan” kata Zen yang menyombongkan dirinya.
.
.
Ditempat lain, kejadian yang dialami oleh Desa ini kembali terjadi. Seorang gadis tadi malam dinyatakan hilang, setelah meminta izin pada orang tuanya untuk pergi kesebuah tempat, untuk bertemu seseorang katanya.
Saat ini, empat orang petualang yang sebelumnya sedang bertanya kepada pemilik penginapan dimana Zen tinggal, tentang hilangnya dua karyawannya langsung menuju kerumah dari gadis yang hilang itu.
“Hiks... Dia hanya meminta izin sebentar... hiks....” kata Ibu dari gadis yang hilang itu sambil menangis menceritakan kronologis anaknya menghilang.
“Lalu, apakah anda tahu keperluan apa yang membuatnya pergi setelah berpamitan dengan anda nyonya?” tanya Sif yang merupakan salah satu anggota party petualang yang ditugaskan menyelidiki kasus ini.
“D-Dia berkata ingin bertemu dengan seseorang sebentar... t-tetapi dia tidak kunjung pulang” balasnya.
“Apakah nyonya tahu kemana dia pergi?” tanya Bennard kemudian.
“Dia berkata ingin pergi kepenginapan Pina Jingga” kata Ibu dari korban tersebut.
Pernyataan ini membuat para petualang mulai menghela nafasnya, karena penginapan itu merupakan penginapan tempat mereka menginap, termasuk tempat dimana Zen dan Yui tinggal saat berada didesa ini.
“Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh tadi malam?” tanya Bennard kepada para anggota partynya.
“Aku tidak melihat sesuatu yang aneh, saat aku sedang berjaga tadi malam” balas Sif.
Memang tadi malam mereka memutuskan untuk memperhatikan area sekitar penginapan mereka menginap, dimana mereka akan membagi dua kelompok mereka untuk berjaga lalu sisanya beristirahat dan mereka melakukannya bergantian tadi malam.
“Lalu apakah kalian tidak merasakan sesuatu yang aneh dari tamu yang tinggal disana?”
__ADS_1